Posts

Showing posts with the label cerita biasa

Here I'm Back!

Image
Wow! It's been 3 years! Hahaha. I know no one will read this except me. But I am sooooooo excited to write again! After so many years of adapting myself into the new world of deep relationship, now here I am. I am ready to reflect my life in my blog posts. 3 years without any single blog post made me kinda lost. I don't feel fulfilled when I wrote any Instagram caption. I feel like I am too serious in that platform. When I post some poetic caption, one of my friend will expect that I am in love. Moreover, I can't show off anything in my life. I don't think that what I have can impress them much. But who cares by the way. Lol. What ever platforms I tried in the past, my feeling somehow is always missing my blog. I think I am going to try posting many silly posts, of course weird things as usual. My obsession into poetic words still remain the same, as well as my unstable emotion. It's a very nice to come back again to blogspot! Hopefully, this platform will...

Renungan Akhir Tahun

Image
Bulan September itu sangat berarti setiap tahunnya. Bukan hanya karena saya lahir di bulan itu, tapi juga karena di bulan itulah saya dan seluruh karyawan di kantor saya dinilai pencapaian tahunannya. Daaaan tahun ini tidak seperti tahun lalu ataupun tahun lalunya lagi. Pencapaian saya dibawah 100%. Sedih juga ya karena artinya bonus akhir tahun mungkin menyedihkan nominalnya. Tapi salah saya juga sih tidak sungguh-sungguh.  Berbicara tentang pengukuran akhir tahun, kebetulan di kantor saya bantu semua karyawan untuk level staff hingga manager dalam proses pengukurannya. Bantu-bantunya sederhana banget, cuma bantu mereka isi di sistem dan update semua progres semua formulir pengukuran beberapa saat sebelum deadline. Ya kurang lebih kayak customer service tapi urusannya khusus pengukuran kinerja dan target. Tambah-tambahnya sebagai orang yang dikomplain pertama kali kalau ada struktur organisasi yang gak seharusnya atau salah. Saya pribadi cenderung mudah sedih dan pasrah...

Dari Manusia

Kau tahu apa yang paling mengesalkan dari manusia? Pikirannya sendiri. Ia sibuk menduga-duga padahal seringkali kejadian nyata jauh dari dugaannya sebelumnya. Seringkali ia alpa bahwa dugaannya hanya membuat hatinya gundah gulana. Membuatnya hidupnya tak lebih baik dari sebelumnya.  Kau tahu apa yang paling membingungkan dari manusia? Perasaannya sendiri. Ia sibuk berkutat dengan perasaannya. Padahal ia sadar perasaan seperti gradasi warna yang bergerak dari warna terpekat menuju warna termuda. Bergerak dari sangat terasa hingga tak terasa sama sekali. Sibuk berjibaku meyakinkan dirinya sendiri dengan perasaan yang sebenarnya ia sudah tentukan diawal, dan mungkin bisa berubah hanya karena satu dua kejadian. Kau tahu apa yang paling menyedihkan dari manusia? Keraguannya pada diri sendiri. Membuat manusia hidup segan mati tak mau. Membuat manusia mundur selangkah dibandingkan macan tutul pincang yang berani menerkam cheetah di daratan Afrika sana. Membuat kemampuannya terkiki...

Pasca Resepsi

Beberapa waktu lalu saya membaca postingan seorang teman tentang pendapatnya atas sebuah artikel kehidupan pasca resepsi pernikahan. Artikel itu mengajak pembaca untuk tidak menghambur-hamburkan uang untuk resepsi pernikahan lalu menghabiskan waktu setelah menikah untuk tinggal di sebuah kontrakan. Kontras sekali perpindahannya. Dari pesta yang megah dan mewah berubah menjadi kontrakan kecil di sudut kota yang tak lebih dari dua juta perbulannya. Teman saya ini tidak setuju dengan artikel tersebut. Saya tahu persis bagaimana usaha ia dan calon pasangannya untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan. Mereka perlu menunggu puluhan purnama untuk menabung agar bisa bersama.  "Kamu jangan pernah anggap Bapak saya jahat ya, Ki. Beliau cuma ingin melihat upaya orang yang berniat menjadi pasangan anak gadisnya. Seperti yang dilakukan Bapak untuk Ibu. Upaya yang menurut Bapak setidaknya sebanding dengan upaya terbaik yang selalu ia berikan untuk anak gadisnya. Ini adalah awal waktu dim...

TAK KASATMATA

Image
Adanya kursi kayu yang tersebar di pusat kota Bandung sangat membuat saya senang. Saya bisa duduk bersama teman tanpa bicara dan asyik mengamati perilaku orang-orang yang ada di sekitar. Semua orang hidup dalam dunia dan pikirannya masing-masing. Ada yang sibuk berfoto di monumen bola dunia dengan nama-nama negara Asia Afrika disaat orang lain kepanasan dalam balutan kostum badut beragam rupa. Ada yang sibuk berbincang dengan mesra disaat orang lain memilih saling diam karena pertengkaran kecil semata. Semua orang sibuk dengan dirinya, membuat kami (saya dan teman) merasa bahwa kami adalah makhluk tembus pandang. Tak ada yang benar-benar sadar kami berada disana kecuali diri kami sendiri. Menarik.   Akhir-akhir ini banyak cerita menarik mampir di telinga saya. Banyak kejadian yang terjadi di satu ruangan yang sama dengan pelaku dan cerita yang berbeda-beda. Beberapa cerita mirip satu sama lainnya, meskipun setengahnya berakhir dengan muram durja dan setengah yang lain berakhi...

(BUKAN) TIPS MENGHADAPI WAWANCARA KERJA

Image
Gara-gara  tulisan sebelumnya , salah satu teman meminta saya menceritakan tentang hal-hal yang menyebalkan saat wawancara. Dengan kata lain, saya diminta untuk menyampaikan apa sih sebenarnya yang harus dihindari pelamar saat wawancara kerja. Saya berusaha mengingat-ingat pengalaman mewawancara yang saya lakukan selama hampir 2 tahun ini. Sayangnya saya banyak gak ingatnya. Hahaha. Tubuh dan jiwa saya memang muda, tapi ingatan saya haduh mak, begitulah, tak usah dijelaskan.  Bagi saya, mewawancarai kandidat itu kegiatan yang menarik. Kenapa menarik? karena dalam hitungan jam, bahkan menit kita bisa tahu banyak tentang seseorang yang sebelumnya belum pernah kita kenal. Seru kan? Mendengar cerita orang lain yang mungkin saja tidak pernah kita dengar sebelumnya. Tak jarang, wawancara menjadi momok yang menakutkan bagi beberapa orang karena takut salah dan takut-takut lainnya. Sebenarnya, tak perlu takut untuk mengikuti wawancara kerja. Bertindak sewajarnya dan tampil...

BUAT KAMU SARJANA PSIKOLOGI

Image
Belajar Psikologi itu gemes-gemes asik. Gemes saat ditanya cowok iseng, "kamu bisa ngebaca saya ya?" dan asik saat jawab pertanyaan tersebut dengan, "iya. Pikiran kamu kotor banget. Shame on you." Lalu drama dimulai. Hahaha.  Lebih seru lagi setelah lulus dan dianugerahi gelar S.Psi alias sarjana Psikologi. Banyak orang yang melihat kami sebagai cenayang yang bisa menebak kepribadian dengan satu lirikan. Saya tidak mengada-ada, ini benar adanya. Suatu hari saya pernah mendapatkan respon, "kamu nanya-nanya saya sedang analisa psikologi ya?"Rasanya mau bilang, "da aku mah apa atuh...." Asumsi bahwa lulusan psikologi itu bisa 'segalanya' sering juga ditemukan di dunia kerja. Berikut sedikit kicauan antara harapan dan realita terhadap lulusan S1 Psikologi di dunia kerja.  Tes Psikologi Sering kali saya temukan banyak persyaratan "mampu melakukan tes psikologi" di banyak iklan lowongan kerja yang mensyaratkan Sarj...

Menu Makan Siang

"Ki, ikut gak? Kita mau makan di luar nih." "Yok!" sahutku santai.  Padahal sejujurnya aku merutuki teman-teman kantorku  yang terus mengajak jajan di luar padahal kantor kami menyediakan makan siang untuk para karyawannya. Tapi mereka paling tahu tempat makan enak di sekitaran kantor, jadi aku nurut-nurut saja. Toh hanya tinggal nebeng berangkat dan pulang, makan lalu selesai.  Kami pergi ke daerah yang cukup jauh dari kantor. Kami berhenti di depan kampus salah satu teman kami yang bekerja sambil kuliah disana. Katanya ada warung ayam sambal cabe hijau yang maknyus dan pantas untuk didatangi demi memakmurkan jeritan para cacing di perut serta memulihkan konsentrasi bekerja empat jam kedepan.  Salah satu dari kami langsung memesan. Dia hafal mati menu yang ada disana. Sedangkan aku dan dua orang cewek-cewek lainnya sibuk menerka-nerka bentuk maupun rasa makanan yang akan kami dapatkan dengan membaca menu yang menempel di tembok warung makan disana....

Kesatuan

Image
Bersatu. Itulah yang sulit dilakukan oleh manusia di daerah multietnik, termasuk Afghanistan. Etnik Pashtun, Hazara dan etnik lainnya masih menganggap diri mereka lebih baik daripada etnik lainnya. Semua manusia tak ingin direndahkan tapi dengan mudah merendahkan orang lain. Primordialisme menjadi penyebab dasar adanya perpecahan dan sulit bangkitnya manusia Afghanistan dari keterpurukan pasca perang. Tak peduli berapa negara dan organisasi asing yang membantu, mereka tak pernah bisa benar-benar bangkit dan bersatu. Etnik Pashtun menganggap dirinya menjadi manusia terbaik dan suku yang paling pantas menjadi pemimpin. Etnik lainnya muak dengan para pemimpin dari Pashtun. Etnik Tajik, Kirghiz dan etnik-etnik lainnya kesal tiada dua. Ekspresi kekecewaan ini diekspresikan melalui keengganan etnik tertentu berbicara bahasa etnik lainnya. Enggan berbahasa Dari, berbahasa Pashto dan bahasa lainnya. Sumber:  deafitsa.blogspot.com Begitulah cuplikan deskripsi Agustinus Wibowo ya...

Batas Beda

Image
Sore ini saya masih membaca tumpukan diksi pilihan Agustinus Wibowo dalam bukunya, Selimut Debu. Ia mengisahkan perjalanannya di Afghanistan dan Pakistan dengan apik. Begitupun dengan negeri stan-stan lainnya yang lahir setelah runtuhnya Uni Soviet. Kemelut di negeri debu Afghanistan memang tak pernah berhenti selesai. Sebagai supplier opium nomor wahid di dunia, harusnya negara ini digdaya tiada tara. Sayangnya, yang terjadi adalah sebaliknya.  Saat banyak negara sibuk menghujat maupun mendukung legalisasi pernikahan sejenis, suku Pashtun Afghanistan sudah sejak lama menjadikan murid-murid lelaki sebagai pelepas hasrat seksual mereka yang kemudian dibasmi oleh Taliban. Saat banyak negara mengasihani wanita-wanita Afghan dibalik burqo  mereka, wanita-wanita Afghan tersebut berbalik mengasihani wanita-wanita yang harus bertelanjang padahal berbaju dan ikut berjibaku mencari uang untuk sebongkah berlian. Saat celana berbahan denim sudah menjadi hal umum di luar sana, di Af...

Berdiri

Ada yang salah dengan berdiri? Ya, ada. Jika yang berdiri adalah seorang nenek, kakek, ibu hamil ataupun anak kecil dan mereka yang duduk adalah anak muda yang masih gagah sehat sentosa.  Aku pengguna angkutan umum. Trans Metro Bandung (TMB), bus Damri, Kotrima (yang ini aku tak tahu kepanjangannya) hingga Angkutan Kota (Angkot) pernah kutumpangi. Beragam bau ketiak dan manusia pernah menjadi teman perjalananku. Diantara banyak angkutan umum yang kusebutkan sebelumnya, TMB dan Damri adalah yang paling kusukai. Ongkos yang murah dan minimnya aktivitas berhenti di tengah jalan untuk mencari penumpang menjadi alasannya. Dua angkutan ini mungkin memang menyediakan ruang untuk berdiri bagi para penumpang yang tidak kebagian duduk. Jadi, kau bisa membayangkan bagaimana terbatasnya oksigen saat penumpang kedua angkutan ini membludak. Para manusia didalamnya persis sarden di dalam kaleng. Siang itu, bus Damri yang kunaiki tidak terlalu penuh. Hanya beberapa orang yang berdiri...

Lanjut kemana?

"Lanjut kemana?" Pertanyaan yang membuat hatiku tersobek-sobek seketika. Memang kusadari, lulus kuliah hanya mengurangi satu dari sekian banyak pertanyaan yang akan terlontar untuk dijawab dengan senyuman manis setengah asem. Mungkin di pikiran banyak orang aku diprediksikan sebagai sarjana yang langsung melanjutkan kuliah ke jenjang selanjutnya. Jujur, itu memang mimpiku. Hehe. Tapi sayang disayang, prioritas berubah, roda berputar dan keputusan yang sesuai harus diambil.  Ceritanya, aku adalah anak pertama dari enam bersaudara. Semuanya bersekolah. Hanya aku yang sudah lulus kuliah. Kau bisa bayangkan bagaimana pusingnya memenuhi kebutuhan sekolah lima anak yang beraneka ragam? Dua orang berkuliah, satu orang menjelang lulus SMA, satu orang menjelang lulus SMP dan yang terakhir masih duduk imut-imut di kelas 4 SD.  Sebagai kakak yang baik, aku tak bisa tinggal diam dan terus menerus memaksakan mimpiku untuk cepat melanjutkan kuliah. Bisa beasiswa kan ki? Perta...

MAAFKAN SAYA

Memori saya berhenti di suatu waktu, dimana saya menyesali tindakan bodoh yang pernah saya lakukan. Sore itu kami dalam perjalanan pulang dari rangakaian kegiatan sosial yang kami selenggarakan di daerah Parang Gombong, Purwakarta. Aku terkantuk-kantuk duduk di bangku belakang sopir. Bak sedang melakukan off road, mobil angkutan umum ini terguncang membuat hasrat tidurku hilang.  "Ki, foto-fotonya bagus loh. Good job! " kata ketua LSM yang aku ikuti.  "Oh ya? kata siapa?" kataku tak yakin. Setahuku, hasil-hasil foto itu kurang memuaskan. Sebagai koordinator divisi dokumentasi di acara itu aku merasa tidak puas dengan kinerjaku maupun kinerja tim kami. Maklum, aku masih amatir memegang kamera canggih. Mungkin semaca culture shock , dari yang biasanya memegang kamera saku, kemarin harus memegang kamera yang tak bisa dipegang dengan satu tangan. Haha, katrok. Begitulah.  "Kata Yudi (bukan nama sebenarnya :P)," jawab ketuaku itu.  "Yudi? ...

Perjalanan Skripsi

Image
Jemariku masih menari diatas tuts keyboard komputer portabel yang sejak pagi tadi menyala. Malam ini kunikmati ringannya 120 halaman yang tersusun dari ribuan huruf yang kususun lebih dari 5 bulan yang lalu. Bahkan, untuk mencapai tahap ini aku mempersiapkannya lebih dari satu tahun yang lalu. Saat itu salah satu sana saudaraku datang bertamu ke rumah. Mau berlibur, katanya. Hanya om-ku dan dua anaknya. Sore itu aku diinterograsi habis-habisan. Pertanyaan yang sama, "Sampai mana skripsinya?" Saat itu aku masih belum bosan ditanya hal yang sama. Nasib tugas akhir yang menjadi syarat mendapatkan gelar sarjana psikologi. Jadi kujawab saja dengan santai, " Stuck , om. Hehe." Pertanyaan itu awal mula bagaimana 120 halaman yang beberapa jam lalu baru kuselesaikan. Pertanyaan itu menyenangkan bagiku, karena setelah bertanya hal itu orang yang bertanya memberikan solusi untukku. Bukan hanya sekedar berkata, "semangat!" dan sejenisnya. Bukan pertan...

HIDUP DAN MOTOR

Pagi tadi sama seperti biasanya. Udara terasa segar. Burung-burung masih riuh berkicau. Kendaraan roda empat hilir mudik di jalan kecil di desa kami. Hal yang tak biasa adalah pada kegiatanku pagi itu. Aku tak berkutat dengan setumpuk cucian di rumah bagian belakang. Bukan pula diam di depan laptop dengan kening berkerut dan pikiran yang tak karuan. Pagi itu aku dan adikku memutuskan untuk pergi dari rumah. Menuju jalan raya yang cukup jauh dari rumah kami.  Adikku memanaskan mesin motor. Aku mencari-cari sandal yang selalu malu-malu dan bersembunyi entah dimana saat akan kupakai. Setelah semuanya siap, kami berdua bergegas pergi keluar rumah dengan kendaraan roda dua itu. Tinggal dan berada di lingkungan dengan nilai kolektivisme yang tinggi membuat kami tidak bisa cuek bebek dan tak menebar senyum saat bertemu tetangga. Ya, walaupun kita tidak tahu siapa mereka karena tak pernah berinteraksi secara langsung, tapi tak ada yang salah menebar senyum kami yang memang manis :D ...

Kamar hijauku

Hari ini, entah hari keberapa saya berkemah di luar rumah sebagai anak kos. Kenapa saya katakan berkemah? Karena kamar ini rasanya sudah seperti tenda di perkemahan yang hanya dihuni oleh empunya di pagi dan malam hari saja. Sebenarnya memang terlalu jauh jika dibandingkan dengan perkemahan, tapi saya teringat sejenak pada salah satu guru super hebat saya, KH. Dr. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, M.A. kata beliau (kurang lebih) seperti ini, “Kita ini hidup di dunia hanya berkemah saja. Sejenak menetap disini, sejenak berada disana, dan dimana-mana. Bahkan ada yang jam 8 pagi ada di Sumatra, jam 11 pagi sudah ada di Surabaya bahkan esoknya sudah ada di Dubai sana.” Ya, hidup itu hanya berkisar masalah “menginap” saja. Toh, sudah bukan rahasia lagi jika lebih banyak orang yang “hidup” di luar rumahnya. Kembali ke cerita saya tentang kamar kos bercat hijau ini. Tempat ini hanya berpenghuni dari sekitar jam 18.00 – 09.00 WIB, sisa waktunya ia bertemankan lampu yang padam dan pintu yang terk...

“RIN, KAU BAIK-BAIK SAJA?”

Aku benci tatapan itu. Sunggguh. Benci karena aku tak bisa bersikap seperti yang aku inginkan. Bersikap kasar padamu dan berkata “Aku benar-benar muak!”. Tapi, aku tak bisa. Entah karena apa. Karena kau kini ada di dekatku, kah? Atau karena memang aku tak pernah membuka topeng manisku di hadapanmu? Argh, kau terlalu membuatku merasa bodoh, merasa lemah dan merasa tak berdaya. “Rin, kau baik-baik saja?” Suara itu menghancurkan kembali kata-kata jahat yang sudah ku susun. “Hem..”, aku mengangguk lemah. “Baik kalau begitu, aku pergi dulu”, pamitnya. Aku menatapnya tak percaya, bahkan kami tak menghabiskan waktu lima menit untuk bertemu dan ia hanya berkata “Rin, kau baik-baik saja?” lalu dengan mudahnya meninggalkanku begitu saja?! Cih, menjijikan! Selalu seperti itu. Ia tersenyum membalas tatapan tak lazim dariku seraya berkata, “Nanti ku usahakan untuk menghubungimu lagi.” Dan sosoknya pun hilang di tengah keramaian di luar café tempat kami bertemu tadi. Sungguh, aku tak tah...

APA YANG SALAH DENGAN ‘UNIVERSITAS ISLAM NEGERI’?

Universitas Islam Negeri atau biasa disebut UIN yang dulunya berawal dari IAIN (Institut Agama Islam Negeri) sering dipandang sebelah mata oleh para civitas akademika di negeri ini. Entah karena banyak tambahan mata kuliah ilmu agama yang membuat universitas ini kurang terlihat “menarik”, atau mungkin karena tidak ada bursa kerja bagi para alumninya. Entahlah….saya tak tahu pastinya. Karena setiap orang pasti mempunyai pemikiran yang berbeda satu sama lain. “Biarlah Universitas Islam juga, yang penting negeri!” begitu jawaban salah seorang teman ketika kutanya alasannya masuk universitas ini. Stempel ‘Islam’ yang sebenarnya dijadikan nilai plus dari perguruan tinggi ini terkadang disalahartikan oleh sebagian kalangan. Sebagian dari mereka menilai bahwa universitas Islam pasti tidak jauh dari kekentalan nilai ke-Islaman yang jauh dari kesan ‘modern’. Padahal sebenarnya tidak seperti yang mereka bayangkan. Institusi pendidikan Islam bukan berarti hanya membahas apa yang ada kaitannya d...