Friday, December 23, 2022

Ketabahan

Hari ini saya membaca bab ke-12 dari buku Angela Duckworth yang berjudul Grit, Kekuatan Passion + Kegigihan. Menurutnya, ketabahan seseorang bisa ditumbuhkan dari luar. Salah satunya adalah dengan mengikuti ekstrakurikuler secara konsisten selama lebih dari satu tahun. Mengapa? karena dengan mengikuti ekstrakurikuler, mereka dihadapkan dan dilatih untuk tetap bertahan walaupun kondisi sulit. Misalnya mereka ikut ekstrakurikuler balet. Balet akan memberikan hal-hal mudah yang menyenangkan seperti bertemu teman baru, guru yang baik hati dan belajar gerakan indah, tapi juga memberikan tekanan dan tuntutan untuk melakukan yang terbaik seperti melakukan gerakan dengan benar, sesuai irama, kompak dengan gerakan rekan-rekan lainnya. Kondisi seperti itu mendorong dan menumbuhkan Grit atau ketabahan. 

Ia juga menyampaikan bahwa banyaknya aktivitas ekstrakurikuler ini sangat penting apalagi jika seseorang melakukannya selama lebih dari satu tahun dan lebih dari satu aktivitas. Karena dengan ini, mereka bisa mengembangkan ketabahannya dan bisa lebih tahan banting ketika dihadapkan pada situasi sulit kedepannya.

Sayangnya, ada data yang menyebutkan bahwa para siswa miskin di AS memiliki partisipasi ekstrakulikuler yang menurun dibandingkan dengan para siswa kaya. Hal ini dikarenakan minimnya anggaran untuk menghidupi club. Kondisi ini menyebabkan makin besarnya ketimpangan antara siswa kaya dan siswa miskin yang akan mengarahkan mereka pada lingkaran setan atau lingkaran kebahagiaan. 

Studi di New Zealand menyebutkan, para siswa yang ketus kemungkinan besar berujung pada karir yang tidak memiliki prestise yang tinggi yang menyebabkan mereka lebih sering merutuk dan ketus. Karena sikap seperti itu, maka kondisi di sekitar siswa tersebut terus memburuk. Itu adalah contoh lingkaran setan. Begitupun sebaliknya. Siswa yang ramah kemungkinan besar berujung pada karir yang memiliki prestise yang tinggi dan itu membuka kesempatan untuk mereka pada peluang-peluang karir dengan prestise yang lebih tinggi lagi. Itulah contoh lingkaran kebahagiaan. 

Six Types of Grit

Lalu saya berkontemplasi di tengah-tengah membaca. Saya ingat bagaimana ayah dan ibu saya mendorong untuk ikut banyak lomba. Mulai dari fashion show, menulis surat, membaca puisi, cerdas cermat, menggambar, dan sebagainya. Ketika sekolah dan berkuliah saya senang sekali berorganisasi baik di lingkungan sekitar seperti di kampus ataupu di kelas, dan juga di luar kampus seperti organisasi sosial yang saya ikuti. Ternyata, setelah diingat-ingat, mungkin saya memiliki ketabahan yang sedikit lebih tinggi dibandingkan rekan kerja saya. Saya tahu ini sedikit narsis dan subjektif, tapi seingat saya, tidak ada pekerjaan yang ditugaskan kepada saya dan itu tidak selesai. 

Namun, saya juga merasa ketabahan saya sempat merosot karena tidak mendapatkan dorongan dan sedikit 'kekangan' seperti feedback maupun respon dari atasan saya. Hal itu membuat saya kehilangan motivasi untuk melakukan hal-hal dan pekerjaan-pekerjaan yang menurut saya perlu. Saat itu, saya merasa saya tidak berguna karena pekerjaan yang saya lakukan hanya berupa rutinitas saja, padahal saya ingin lebih bermanfaat dan memberikan dampak. 

Setelah menabung, akhirnya saya ikut kursus sertifikasi selama 3 bulan. Saya merasa menemukan diri saya lagi. Dimana saya kembali bergairah dan bersemangat untuk melakukan hal yang lebih daripada posisi saya sekarang. Kondisi seperti itu sepertinya membuka peluang lain, saya diinterview oleh sebuah perusahaan dan dinyatakan lolos seleksi. Tapi akhirnya saya gak ambil sih. Hehe. Tapi lumayanlah gaji saya naik karena counter offer. 

Poin saya adalah, ternyata lingkaran setan dan lingkarang kebahagiaan sempat terjadi dalam perjalanan karir saya. Ketabahan saya juga ternyata naik dan turun, entah ini benar secara teori atau tidak. Tapi sekarang saya menyadari bahwa penting untuk melihat apa yang ada di sekitar kita, apa yang dipikirkan oleh diri kita tentang diri kita itu penting sekali. Ketabahan memang dibentuk dari kecil, tapi saya rasa tidak ada salahnya kita mulai menyelesaikan apa yang kita telah mulai. Setidaknya kita berusaha untuk menimbulkan ketabahan dari dalam diri kita sendiri. 

Baiklah, saya lanjut dulu baca bukunya. Hehe


Depok, 23 Desember 2022

Read More

Tuesday, December 20, 2022

Porn Poverty

Menjual kemiskinan seringkali dinisbahkan pada mereka yang menggunakan kemiskinan untuk mendapatkan keuntungan. Misalnya, acara bagi-bagi uang yang diupload di story Instagram lalu viral. Bantu orang aja masa harus pamer sih. Begitu pikir mereka. 

Padahal, bisa jadi aktivitas kebaikan yang disiarkan itu ditujukan untuk menginspirasi. Untuk membuka jalan bagi para dermawan menyalurkan harta dengan penyaluran dana yang transparan. Untuk memberikan secercah harapan pada mereka yang membutuhkan. 


Hari ini saya dengar (sebenarnya nonton Youtube sih) channel Helmy Yahya yang berbicara tentang suka duka ia membuat program membantu orang-orang miskin seperti Bedah Rumah, Uang Kaget, dll. Banyak sekali orang yang mengecam karena merasa ia sedang melakukan porn poverty. Padahal intensi ataupun tujuan awalnya adalah untuk menginspirasi orang lain melakukan hal yang sama. Uangnya pun bukan uang Helmy, tetapi uang sponsor. Suatu hari, ada seorang pejabat yang menyumbangkan hartanya melalui Helmy karena orang tersebut tahu tentang program-program yang dibuat oleh Helmy dan tayang di televisi. 

Saat ini, mulut manusia terasa lebih tajam dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Jika saat hari perhitungan nanti jari bisa bicara, maka saat ini pun jari bisa berbicara. Mereka menuliskan kata-kata kejam yang mungkin saja orang tersebut malu ketika mengucapkannya secara lisan. Tulisan mereduksi kekasaran, memudahkan orang mencibir dan menyudutkan. Menghakimi orang yang berbuat baik dengan sebutan buruk. Membuat  orang-orang baik kapok dan enggan melanjutkan perbuatan baiknya. Sebagai imbalan, apa yang dilakukan para pencibir? Hanya mencibir dan mencibir, padahal mereka membantu pun tidak. 


Jakarta, 20 Desember 2022

Read More

Monday, December 19, 2022

Lebih Dari Seperempat Abad

 

Manusia selalu berkembang setiap harinya. Dari sisi fisik, kognisi dan juga emosi. Saya bertanya-tanya, apa yang dulu mendorong saya ketika bayi untuk belajar berjalan? Apa yang membuat saya bisa berlari? Dorongan dari orang sekitar? Ambisi ingin menyerupai mereka? Apa? 

Ketika usia sudah lebih dari seperempat abad, rasa ingin berkembang manusia seringkali terbatas pada apa nilai ekonomi yang bisa ia dapatkan dari perubahan dan perkembangan. Kalau tidak ada uangnya, lebih baik diam. Kalau tidak well rewarding, lebih baik punya performa biasa-biasa saja. Hingga kini mulai ramai gerakan quite quitting, alias diam-diam berhenti. Tidak ngoyo untuk menyelesaikan sesuatu karena mereka merasa walaupun kesehatan mental mereka terganggu karena banyaknya tuntutan kerja, mereka tidak akan dapat balasan yang setimpal. Kenapa seperti itu ya? Padahal saya merasa menyelesaikan tugas dengan baik dan benar itu adalah cara agar kita bisa belajar dan berkembang. Walaupun pada akhirnya uang yang menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang, tetapi apakah adil hanya karena uang kita tidak memberikan diri kita kesempatan untuk mencoba sesuatu?

Memang sulit sekali tidak mengaitkan perkembangan dengan uang. Apalagi saat ini dengan mudahnya kita bisa pamer barang yang bisa kita beli di sosial media. Tapi berkembang dengan menerima tugas yang menantang, berhubungan dengan orang-orang yang baru, berhadapan dan ditegur keras oleh bos besar, selalu memberikan diri kita sense fulfillment yang kita butuhkan. 

Saya masih meyakini berkembang secara kemampuan adalah salah satu manfaat dari bekerja. Mendapatkan uang memang penting, tapi jika tidak dapat di tempat yang sekarang dan kita memiliki kapasitas lebih, kita bisa berpindah ke tempat lainnya. Kita bukan pohon ataupun penerima derma yang hanya bisa bekerja di satu perusahaan saja dan harus membalas budi. Mungkin untukmu berpindah bisa jadi cara untuk berkembang. Mungkin juga bertahan dan belajar lebih banyak lagi di satu tempat yang sama menjadi jalan lain untuk berkembang. Pilih saja, disesuaikan saja. Karena lagi-lagi saya bilang kalau kita bukan pohon, kita manusia. 


Depok, 19 Desember 2022

Read More

Total Pageviews

Blog Archive

Search This Blog

Powered by Blogger.

Quote

Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu (Andrea Hirata)