Posts

Showing posts from December, 2011

BIBIR SEKSI

Mentari . Nama temen gue yang benar-benar selalu tebar pesona, tebar senyuman lebih tepatnya. Anak-anak sekelas sudah gak pernah merasa heran lagi kalau ia muncul dengan indahnya dilengkapi dengan senyuman ala Luna Maya yang seksi tiada tara *apa sih. Kegemaran kita itu sama. Sama-sama gemar menabung, berbaik sangka dan tak sadar rupa. Bukan bukan itu. Gue tahu, lo pasti sadar kalau kegemaran itu palsu dan dusta sepanjang masa. Yang benar, kegemaran gue dan Dina itu, sama-sama suka jajan basreng alias baso goreng yang ada di dekat kantin kampus lama.  Kebetulan saat itu cecewek di kelas pada ngidam basreng yang sebenarnya sih gak lebih mahal daripada cakue yang ada di depan kampus, apalagi dibanding sama teh poci atau gak air mineral bermerek Al-Ma'soem. STOP STOP. Gue gak akan bahas harga makanan yaa... Singkat cerita, pesanan basreng kita semua telah tersedia. Kita buru-buru balik ke kelas, karena ada tanda-tanda dewa berwujud pendidik bergelar dosen akan tiba disan...

JADI, GARA-GARA SIAPA?

Lagi, cerita konyol yang menurut gue sangat menurunkan wibawa gue sebagai seorang manusia. Eh, tapi entahlah kalau lo sudah menganggap gue sebagai malaikat :P Sekitar menjelang akhir bulan ramadhan tahun ini. Sejarah telah mencatat sebagai bulan puasa pertama dimana orang tua gue ngajakin buka puasa di luar. Entah apa yang ada di pikiran beliau-beliau saat itu. Yang penting, gue beserta komplotan krucil-krucil (adik-adik gue) dengan sigap meng-iya-kan keputusan itu. Awalnya semua berjalan lancar, bahkan menyenangkan. Sebelum buka puasa, gue iseng-iseng terapi ikan. Ikan-ikan buat terapi disana benar-benar tidak berperikeikanan, mereka dengan sigapnya memakan kulit mati disekitar tumit gue. Ya, memang telah terjadi perpecahan suku disana. Bandung terlalu dingin dan membuat kulit telapak kaki gue pecah-pecah #ngeles. Saat-saat berbahagia as known as adzan maghrib tiba. Dengan lahapnya kita menghabiskan es campur yang benar-benar terdiri dari berbagai campuran isi dan membua...

:*

Gue gak pernah tahu apa gambar yang bakal muncul dari paduan simbol : dan * sebelumnya. Kecuali setelah hari itu. Hari dimana gue sok-sok-an chatting pakai segala emotion di YM. Dengan PD dan semangat seperti biasanya menyapa berbagai akun yang masih online, saat itu sekitar jam 7 malam.  Gue : "Hiiiiiiiiiiiiiii..." (saat itu gue masih terjangkit virus alay *dan sekarang agak sembuh :P) Gue : "Sehadh?" X : ...... (masih sibuk dengan dunianya) Karena bosan menunggu, akhirnya gue memutuskan untuk BUZZZ! plus kirim emotion. Aktivitas BUZZZ! telah dijalankan. Tapi sial, emotion susah muncul gara-gara jaringan yang memble dan gak kece sama sekali. Menunggu jawaban chat saja sudah seperti menunggu tahun baru di bulan Januari, apalagi nunggu emotion? Bosan dan rasa tak sabar menyeruak dalam diri. Maka, asal klik emotion pun gue lakukan sepenuh hati. Lo pasti kebayang apa yang gue klik. Ya, judul dari postingan ini. :* alias emotion orang monyong-mo...

HARI INI, SAMA SAJA

Image
Hari ini,  Sawah menjadi lautan,  Tapi lautan, tetap lautan Hari ini, Sungai seperti lautan, Tapi lautan, tetap lautan. Hari ini,  Hampir tak ada beda antara hamparan air ditengah kota dengan dilautan sana kecuali warnanya. Hari ini,  Perahu terapung di pinggir jalan raya, Tak ubahnya, perahu para nelayan di tengah lautan sana. Hari ini, Apa mungkin permulaan daratan menjadi lautan? Karena rasanya sama saja, Daratan seperti lautan Tapi lautan tetaplah lautan. Hari ini,  Kemajuan di berbagai kota seperti riak di lautan sana. Hari ini,  Hari yang sama saja. Genangan air itu masih sama saja, Sama saja dengan tumpahan air jutaan galon yang terkurung di tengah kota seperti tahun-tahun sebelumnya. Hari ini, Tahun ini, Masalah banjir masih sama saja.  Dan rasanya tak pernah mati dibunuh masa Lagi-lagi ku berkata, Hari ini,  Sama saja. Sawahku tenggelam bak lautan seperti dulu k...

NARSISO

Image

DENGARKAN ANJING MENGGONGGONG DAN TETAPLAH BERLALU

Sering mendengar kalimat bijak, “Anjing menggonggong, kafilah berlalu”? Hari ini, rasanya ingin aku berteriak,”LUPAKAN KALIMAT ITU!” Kau tahu kenapa, kawan? Karena aku belajar banyak dari gonggongan anjing-anjing itu, bila diibaratkan akulah kafilah dalam kalimat bijak yang tadi kusebutkan. Awalnya, terus berlalu memanglah cara untuk membuktikan bahwa gonggongan anjing dalam perjalanan hanyalah asam manis kehidupan bagiku. Namun, hari ini aku terpaksa untuk mengerti, terkadang gonggongan itu menjadi amunisi positif dalam perjalan dimana aku berlalu tanpa mendengarnya. Tidak rumit, tidak sulit, tapi seringnya aku enggan melakukan. Karena apa, aku tak tahu pastinya. Mungkin, ya mungkin, karena aku hanya yakin dengan jalan lurus di depan sana. Berlalu tanpa bersiap akan banyak harapan yang sirna dengan mudahnya. Berlalu tanpa sedikitpun mendengar gonggongan anjing yang terkadang menjelma seperti bisikan Tuhan yang dititipkan pada suara menyebalkan me...

TERHUBUNG

Kita terhubung dalam suatu cerita Cerita tentang pertemuan di sebuah jalan Jalan dalam arti kata sebenarnya Jalan dimana banyak kendaraan dengan berbagai roda hilir mudik disana Kita terhubung dalam suatu cerita Cerita tentang pertemuan tak sengaja di perempatan berlampu merah Kau ke seberang sini Dan aku ke seberang sana Kau tahu? Sore itu menjadi teramat indah Kita bertemu dalam suatu masa Masa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya Masa dimana aku tak pernah mengenal kau Begitupun sebaliknya Kita bertemu dalam satu waktu Waktu dimana sang senja mulai menguap dan kembali ke singgahsananya Waktu dimana surya bersiap digantikan oleh bulan sabit yang indah tiada terkira Kita terhubung oleh sebuah tempat dan waktu Tempat dimana kita menyebrang bersama Di kala matahari mulai tidur dengan malu-malu Kita terhubung dalam sebuah cerita, sebuah tempat dan waktu yang sama.

APALAH ARTI SEBUAH NAMA

Namanya Ardian. Tak kurang, tak lebih. Hanya Ardian. Nama aslinya lebih dari Ardian, tapi hanya nama itu yang kutahu. Bukan tak mau tahu, tapi hanya malu untuk tahu. Mendengar namanya disebut saja sudah membuat aku senyum-senyum sendiri. Sosok manis itu lenyap ditelan bumi 11 tahun yang lalu. Saat umurku 10. Saat aku masih suka bermain loncat tali. Saat aku tak tahu apa arti dari rasa tertarik ini. Ia tidak tinggi, tidak pendek. Mungkin sekitar 145 cm. Tak jauh berbeda denganku saat itu. Tak tampan, hanya manis “saja”. Kulitnya sawo matang. Bentuk mukanya oval. Dan satu hal yang tak pernah bisa kulupakan. Kombinasi dua bagian yang membuatnya manis bukan kepalang. Agak berlebihan memang, tapi rasanya memang itu yang membuatku selalu menghindar bila tak sengaja berpapasan. Membuatku harus menanggung malu karena ejekan-ejekan ringan teman sekelas seperti anak kecil kebanyakan. Hanya dia, bocah laki-laki dengan mata sipit dan bentuk mulut seperti oran...