Jaket Merah #2
Naas, hujan badai melanda Jakarta. Hatiku sudah ketar-ketir tak karuan. Konsentrasiku buyar dan pikiranku entah ada dimana. Rapat selesai tepat waktu. Aku bergegas meninggalkan tempat itu diiringi dengan tatapan aneh teman-temanku. Kuhiraukan tatapan itu, mataku jelalatan mencari taksi. Tak lama kudapatkan taksi kosong dan bergegas melaju ke tempat dimana Vina menungguku. Sesampainya di tempat itu, aku tak menemukan batang hidung Vina. Aku meminta supir taksi untuk membantuku mencarinya. Supir itu kesal karena ia tahu tidak mudah mencari Vina di tengah-tengah kerumunan orang dan hujan besar yang sedang melanda. Supir itu marah-marah tak keruan. Membuatku semakin tak karuan. Ah, Tuhan. Aku harus menyerah atau berusaha lebih keras lagi? Kuputuskan untuk turun dari taksi dan mencari temanku sendiri. Supir taksi itu bersedia menungguku kembali. Untungnya saat aku keluar dari taksi, hujan besar sudah mulai mereda, berganti gerimis yang menyirami kota. Aku meno...