Posts

Showing posts from May, 2013

GARA-GARA AL KAUTSAR

Pagi itu aku naik angkot dengan menggerutu. Dadaku sesak dengan rasa kesal yang tak menentu. Namun seketika bisa hilang karena tingkah polah bocah yang arif tiada dua. Ia menghafal surat Al-Kautsar dan mengulangnya berkali-kali. Awalnya aku tak memperdulikannya. Tapi anak itu terus mengulang hapalannya. Tiba-tiba hatiku terenyuh entah mengapa. Hapalan anak kecil itu menenangkan otakku yang berkutat dengan kemarahan. Tapi hingga kini, aku tak mengingat penyebab kemarahanku saat itu. Yang kuingat hanya celoteh hapalan surat Al-kautsar yang terdengar samar-samar dari anak kecil itu. Dik, semoga kau jadi anak yang sholeh ya. Terimakasih Tuhan, Kau sangat baik padaku.

TAK CUKUP DUA RIBU

Sore itu memang mengasyikkan. Kami menduga-duga interpretasi dari bercak-bercak tinta yang ada di depan kami. Kami sedang belajar tes kepribadian proyektif yang tersohor sulit untuk dipelajari. Namanya tes Rorscach alias Ro. Setiap jawaban ditransformasi menjadi kode-kode skoring tertentu dan sedikit banyak mencerminkan kepribadian orang tersebut. Sulit, namun mengasyikkan. Belajar tes-tes psikologi selalu membuatku merasa beruntung mempelajari teori-teori kepribadian dan teori-teori psikologi lainnya sebelumnya. Intinya, sore dimana kami belajar bersama dalam kelas Ro selalu menyenangkan. Tapi yang akan kuceritakan bukan tentang interpretasi Ro ataupun administrasi tesnya. Tapi tentang dua orang teman dekatku di kelas itu, Eli dan Nisa. Eli biasa kupanggil Mamen karena kebiasaannya menambahkan kata itu dibelakang percakapan dalam bahasa inggris saat kami kursus bahasa Inggris di tingkat satu. Nisa sering kupanggil Teh Nisa karena penampilannya yang terlihat kalem dan lembut,...

TERIMAKASIH, DINA

Aku termasuk orang yang saat ini tak bisa dengan mudah menahan emosi negatif terutama marah. Ya, jikalau amarah bisa berubah menjadi uang, mungkin aku sudah menjadi orang terkaya sedunia karena terlalu sering marah-marah. Jeleknya, setiap marah pasti orang-orang yang ada disekitarku kena imbasnya. Nyolot sana, nyolot sini. Menyebalkan. Umumnya, bila sedang marah, teman-temanku enggan mendekat karena malas kena semprotan yang panjang bukan main. Tapi berbeda dengan temanku satu itu. Dina. Namanya Dina Hazadiyah, ia sering menuliskan kata “rainbowstar” diakhir nama depannya sebagai nama gaul di barang-barang miliknya termasuk berbagai akun sosial media yang ia punya. Dina termasuk orang tersabar dari segelintir orang yang sabar berinteraksi denganku. Ia orang yang pemalu, baik, ramah dan juga sabar. Suatu hari entah karena apa, aku tak bisa menahan diri. Marah-marah tak jelas. Mengoceh tak tentu arah. Intinya, saat itu aku marah besar. Padahal aku sedang bergerombol...

RAHASIA

Aku sedikit tak percaya dengan kata “rahasia”. Serahasia-rahasianya kata rahasia, pasti ada banyak yang orang tahu tentang hal itu. Ini yang membuat pikiranku rancu. Rahasia oh rahasia. Tak sedikit rahasia yang kuungkapkan. Tak sedikit pula rahasia yang kudengar. Tapi dimanakah letak rahasianya bila mereka juga tahu apa yang kita rahasiakan? Ya, bagiku rahasia hanyalah manipulasi manusia yang sok-sok-an  mempertahankan sesuatu yang sebenarnya ingin diketahui oleh orang lain. Tiba-tiba terlintas dipikiranku. Mengapa Tuhan juga merahasiakan kiamat?  Ah sudahlah, otakku tak punya kapasitas mengkaji rahasia Tuhan.  Masih tentang rahasia. Dulu aku pernah menceritakan sesuatu yang menurutku rahasia. Lalu teman yang menjadi teman berceritaku bilang, “Gue sih bisa berusaha semaksimal mungkin rahasia lo gak akan bocor kemana-mana. Tapi lo juga pegang kata-kata lo kalau ini rahasia. Jangan-jangan nanti lo sendiri yang membocorkan rahasia lo.” Ya, terkadang ap...

PERTANYAAN

Aku pernah bercerita tentang senyum anak kecil yang membuatku merasa sore hari penuh warna. Aku juga pernah merasa tenang saat mendengar hapalan surat pendek seorang anak kecil di angkutan umum. Kini, lagi-lagi aku mendapatkan pelajaran berharga dari tingkah polah makhluk terjujur sedunia. Siang itu, lagi-lagi aku salah jalan. Entah mengapa kesalahan selalu menghiasi hidupku. Mulai dari salah naik angkutan umum, salah kirim SMS, hingga salah alamat. Ah, terdengar seperti lagu dangdut saja. Kembali ke ceritaku, siang itu aku hendak pergi ke suatu tempat. Namun naas, aku yang sangat sulit menghapal jalan ini lagi-lagi tersesat di kotaku sendiri. Aku memutuskan untuk berjalan. Beruntung, suhu udara di siang itu tak membuatku bercucuran keringat. Daerah tempatku tersesat pun penuh pohon rindang, sehingga aku dengan senang hati menikmati terbuangnya waktu karena tersesat. Lelah berjalan, akhirnya kuputuskan untuk naik angkutan umum kembali. Angkutan umum yang kutumpangi ha...

KATA YANG….

Sabar . Entah mengapa aku tak terlalu suka kata ini muncul dalam percakapanku terutama saat aku sedang marah. Aku selalu berusaha untuk sabar tapi nyatanya letupan-letupan kekesalan masih saja sulit untuk direduksi apalagi diredam adanya. Maka saat orang lain menenangkanku sambil berkata, “sabar Ki,” bukan menenangkanku malah sebaliknya. Membuatku kembali geram. Aneh ya? Aku juga merasa ini aneh. Stabilitas emosiku rasanya masih belum baik. Tapi benar kata pepatah yang mengatakan bahwa awal kemarahan adalah kegilaan dan akhirnya adalah penyesalan. Setiap kali marah, pasti akhirnya menyesal telah menancapkan beberapa paku tajam di hati orang-orang yang baik padaku. Perjuangan . Tak ubahnya kata sabar bagiku, kata perjuangan juga terlalu istimewa penggunaannya. Bagi beberapa orang mungkin perjuangan adalah kata yang begitu menggairahkan. Bagiku, kata perjuangan membuatku bertanya-tanya kembali, apakah hal yang kulakukan atau mereka lakukan itu benar-benar perjuangan? Memperjuan...