Aalst, Belgium #9

January 04, 2015 Qeeya Aulia 0 Comments

Halo 2015! Semoga tahun ini semua yang super bisa terjadi. 

Lanjut cerita saat saya melipir ke Aalst, Belgia. 

Malam itu memang akan ada christmas market ya kalau di Indonesia mah seperti bazar lebaran gitu deh. Setiap kota di Eropa memang biasanya menggelar CM. Kebetulan sekali, kota Aalst menggelar CM sehari sebelum aku harus pulang ke Bandung. So, ini waktunya menyadari bahwa kota ini memiliki penduduk yang banyak! hahahaha. 

Saya meutuskan keluar bersama partner saya itu sekitar jam setengah 5 sore. Biasanya, yang kami lihat di jam-jam itu adalah jalanan yang lenggang walau ada satu dua orang yang berjalan kaki dengan cepat disana. Tapi sekarang banyak orang yang jalan kakiiii! Senangnya bisa lihat manusia di Aalst. 

Trotoar disana dihiasi dengan semprotan pilox silver bergambar malaikat kecil sedang memegang keranjang berisi tanda love dan bintang. Lucu deh. Selain itu tiang-tiang lampu yang bertebaran di jalanan kota dibuat seakan tongkat loli pop dilengkapi bintang dan hiasan lainnya. Aih, cantik deh kotanya!

Selain itu, ehem ini adalah bagian paling menyenangkan, hampir semua toko buka hingga jam 10 malam. Walaupun gak akan belanja belanji, saya bisa lihat sebetulnya ada apa saja di kota nyempil kayak upil satu ini. 

Sepanjang CM kita akan disuguhkan pada beragam atraksi yang dilakukan oleh masyarakat Aalst, ada yang nari api kayak Belda di acara pencarian bakat di Indonesia, ada juga yang naik sepeda beroda satu hingga ada yang berkostum seperti boneka apa ya yang dikendalikan oleh jari dan benang si empunya. Apa ya namanya? yah itulah pokoknya.   

Saya pergi ke toko coklat dan membeli beberapa kotak coklat untuk keluarga saya yang bejibun banyaknya. Selanjutnya mencari barang yang bisa dijadikan motivasi teman-teman untuk terus bermimpi dan berusaha datang ke negara penuh bangunan antik ini, postcard. 

Sulitnya perjalanan mencari postcard itu seperti sulitnya Sung Go Kong bertemu Budha. Aalst bukan kota wisata, jadi susah menemukan pernak-pernik untuk oleh-oleh para turis. Sampai kaki gue lecet, baru deh ketemu walaupun kurang bagus postcardnya. Setelah mendapatkan barang yang diinginkan saya dan partner saya memutuskan untuk makan di restoran Turki terdekat. Alhamdulillah banyak restoran Turki bertebaran disini, walaupun cuma nemu seorang ibu-ibu yang pakai jilbab selama 6 hari disana. Saya makan dengan porsi kuli tapi habis, mwahahahaha. Ada hal yang paling menjijikan yang dirasa biasa di Eropa. Mereka itu sehabis makan sangat biasa sekali mengeluarkan ingus dengan suara yang kencang membahana. Tak peduli ada orang lain yang masih makan di meja sebelahnya. Parah!!! Mungkin si markicong kalau diajak kesini akan berhenti makan seketika. Kalau gue sih enggak. Haha. 

Setelah makan di resto Turki, gue keliling-keliling ke banyak sisi di pusat kota. Eh kok jadi gue ya? Ganti lagi saya ah. Saya iseng memotret anak-anak kecil yang unyu di lapangan. Jahatnya, anak-anak itu gak saya kasih permen, saya hanya bilang terimakasih dan dadah-dadah. Pas udah agak jauh saya lihat tukang permen, jadi ngerasa bersalah juga gak dikasih permen, pas nengok ke belakang, anak-anaknya udah gak ada di tempat mereka tadi. Ah, yasudahlah. 

Setelah beli waffle berbentuk pohon cemara dan minum kopi yang pahitnya naudzubillah, saya dan partner saya ini memutuskan untuk pulang ke hotel dan beristirahat. Partner saya itu kebetulan orang yang tidak tahan dinginnya Aalst, jadi dia menggigil gak karuan. Padahal saya merasa udara disana 11-12 dengan Lembang atau Ciwidey atau Pangalengan, ya walaupun saat melihat termometer yang ada di depan salah satu toko menunjukkan suhunya hanya 6 derajat Celcius. Gak rendah-rendah amat sih. 

Saya sebetulnya merasa bersalah ke partner saya itu, ia sudah mau saya ajak kesana kesini walaupun dia lebih sering masuk ke toko untuk menghangatkan badan dan saya sibuk foto ini itu. Tapi saya malah kesal karena satu dua hal kecil dan sempat memilih diam. Partner saya jadi kesal juga ke saya. Yasudah deh kita kesal-kesal-an. Tapi saya jadi malu kan. Jadi saya minta maaf karena dia sebetulnya sudah baik sekali ke saya. Yah, kenapa jadi mellow gini ya? hahaha. 

Intinya, CM di Aalst itu indaaaaaah. Banyak manusia di pusat kota. Banyak wajah-wajah bule yang ganteng dan cantik disana. Semakin saja saya enggan untuk punya teman hidup dari benua yang berbeda. Tapi kalau memang sudah takdirnya mah gimana mau nolak atuh?

Kembali ke kehidupan di Aalst. Keesokan harinya ternyata Aalst masih ramai. Ada pasar kaget di pusat kota. Persis seperti di Indonesia. Bedanya disana lebih rapi walaupun gak rapi-rapi amat. Harga barangpun relatif bersaing. Karena saya tidak bekal banyak uang, saya tidak beli apa-apa di pasar kaget itu. Hanya menikmati hari terakhir disana. Aalst indah, apalagi Brussels dan Bruges ya? Jadi ingin kesini lagi. 

Jam 10 pagi saya dan partner saya tersebut kembali ke hotel karena jadwal berangkat kami ke bandara adalah jam 11 siang. Jadi, kami harus menunggu Ria, sopir hotel, di lobi. Jam 11 kurang, Ria sudah datang dan kami berangkat. Saya menarik nafas panjang. Kapan saya bisa kembali kesini? Pasti nanti ada waktunya, bersama orang-orang yang saya sayangi dan menyayangi saya. 

Cerita kocak tak berhenti di Aalst malah berlanjut di Brussels. Di bandara saya merasa kehilangan dompet saya..


You Might Also Like

0 komentar: