Posts

Showing posts from October, 2014

Jaket Merah #2

Naas, hujan badai melanda Jakarta. Hatiku sudah ketar-ketir tak karuan. Konsentrasiku buyar dan pikiranku entah ada dimana. Rapat selesai tepat waktu. Aku bergegas meninggalkan tempat itu diiringi dengan tatapan aneh teman-temanku. Kuhiraukan tatapan itu, mataku jelalatan mencari taksi. Tak lama kudapatkan taksi kosong dan bergegas melaju ke tempat dimana Vina menungguku.  Sesampainya di tempat itu, aku tak menemukan batang hidung Vina. Aku meminta supir taksi untuk membantuku mencarinya. Supir itu kesal karena ia tahu tidak mudah mencari Vina di tengah-tengah kerumunan orang dan hujan besar yang sedang melanda. Supir itu marah-marah tak keruan. Membuatku semakin tak karuan. Ah, Tuhan. Aku harus menyerah atau berusaha lebih keras lagi?  Kuputuskan untuk turun dari taksi dan mencari temanku sendiri. Supir taksi itu bersedia menungguku kembali. Untungnya saat aku keluar dari taksi, hujan besar sudah mulai mereda, berganti gerimis yang menyirami kota.  Aku meno...

Jaket Merah

Hari ini hari Minggu. Hari bersenang-senang untukku. Hari dimana aku bisa berlama-lama diam di kamar, menatap layar monitor dan berbincang dengan banyak orang secara virtual. Tak perlu keluar suara, tak perlu banyak ekspresi di muka. Hanya suara ketukan keyboard yang seolah mengganti mulut untuk berbahasa. Ah Tuhan, mungkinkah tangan berbicara pun sudah muncul tanda-tandanya sekarang?  Sudah lebih dari satu jam aku menjelajah dunia maya. Punggungku sakit, leherku apalagi. Kumatikan segera komputer jinjing yang sedari tadi menyala. Tujuanku hanya satu, tempat tidur. Kemana lagi? Hari Minggu itu asyik untuk dinikmati sendiri, bukan? Aku merebahkan badan. Namun tanganku masih tak bisa diam. Tangan kananku menggenggam ponsel dan mulai menelisik banyak fitur yang ada disana.  "PING" Bunyi khas salah satu aplikasi pengirim pesan terdengar. Tanda bintang merah muncul menandakan ada sesuatu yang baru di aplikasi itu. Seperti sudah terlatih, jempol kananku bergerak c...

Bukan Penghuni Kebun Binatang

Ini bukan sebuah hikayat tentang seekor gajah. Ini hanya celoteh seorang burung yang sedang belajar di sebuah tempat bernama kebun binatang. Disini semua hewan ada tingkatannya. Senior, semi-senior dan junior. Burung itu masih berada di kelompok junior. Kelompok yang butuh tak butuh pada kelompok semi senior maupun kelompok senior.  Ia tak berharap banyak dari kebun binatang dan makhluk-makhluk di dalamnya. Ia hanya berpikir dan meyakini bahwa kebun binatang itu bisa menjadi tempat yang asyik untuk belajar. Ia bisa belajar cara terbang terefektif yang pernah ada pada kelompok yang lebih tua. Ia bisa belajar cara menyesuaikan diri dengan kelompok tertentu dalam waktu dan keadaan tertentu. Ia meyakini, kebun binatang itu hanya sebuah inkubator yang membantunya dengan banyak masukan berguna.  Jika kakinya mulai sedikit kuat, sayapnya sudah bisa terbentang sedikit gagah, burung kecil itu akan mencari celah keluar dari kebun binatang yang membuatnya belajar banyak hal. Ia...

Sakit

Sejak Juli 2014, telingaku sakit dibuat kata-kata yang bertebaran di internet. Ah ya, sebagai seorang manusia yang mempunyai hobi berselancar di dunia internet, gendang telingaku seperti pecah tak berupa. Kata-kata makian, sindiran bahkan kutukan keluar dari jari-jari mereka yang menggantikan mulut untuk bicara.  Si A menuduh si B melakukan hal tak terpuji, padahal ia lupa tuduhannya pun jauh dari kata terpuji. Banyak manusia merasa tergerak untuk membela jagoannya. Gambar dengan percakapan hayalan bertebaran. Kadang membuatku tertawa geli, kadang membuatku buru-buru menutup jendela browser.  Hai kamu, apa yang kau rasakan bila keluargamu di-cap dan dilabeli manusia jahat? Marahkah? Dulu aku sering mendengar bahwa wanita terkadang senang melupakan jasa-jasa orang yang telah membantu mereka bila keinginannya tidak terpenuhi. Sekarang tingkah itu sudah tidak berlaku lagi. Makhluk berjakunpun tak sungkan-sungkan melakukan hal yang sama.  Telingaku sakit, ha...

Bulan, Apa Kabar?

Seperti biasa, malam itu Alfa, adikku, menjemputku di depan sebuah minimarket. Jarak rumahku dengan jalan raya memang cukup jauh. Maka fungsi Alfa sebagai adik laki-laki secara otomatis bertambah. Menjemput kakaknya hingga sampai ke rumah dengan selamat sentosa.  Malam itu tak biasanya kami berbincang tentang bulan. Ia menceritakan tentang gerhana bulan yang baru-baru ini terjadi. Ia terheran-heran dengan bulan yang selalu ada.  "Bulan itu selalu ada ya, teh. Tidak ada masa terbit dan tenggelamnya," katanya.  Benar, bulan sepertinya memang makhluk Tuhan yang diciptakan untuk setia. Padahal ia hanya bisa terlihat karena pantulan sinar sang mentari yang dengan asyiknya terbit dan tenggelam. Ia terkadang tetap muncul di kala siang menjelang. Walaupun ia tahu bahwa hadirnya akan tertutupi oleh terangnya sinar matahari.  Saat malam, bulan menemani manusia dengan bintang-bintang yang hanya berbentuk seperti titik cahaya. Bulan menjadi primadona kala wujud...

Suka Bule, ya?

Siang itu saya dan keluarga masih sibuk membereskan barang-barang yang kami bawa dari rumah. Kami akan meninggalkan wanita tua yang kusebut Mbah lagi di rumahnya. Mudik singkat kami sebenarnya dimulai di Sabtu siang. Menulusuri jalanan Bandung-Pemalang. Demi menemui wanita kesayangan. Mbah.  *** Perjalanan kami nyatanya tak selalu lancar. Karena terlalu lelah, kendaraan kami lupa berbelok ke jalan tol Pak Ical Bakrie yang biasanya membantu mempercepat perjalanan pulang ke rumah Mbah. Akhirnya, kami terpaksa harus menikmati macetnya Brebes dan Tegal.  Nyawaku belum terkumpul sempurna saat melihat anak-anak remaja mejeng (dan merasa) keren di pinggir jalan sepanjang jalur pantura.  "Kemana orang tuanya?" pikirku.  Tak mau berpikiran macam-macam, aku memilih untuk kembali tidur di perjalanan.  Kami datang sekitar jam 10 malam. Perjalanan panjang yang melelahkan. Mbah menyambut kami sumringah. Walaupun kami tahu kami telah mengganggu tidur ...

Pasar Malam dan Festival

Kotaku sedang gemar menghidupkan malamnya. Pasar malam dan festival digelar dengan berbagai nama. Lebih dari tiga kali diadakan dalam satu tahun. Sepertinya banyak hal yang dirasa perlu untuk diperingati. Kotaku hidup di malam hari. Energi negatif yang menyeruak di kala matahari tenggelam, perlahan berganti dengan suka cita warga bak menyambut acara resepsi.  Pasar malam dan festival, acara singkat yang memberikan kebahagian sesaat. Menyegarkan kembali otak manusia yang terisi penat. Menjadi kesenangan yang sepertinya tertahan sekat.  Sepertinya aku akan menyenangi suasana hingar bingar malam semacam itu. Jadi, saat kau bertanya tempat seperti apa yang sangat ingin kukunjungi, pasar malam dan festival adalah jawabannya Bandung, 18 Oktober 2014