Menamai Perasaan
Beberapa minggu lalu saya melihat video ibuknya Kirana yang memperlihatkan Kirana sedang diajari apa itu sedih, marah, senang dan bagaimana ekspresi dari emosi-emosi tersebut, kapan dilakukan dan kapan tidak boleh dilakukan. Saya tertegun sejenak. Ah ya, menamai perasaan itu penting. Padahal caranya mudah sekali, tapi sering alpha dilakukan. Enggan dibiasakan. Kesal, kecewa, marah itu berbeda warna dan tempat dalam spektrum emosi Plutchik. Berbeda emosi, berbeda cara berekspresinya. Katanya, (ini judgmental) orang-orang yang terbiasa mudah dimarahi oleh orang tuanya, mereka akan dengan mudah mengekspresikan emosi marah dan kesulitan mendeteksi emosi lain yang ada di belakang kemarahan mereka. Marah bisa karena kecewa, marah bisa karena sedih, marah bisa karena enggan, marah bisa karena tak pernah melewati kondisi tertentu sebelumnya. Saya pernah melihat seorang pengguna jalan yang marah-marah saat motornya mogok. Bapak itu membonceng seorang anak perempuan. Bapak ...