Posts

Showing posts from March, 2014

MAAFKAN SAYA

Memori saya berhenti di suatu waktu, dimana saya menyesali tindakan bodoh yang pernah saya lakukan. Sore itu kami dalam perjalanan pulang dari rangakaian kegiatan sosial yang kami selenggarakan di daerah Parang Gombong, Purwakarta. Aku terkantuk-kantuk duduk di bangku belakang sopir. Bak sedang melakukan off road, mobil angkutan umum ini terguncang membuat hasrat tidurku hilang.  "Ki, foto-fotonya bagus loh. Good job! " kata ketua LSM yang aku ikuti.  "Oh ya? kata siapa?" kataku tak yakin. Setahuku, hasil-hasil foto itu kurang memuaskan. Sebagai koordinator divisi dokumentasi di acara itu aku merasa tidak puas dengan kinerjaku maupun kinerja tim kami. Maklum, aku masih amatir memegang kamera canggih. Mungkin semaca culture shock , dari yang biasanya memegang kamera saku, kemarin harus memegang kamera yang tak bisa dipegang dengan satu tangan. Haha, katrok. Begitulah.  "Kata Yudi (bukan nama sebenarnya :P)," jawab ketuaku itu.  "Yudi? ...

Tentang Ijah

Image
Baiklah, aku terlalu kagum dengan temanku satu ini. Namanya Azizah, lengkapnya Nuraini Azizah. Biasanya aku memanggil perempuan energik ini dengan sebutah Ijah. Entah apa yang ada di dalam otaknya. Manusia satu ini selalu optimis. Selalu yakin apa yang ia inginkan dan impikan pasti dapat ia capai. Apapun itu. Pernah suatu ketika aku, Ijah dan beberapa teman berkunjung ke salah satu mall elite di Jakarta. Disana ada kios (eh kedai eh apalah itu namanya) donat dengan label yang tak kukenal namanya. Ijah kekeuh  untuk membeli donat itu. Padahal bentuknya lebih kecil daripada donat label lain yang lebih murah harganya. Penasaran, kulontarkan pertanyaan, "Kenapa kekeuh  mau beli itu sih, Jah?" Kau tahu apa jawabannya?  "Ini hanya ada di Jakarta dan Bali".  Just it. Jawaban pertanyaan yang aku rasa tidak masuk akal. Hanya karena ada di dua tempat di Indonesia dan ia harus membelinya? Logic, please!  Itu bukan kali pertama Ijah melakukan hal-hal yan...

TAK MENENTU

Hati ini kembali tak menentu. Tak menentu oleh dosa yang kulakukan sepenuh sadar pada banyak orang yang hadir di acara berharga itu. Harusnya, semua kesenangan dan kebahagiaan menjadi akhir dari perjalanan ribuan mil yang kulakukan sejak dua tahun kebelakang. Idealnya, hari itu penuh dengan suka cita yang tak bisa tergantikan. Sayangnya, semua itu hancur karena ulah egoisku. Manusia yang harusnya paling berbahagia saat itu. Aku benci. Aku benci diriku sendiri. Aku tak bisa mempertanggungjawabkan pengahrgaan nilai terbaik yang kudapatkan. Aku menghancurkannya dengan sikap bodoh yang tak akan dilakukan oleh orang dewasa berusia 23 tahun. Aku benci. Aku benci diriku sendiri. Perasaanku semakin tak menentu. Ironis, aku tak merasa sedih sedikitpun. SEDIKITPUN. Mereka semua kecewa padaku. Padaku yang seharusnya membuat mereka bangga dengan prestasi akademik dan non akademik yang kuraih. Padaku yang harusnya menjadi penengah dalam kelabu. Padaku yang membuat hari itu diakhiri de...