Posts

Showing posts from June, 2014

Sibuk Lainnya

Setiap orang yang mengetahui saya sudah lulus kuliah pasti mengeluarkan pertanyaan yang senada. "Kuliah lagi, Ki? Dimana?" atau "kerja dimana, Ki? Sibuk apa sekarang?" Biasanya saya hanya menjawab dengan senyuman sok manis dan penuh misteri. #pret Jadi begini, saya memang belum bekerja dan belum melanjutkan kuliah lagi walaupun saya ingin sekali. Hari-hari saya sekarang dipenuhi oleh kegiatan yang saya sukai, online. Haha. Yap, saya sibuk mengisi hari dengan duduk di depan komputer untuk melakukan aktivitas sambilan saya, mencari uang sebagai freelancer di sebuah perusahaan telekomunikasi di Indonesia yang sedang merintis bisnis barunya. Saya melakukan desk research  alias googling untuk mencari informasi yang saya butuhkan. Pekerjaan ini mengasyikkan. Fleksibel dan penuh ketidakpastian #tsaaaah. Selain itu, saya juga sempat ikut serta dalam penelitian di kampus maupun luar kampus. Saya juga melakukan penelitian bersama 'mantan' (ceileh gay...

Home Run

"Tujuan kita bukan puncak, tapi pulang ke rumah dengan selamat. Puncak hanya bonus, ya." Kata-kata itulah yang diucapkan oleh Kak Adit, ketua rombongan jalan-jalan kami. Saya setuju dengan ungkapan itu. Menurut saya, apapun yang kita lakukan di luar demi sebuah pencapaian, tentunya bertujuan agar kita teraktualisasi, merasa tenang, nyaman dan puas saat sampai di rumah. Apalah arti pencapaian bila hati tidak tenang, rumah berasa seperti neraka dan keluarga seperti orang yang tinggal serumah saja? Tapi bukan itu yang akan saya ceritakan disini. Saya hanya ingin berbagi kisah tentang perjalanan saya dan teman-teman seperjalanan dari puncak Gunung Rakutak ke rumah kami masing-masing.  Di puncak Gunung Rakutak, kami makan bersama dan menunaikan shalat. Kemudian berfoto beberapa kali. Kami berbincang ringan tentang rute perjalanan kami. Salah seorang dari kami bertanya tentang jalur mana saja yang mungkin digunakan untuk turun ke bawah selain melewati jembatan siratul m...

Jejakan Pertama di 1922 MDPL (2)

Perjalanan kami tidak menyenangkan tapi sangat sangat menyenangkan! Bagaimana tidak, kami yang awalnya berjalan tegak, lalu berubah ke sedikit menunduk, hingga akhirnya merangkak untuk melewati jalur pendakian. Kami cukup sering berhenti karena tidak semua peserta pendakian memiliki ketahanan tubuh yang sama. Tapi seiring dengan bergulirnya waktu, jumlah waktu istirahat kami berkurang sedikit demi sedikit. Saya yang notabene adalah seorang pemula, berkali-kali bertanya apakah kami sudah sampai di kaki gunung atau belum. Seorang teman menjawab bahwa kami masih ada di perkebunan warga. Aduh mama sayange, kapan sampainya? Semakin menanjak semakin menakutkan untuk saya. Kami berjalan diapit oleh jurang. Singkat cerita, akhirnya kami sampai di Bumi Perkemahan Tegal Alun yang kabarnya adalah puncak 3. Oh ya, gunung ini mempunyai 3 puncak. Saya tidak tahu dengan pasti letak puncak ketiga. Setelah beristirahat sejenak, kami kembali mendaki lagi. Medan pendakian semakin membuat saya...

Jejakan Pertama di 1922 MDPL (1)

Naik gunung. Saya sangat terobsesi ingin melakukan hal itu. Bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk membentuk karakter saya yang menye-menye enggak jelas ini. Rencana demi rencana sempat tersusun. Mulai dari Gunung Papandayan, Gunung Tangkubanparahu hingga Gunung Gede. Semua rencana itu batal dengan berbagai alasan yang membuat saya cukup patah hati.  Di salah satu grup LSM yang dulu pernah saya ikuti, dipaparkan rencana 'jalan-jalan' ke Gunung Rakutak. Kebetulan rencana saya pergi ke Gunung Gede batal beberapa hari yang lalu. Dengan semangat 45 saya mendaftarkan diri untuk ikut 'jalan-jalan' tersebut. Sialnya, setelah mendaftar saya baru ingat kalau ada pentas seni di sekolah di hari itu. Malu-malu saya mengabari bahwa saya tidak bisa ikut. Yah, gagal lagi ngasah mentalnya :-( Hari Sabtu, 21 Juni 2014, saya masih ada di Sukabumi untuk melakukan penelitian. Saya semakin galau untuk ikut atau tidak ke Gunung Rakutak. Tepat di hari yang sama pada jam 21.30 WIB saya ...

Significant

This morning I have watched a video that shows me how small earth is. It is beginning from Himalaya, where the highest point of the world. Zoom outed to Tibet, Planet Earth and its orbit, until far away from Earth. My friend writes on his Facebook status, “are we cosmically significant?” His question reflecting a message of that video. Our cosmos are very heavy, overly tidy and complicated. Our milky way galaxy actually just a dot of ray between many rays in space. How can our Planet Earth ain’t bigger than an invisible dot?  How can some scientist argue that this universe created offhand? How can some people don’t trust there is a God who created everything with excellent composition? How can they feel that God not significant in their life? I imagine there were a human in some planet in another galaxy. Are they human like us? Are they have eyes, mouth, nose and same body with us? Are they looking like an alien that some people convenience before? Are they using a UFO to ma...

Pecahan Hari (4)

Malam Malam menjelang saat saya dan teman-teman beranjak dari tempat makan. Saya dengan seorang teman menggunakan angkot sedangkan teman yang lain menggunakan motor dan menempuh jalur pulang ke rumah yang berbeda. Angkot adalah salah satu moda transportasi umum yang sangat sering saya gunakan. Ada banyak kejadian menarik yang saya dapatkan selama saya menumpang di berbagai angkot yang tersebar di kota-kabupaten Bandung. Salah satunya di malam ini. Kemacetan Tegalega memang tak bisa dielak. Saya memilih turun dari angkot berwarna ungu dengan trayek Cisitu-Tegalega beberapa meter sebelum tempat pemberhentian seharusnya. Macet sekali. Berbagai kepentingan manusia bercampur disitu. Kepentingan para pedagang yang menghabiskan ruang bagi para pejalan kaki, kepentingan para pejalan kaki yang berjalan dengan langkah panjang-panjang walau beberapa dari mereka berhenti kemudian menghampiri para penjual di pinggir jalan, hingga kepentingan para pengendara motor dan mobil, termasuk angkot d...

Pecahan Hari (3)

Sore Tak terasa urusan di IDP selesai. Kami menuju salah satu tempat makan untuk memadamkan kelaparan yang terjadi di dunia percacingan di perut kami. Selain itu, saya juga menunggu beberapa teman lainnya untuk makan bersama dan juga berdiskusi tentang rencana kegiatan sosial komunitas kami di bulan ini. Kami datang ke tempat tersebut dan langsung memesan makanan dan minuman kemudian bergantian untuk shalat. Sayang disayang, temanku tak bisa bepergian terlalu lama. Anaknya menunggu di rumah. Sebelum bertemu temanku yang lainnya, temanku satu itu pergi meninggalkanku sendiri menyepi kekenyangan. Karena merasa tak nyaman ditinggal sendiri dengan hot plate  dan gelas yang kosong melompong di atas meja, akhirnya saya memesan minuman lagi. Saya mulai resah. Resah karena banyak hal, salah satunya karena kekenyangan. Entah mengapa saya selalu merasa tidak nyaman saat merasa terlalu kenyang. Yaaa, persis seperti ungkapan Pak Ahok, Wagub DKI Jakarta, "kalau lapar galak, kalau kenyang ...

Pecahan Hari (2)

Siang Saking asiknya mengobrol, saya lupa kedatangan saya di pagi hari itu adalah untuk ikut berkumpul untuk evaluasi dan briefing  penelitian kerjasama antara pihak Fakultas Psikologi UIN SGD BDG dengan BKKBN Jabar. Ponsel saya bergetar berkali-kali. Saat saya tengok ternyata ada beberapa pesan dari anggota tim enumerator yang mengabarkan bahwa perkumpulan sudah dimulai. Saya bergegas undur diri kepada dosen saya itu, lalu pergi ke ruangan sebelah, tempat diadakannya perkumpulan. Ternyata acara memang sudah dimulai dan saya mengikuti dengan sesekali mengangguk sambil mengunyah cemilan keripik dan kacang Bogor. Berbagai evaluasi dan pengaturan teknis lapangan dijabarkan. Acara berlangsung singkat. Tepat jam 11.30 acara selesai.  Saya bergegas pergi ke kontrakan salah satu teman untuk meminjam peralatan mendaki gunung. Ceritanya saya mendaftar untuk ikut serta tim pendaki ke salah satu gunung di Jawa Barat. Yah, namanya juga pemula, saya pinjam barang-barang dan perlengk...

Pecahan Hari (1)

Hari ini terlewati dengan cukup unik. Diawali dengan evaluasi hasil survey penelitian beberapa hari lalu dan diakhiri dengan kehujanan di detik-detik terakhir sampai ke rumah. Mari saya ceritakeun (dengan nada Pak Harto ya :D ) rangkaian hari menarik ini.  Pagi Saya lupa jadwal evaluasi penelitian yang dijadwalkan hari ini jam 10 tadi pagi. Saya sedang asik membuat gorengan tahu untuk disantap setelah kegiatan cuci-mencuci baju selesai. Tiba-tiba perasaan saya tidak enak. Rasanya ada yang terlewat. Sambil membolak-balik gorengan tahu agar tidak gosong, saya baru ingat, hari ini ada jadwal evaluasi. Sial, sudah jam 9! Saya menyiapkan diri dan lupa dengan tahu yang ada di kuali. Taraaaa! Singkat cerita, tahu gosong. Baiklaaaaaah. Gagal lah usaha saya menjadi gadis oke yang andal memasak tahu goreng. Haha. Perasaan kalut menghantui. Pasalnya, ini bukan kali pertama saya terlambat mengikuti briefing penelitian. Bisa-bisa saya di- blacklist  dari jabatan enumerator yang...

Rumah

Hingga sekarang, saya masih belum ada ide dan keinginan memiliki rumah di satu tempat dalam jangka waktu lama. Di mimpi saya, rumah adalah tempat saya untuk berpijak sejenak. Sebelum atau sesudah melakukan banyak manuver dan perjalanan hebat. Saya membayangkan diri saya ke depannya berpindah dari kota ke kota lainnya, satu pulau ke pulau lainnya, bahkan kalau bisa satu negara ke negara lainnya. Berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Berpindah untuk memperluas wawasan. Berpindah untuk memperluas cara berpikir. Berpindah untuk menemukan banyak keunikan manusia. Saya suka sesuatu yang bersifat temporal. Tak perlu mempertahankan banyak hal dalam kurun waktu yang cukup lama. Rasanya saya mulai teracuni slogan salah seorang teman yang mengatakan bahwa dunia terlalu sempit bila dilihat dari satu sudut pandang. 

Sensitif

Em, gini. Saya merasa bahwa saya bukanlah orang yang halus perasaannya, karena lebih sering disebut orang yang ketus dan jutek daripada orang yang perhatian, baik hati dan tidak sombong. Tapi akhir-akhir ini saya merasa diri ini terlalu sensitif. Momen pemilihan presiden RI yang sebentar lagi akan diselenggarakan memberikan beberapa dampak yang menurut saya negatif.  Facebook menjadi 'rumah' di dunia maya yang tidak menyenangkan. Hujatan, cacian, hingga fitnah-fitnah bertebaran.  Saya pernah merasakan bagaimana rasa sakit hatinya bila orang terdekatku diejek oleh orang lain. Sedih. Geram. Muak. Sakit hati. Sakitnya tuh  disini! *sambil nunjuk dada  Saya tidak habis pikir bagaimana perasaan keluarga yang diejek. Sedihkah? Sakit hatikah? Apakah mereka merasakan hal-hal tak enak yang saya rasakan?  "Ya..itu sih risiko. Kenapa juga dia mau maju jadi capres kalau gak mau dikritik?"  Mungkin itu jawaban yang sering saya dengar. Iya juga sih. ...

Tea For Two: Saat Manis Cinta Pudar Rasanya

Image
Tea For Two, sebuah novel dari Clara Ng ini baru selesai kubaca. Padahal buku itu sudah naik cetak sejak 2009 lalu. Ah, betapa tak up date- nya diriku ini. Karya kesebelas dari Clara Ng ini mengisahkan tentang kisah cinta Sassy, CEO perusahaan makcomblang bernama Tea For Two.  Sassy adalah gadis cantik, mapan dan cerdas. Ia percaya dengan konsep cinta abadi. Konsep cinta yang ditawarkan dengan seringnya oleh banyak film dan novel di dunia. Konsep cinta yang terkadang membuat orang lain geli karenanya.  Ia mendirikan perusahaan biro jodoh. Mengajak para jomblo di kota metropolitan untuk bertemu jomblo lainnya. Bila nyatanya cocok, hubungan mereka tak jarang berakhir di pelaminan. Bila tidak, perusahaan Sassy tidak akan memaksakan mereka saling suka. Intinya, peran orangtua, teman dan sahabat yang biasanya menjodohkan seseorang, dianggap celah bisnis yang menjanjikan oleh Sassy. Bisnisnya bertambah menjadi  wedding organizer  para klien TFT. Apakah bisni...

Diksi Berbeda

Aku menyukai diksi yang tak biasa dipakai banyak orang. Aku menyukai tulisan dan lagu yang membahasakan sesuatu berbeda dari biasanya. Lebih dalam. Lebih bermakna. Lebih terasa pribadi. Rasanya berbeda saat mendengar satu kata yang tak pernah aku dengar sebelumnya. Rasanya aku bisa terlena bila membaca lantunan kata yang membuatku menggeleng-gelengkan kepala karena terbuai oleh dalamnya makna. Aku suka diksi yang berbeda.

Saat Kata Tak Lagi Hanya Kata

Sore menjelang malam. Saya masih duduk manis di depan komputer. Sebagai aktivis di dunia perfesbukan, pastinya kubuka media sosial. Awalnya tak terlalu menarik. Mulai dari mengintai teman yang muncul di timeline  hingga mengomentari hal-hal tak penting kulakukan. Ya beginilah kerjaannya orang-orang kurang kerjaan. Sampai akhirnya kulihat salah satu catatan yang dituliskan oleh teman penulis yang ada di fesbuk.  Inti dari catatan itu adalah seruan untuk berhati-hati saat menuliskan sesuatu. Banyak pikiran yang akhirnya menjadi believe  hanya karena adanya pengulangan dan kesesuaian dari setiap hal yang diyakini oleh seseorang. Bayangkan bagaimana jadinya bila Karl Marx tidak pernah menuliskan idenya? Akankah ada pemikiran-pemikiran Marxisme yang bertebaran di dunia? Bagaimana bila Gus Dur tidak menuliskan pendapatnya? Akankan ada para pengikut Gus Dur yang sampai sekarang tak pernah jemu membahas pemikirannya? Well, mungkin contohnya agak sedikit tidak nyambung, yang...