JALANAN ITU PUN KINI SEMPAT BERUBAH

June 03, 2011 Qeeya Aulia 0 Comments

Sore kemarin adalah salah satu masa terpanjang yang ku rasakan selama beberapa pekan ini. Pasalnya perjalanan kampus-kosan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 30 menit berkembang biak menjadi +2-3 jam. Kau tahu kenapa kawan? Semua itu terjadi karena satu hal. Fenomena alam yang sangat biasa terjadi di Negara ini. BANJIR.
Ya, Banjir. Semua itu berawal dari hujan deras yang mengguyur kotaku tercinta, Bandung, selama beberapa jam. Aku dan rekan lainnya tak pernah menyadari apa sebenarnya yang terjadi di jalanan sana karena masih berkutat dengan ceramah panjang lebar dari beberapa rekan dan dosen pada saat itu.

Jam 16.30 WIB, aktivitas kuliah sore itu selesai sudah. Sepertinya langit tahu apa yang kami idamkan, hujan deras itu pun reda perlahan.

Setelah sholat Ashar kami bersiap untuk pulang, namun sayangnya langit kembali menangis. Tapi itu semua tak jadi masalah, karena kebanyakan dari kami membawa payung.

Memutuskan naik TMB, Damri ataupun Angkot itu tidak mudah bagiku dan teman-teman (Eli, Nisa, Emmot, Zein, Adlin, Dina, Ca’i dan Amel). Karena ada berbagai kemungkinan yang harus kami rembugkan kembali dan semua itu membuat proses pulangnya kami ke kosan menjadi lebih panjang.
Setelah beberapa menit berunding, keputusan di ambil. NAIK ANGKOT. Tak lama kemudian angkot bertuliskan CICADAS-CIBIRU (Panyileukan) berhenti tepat di depan kami. Dengan sukacita kami naiki mobil tersebut dan yakin perjalanan akan menjadi lebih singkat.

Mobil itu di penuhi berbagai canda tawa dan cerita dari beberapa orang ricuh yang ada di dalamnya. Kami seperti orang autis yang tidak pernah perduli apakah orang lain di dalam sana nyaman dengan apa yang kami lakukan, obrolkan (bahkan tertawakan) ataupun tidak.

Seperti pada sore-sore sebelumnya, jalan Soekarno-Hatta memang menjadi penghambat menjadi lebih singkatnya perjalanan para manusia yang berkepentingan disana. Mobil yang kami tumpngi berjalan perlahan, tersendat-sendat dan cenderung seperti keong.

Ah, sungguh. Hal seperti itu saja sudah membuatku ingin membuka jalan baru di atas mobil-mobil yang mengantri itu.

Kami kira kemacetan yang terjadi disebabkan oleh tumpah ruahnya mobil di jam-jam pulang kerja dan sekolah,ternyata kami salah total. Ada ribuan liter air coklat disana. Menyambut setiap kendaraan yang melewati jalan dengan penumpang yang kebingungan di dalamnya..

Aku tak tahu, dimana para pahlawan yang disebut polisi saat itu. Yang ku tahu disana banyak sekali remaja tanggung dan anak-anak kecil. Mereka menawarkan otot mereka untuk mendorong dan membantu para sopir mobil ataupun motor untuk mengarungi laut dadakan yang terhampar sepanjang perempatan menjelang Gedebage.

Angkot yang kami tumpangi di dorong oleh lebih dari lima anak kecil dan remaja tanggung karena mesinnya mendadak mati. Kami yang tadinya bercerita, ceria penuh canda tawa kini was was takut diturunkan di tengah luapan air coklat itu.

Beberapa teman mengumpulkan uang untuk anak-anak penjaja kekuatan yang mendorong mibil yang kami tumpangi, sedangkan aku hanya bisa tersenyum miris karena uang di dompet hanya tinggal selembar lagi.

Andai kami pandai menghitung jarak mobil itu di dorong oleh gerombolan kecil yang pintar mencari peluang, mungkin bisa kami taksir bahwa jarak yang kami tempuh lebih dari 350 meter. Aku sendiri tak habis pikir, ternyata mereka begitu kuat.

Perjuangan kami menyemangati pak sopir yang berusaha keras menghidupkan mesinnya dan gerombolan pendorong mobil itu di jawab dengan kepulan asap dari accu mobil yang sepertinya mengatakan bahwa ia tak sanggup lagi untuk hidup.

Akhirnya dengan berat hati kami harus merelakan diri untuk turun ditengah-tengah luapan air coklat menjijikkan itu.

Perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki di lahan pembatas yang menyerupai kebun rumput dan putri malu di tengah-tengah jalan raya empat jalur yang saat itu berubah menjadi tak lebih dari kolam ikan lele.

Pada awalnya semua seperti berjalan baik-baik saja. Namun perlahan situasi tidak mengenakkan tersebut menyebabkan masalah.

Kami berjalan beriringan disana melewati mobil-mobil mewah, angkot bahkan motor yang mogok. Aku berjalan di belakang dua orang temanku bersama seorang anak SMA yang katanya baru selesai mengerjakan tugas di rumah temannya.

Tiba-tiba air yang keluar dari knalpot motor dan dengan tepat menyemprot muka salah satu temanku yang berjalan sebelum aku dan anak SMA itu. Reflex, temanku itu marah-marah tak karuan. Namun naas, “sang tersangka” tidak merasa bersalah sama sekali. Ia tidak meminta maaf bahkan kembali menggerung-gerungkan motor sialannya itu. Tak ayal kami semua menahan tawa dan sibuk menyalahkan pemilik motor tak sopan yang sialnya bertemu kami kembali setelah urusan antara ia dan motornya selesai.

Bukan pengendara motor itu yang akan ku ceritakan disini, karena itu sangat tidak penting, lebih tepatnya karena aku juga tak tahu dan tak mau tahu bagaimana kelanjutan cerita orang aneh itu. Jadi, kau tak perlu tahu bagaimana kelanjutan cerita menyebalkan antara ia dan temanku.
Perjalanan yang kami lakukan dengan berjalan itu mengalami beberapa perubahan jalur. Mulai dari berjalan di atas lahan pembatas jalan lalu berganti menjadi berjalan menantang antrian kendaraan di jalur dengan arah berlawanan yang pinggirannya tak dipenuhi pengendara roda dua (arah ke Leuwi Panjang, Samsat ataupun Metro ^^ ) sampai akhirnya kembali ke jalur di mana seharusnya kami berjalan, yaitu di pinggir lahan pembatas jalan raya itu dengan arah yang kami tuju (arah ke Cibiru).

Karena mulai kelelahan, kami menepi dan berembug untuk memutuskan bagaimana kami harus mengakhiri perjalanan yang melelahkan ini. Namun sayang, seperti pada perundingan-perundingan sebelumnya, kami tak pernah mendapatkan keputusan dengan cepat. Akhirnya aku dan seorang temanku berjalan terlebih dahulu karena lelah menunggu kesepakatan yang tak berujung. Asal kau tahu kawan, lebih baik menggendong ransel berat sambil berjalan daripada hanya berdiri dan diam ditempat, karena dengan berdiri dan diam di tempat akan lebih terasa beratnya.
Akhirnya kami berjalan sambil menunggu angkot-angkot yang selamat dari luapan air coklat itu. Tak terasa jarak antara aku dan temanku sudah tak terukur lagi. Kami berdua sudah sampai di belokan tempat tulisan POLDA berwarna hitam dengan latar kuning berada. Namun ketika melihat ke belakang tak ada satupun dari teman kami yang lain tersisa.

Well, firasatku mulai buruk. Tapi tak lama kemudian ada angkot Majalaya-Gedebage yang berhenti tepat di seberang tempat kami berdiri. Kami berjalan mendekati angkot itu tapi urung masuk karena takut teman yang lain masih berjalan jauh di belakang kami.
Sekitar lima menit berlalu, akhirnya kami putuskan untuk menaiki angkot itu saja, ternyata semua teman kami yang kami kira tertinggal jauh dibelakang sudang duduk manis dengan wajah lelah di dalam angkot itu. Hem, lega rasanya.

Salah satu dari teman yang sudah terlebih dahulu naik angkot itu berkomentar tentang betapa cepatnya aku dan temanku itu berjalan. Tapi karena fisikku demikian lelah, dengan sedikit membentak aku katakana bahwa aku tahu aku salah dan aku tak ingin dimarahi lagi. Kau tahu kawan? Ketika fisik kita lelah, kontrol emosi negatif kita ikut melemah (ini hanya teoriku, tak usah kau ambil hati). Dan itu yang kurasakan saat itu. Namun aku sangat bersyukur karena perjalanan itu kembali berlalu tanpa konflik yang berkelanjutan, setidaknya secara kasat mata begitu.
Perjalanan pulang dengan perpindahan angkot itu berakhir hanya dengan anti klimaks yang kurang mengenakkan. Akhirnya kami sampai di bundaran Cibiru dengan wajah kuyu, celana kuyup dan mata yang sepertinya hendak terpejam saat itu juga. Perjalanan menuju kosan diteruskan dengan berjalan dan berhenti beberapa kali untuk membeli sesuatu yang bisa menenangkan konser cacing yang ada di perut kami.

Ya, cerita pun berakhir disini. Kami akhirnya sampai di tempat peristirahatan masing-masing.
Ada sedikit hal yang ingin ku catat disini. Dari kejadian ini aku dengan sembarangan menarik kesimpulan: Semakin banyak yang tidak perduli pada kegiatan buang sampah pada tempatnya, Semakin banyak sampah dimana-mana, Semakin banyak aliran air yang tersumbat, Semakin sering banjir, Semakin sering jalan bagus yang rusak, Semakin tidak perduli Pemerintah maupun masyarakatnya terhadap kesejahteraan penduduk setempat karena terlalu carut marutnya keadaan.

Seperti kata temanku yang selalu semangat mengajak untuk buang sampah pada tempatnya, AYO KITA MULAI DARI DIRI KITA SENDIRI DENGAN TIDAK MEMBUANG SAMPAH SEMBARANG!

Tapi ada satu hal lagi yang perlu dipertanyakan, sudah benarkah tempat sampah yang ada saat ini? Yang kulihat memang ada tempat sampah dibeberapa tempat, namun cenderung sulit menemukannya dimana-mana, jadi bagaimana dapat membuang sampah pada tempatnya? Kecuali mungkin jika setiap orang mau membawa tempat sampah portable berupa apapun kemana ia pergi. Dan aku juga sering melihat ada tempat sampah, namun sampah yang dibuang disana seperti diternakkan, meluap kemana-mana dan tidak di tanggulangi lebih lanjut. Well, sampah memang sudah menjadi ancaman umum. Jadi, ayo kita coba untuk memperbaikinya secara perlahan dari diri kita sendiri.

Cipadung, 28 April 2011
Di tengah kegalauan penyelesaian resume yang tak kunjung selesai.

You Might Also Like

0 komentar: