TERKAIT
Beberapa hari yang lalu, aku menulis tentang bulan ini. Bulan yang ter-ter-ter entah ter apa. Dan lucunya, semua itu rasanya bukan kebetulan semata. Bulan ini aku kehilangan sahabatku. Sahabat jauh yang baru kuakui sebagai sahabat karena ia yang mulai mengakuinya di akhir hidupnya. Haha, lucu ya? sangat lucu sekali. Sampai aku tak bisa berhenti tersenyum sambil menangis. Baru kali ini rasanya jerih melihat profil social network seseorang yang telah tiada. Tolong jangan tanya kenapa, karena aku tak tahu dengan pasti apa sebabnya. Hem..berkali-kali kucoba tahan sesak di tenggorokan karena ingin menangis dan berteriak. tapi lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum sambil menangis. Senyum yang jerih. Senyum yang akan jadi alat untuk mengikhlaskan semua ini sebelum diikhlaskan. Ah, aku tak suka kata sabar dan kini bertambah menjadi tak suka kata tabah. Mungkin kata ikhlas lebih baik, meskipun sama-sama abstrak. Sama-sama absurd. Sama-sama tak ingin kuucapkan untuk orang lain....