KONFERENSI INTERNASIONAL BERTEMA RESILIENCE

October 08, 2011 Qeeya Aulia 0 Comments


Hari itu, rabu 20 September 2011. Aku dan kedua temanku nekat pergi ke Depok hanya untuk mengetahui bagaimana sbuah konferensi internasional diselenggarakan. Mungkin saja, suatu saat nanti kampus kami juga bisa menjadi tuan rumah konferensi internasional selanjutnya, amin.

Tema dari konferensi internasional itu adala resiliensi. Apa sih resiliensi? Banyak pengertian resiliensi, namun beberapa yang sering dipakai adalah kemampuan untuk “bounce back” ketika ia terpuruk karena suatu hal.
Jadi, bila seseorang terkena musibah dan ia bisa bangkit dari keterpurukannya itu, kita bisa lihat seberapa tinggi tingkat resiliensinya dengan berbagai alat ukur resilensi (skala).

Acara di hari kamis di bagi menjadi beberapa bagian. Yang pertama pembukaan dan presentasi beberapa tamu undangan tentang hasil riset yang telah mereka lakukan. Mulai dari Peter Newcomb sebagai keynote speaker yang menyampaikan hasil penelitian resiliensi di tiga Negara yang ia lakukan. Selain Peter, tamu undangan Jas Laile Suzana Jaafar yang datang dari Uni of Malay, juga menyampaikan hasil risetnya di Malaysia.

Ada yang unik dari hasil penelitian Peter, di ketiga negara (Fiji, Aussie, Sri Langka) ini penelitian diikuti oleh ribuan anak jalanan di tiga Negara ini (walaupun jumlahnya variatif di setiap negara). Hasil dari penelitian inilah yang unik menurutku.
1.      Adanya kaitan antara agresi psikologis dengan psychological maladjustment. (Sri Lanka)
2.      Orang-orang tuna wisma di Fiji memiliki ketahanan terhadap kerasnya kehidupan dibandingkan orang-orang yang hidupnya makmur.
3.      Di Australia, kualitas tuna wisma disana setara dengan kualitas para pengusaha sukses. Mereka punya berbagai inovasi, berpikir kreatif dan berbagai keunggulan lainnya.


Sedangkan presenter tamu dari Malaysia menemukan social wel-being dapat menjadi dasar resiliensi. Dan setelah penelitian di dapatkan bahwa ada korelasi positif social well-bwing menjadi dasar dan membangun resiliensi.

Setelah mendengar hasil riset para tamu undangan, sedikit terlewat di pikiranku, suatu saat nanti aku juga akan bisa seperti mereka, amin.

Session kedua adalah parallel session. Jadi, semua hasil riset yang masuk disini, disortir oleh panitia dan dikelompokkan sesuai tema. Contohnya Resilience and Disaster, etc.

Kami bertiga berpisah. Karena minat yang cenderung sama, aku dan salah seorang temanku kembali bersama di beberapa parallel session. Oh ya, ada tiga parallel session dengan 5 kelompok hasil riset di setiap sessionnya. Dan disetiap kelompok terdiri dari minimal 3 hasil riset yang akan di presentasikan.

Well, jadi berapa orang yang mengadakan riset bila dikumulasikan secara keseluruhan?
3x5x3 = 75 presenter (belum termasuk anggota tim lainnya)

Para presenter hasil riset berasal dari berbagai universitas dan Negara. Kampusku mungkin belum tahu betapa mudah dan tak mewahnya menyampaikan hasil riset di konferensi ini. Sungguh, kawan. Semua terlihat biasa. Presenter yang terkadang masih aaaa…eee..eummm seperti balita karena cemas, gelisah dan (mungkin) kurang lancar berbahasa inggris.

Kami pasti bisa maju tahun depan ^^

Dengan hasil riset sebanyak itu di tahun ini, anggapanku Indonesia tidak maju dan malas melakukan penelitian apapun itu SALAH BESAR.

Aku harus belajar lebih menghargai tanah airku sendiri, menghargai diriku sendiri, menghargai potensi manusia untuk memajukan Indonesia.

Lanjut ke ceritaku tentang konferensi internasional.

Meskipun masih banyak metode penelitian yang harus dipertanyakan kembali kebenaran pemakaiannya, tapi secara garis besar ACARA INI LUAR BIASA.

Aku tahu rasanya orang Iran presentasi tentang hasil risetnya, walau aku tak mengerti apa yang beliau ucapkan dengan kefasihan inggrisnya yang menawan.

Aku tahu rasanya orang Afrika yang kini tinggal di Malaysia menggali dan memaparkan konsep islam tentang resiliensi dan berbagai tokoh didalamnya.

Aku tahu rasanya mempunyai dosen yang dengan hebatnya mempresentasikan hasil penelitian dengan lugas (ternyata dosen bisa nervous juga, ya? Hehehe)

Selain semua hasil riset yang bisa dibaca di buku proceeding, ada satu pengalaman yang paling ku ingat disini. Jamuan makanya enak luar biasa. Coffee and tea break membuatku ketagihan. Makan siang dengan menu sederhana sangat mengenyangkan dan menyenangkan. Kapan lagi makan seruangan dengan professor dan orang-orang pintar?

Ada beberapa cerita lagi yang akan ku ceritakan nanti di postingan selanjutnya. See you… :D




You Might Also Like

0 komentar: