Ceritanya Tahun Baru

January 01, 2015 Qeeya Aulia 0 Comments

Tanggal 31 Desember 2014 berlalu seperti biasanya dengan kegiatan seperti biasa. Saya masuk kantor dan mengerjakan banyak hal. Eh tapi ada beberapa yang cukup diluar kebiasaan. Hari ini salah satu teman kantor saya memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Tidak ada lagi yang saya riweuhin mintain tolong ini itu, nanya ini dimana dan itu dimana, minta pendapat tentang hal ini atau itu. Saya merepotkan dia dengan banyak hal dan orang itu selalu sabar menghadapi saya. Saya sendiri juga heran mengapa saya selalu menyebalkan seperti ini. Hufft. 

Sedih-sedihan mewarnai hari itu. Satu persatu orang pergi. Satu persatu zona yang sudah nyaman bergerak ke tidak nyaman lagi. Ah, lagi-lagi kubilang, aku benci dekat dengan orang lain. Aku benci perpisahan. Tapi apa mau dikata, kedekatan tak bisa dielakkan. Semua selalu seperti itu. 

Di malam tahun baru itu ada yang tak biasa dalam hidup saya. Biasanya, di malam tahun baru saya tinggal di rumah dan tidur. Tapi malam tadi saya bergabung di hiruk pikuk keramaian tahun baru di Bandung. Mulai dari mesjid agung hingga ke Gasibu. Sungguh, saya sangat menikmati keramaian di mesjid agung, tapi sebaliknya dengan gasibu. Saya mengantuk, terlalu ribut dan ternyata begitu saja toh yang namanya pesta kembang api? Bagus sih.

Para penonton kembang api sibuk berfoto dan memoto kembang api. Dentuman kembang api paling keras disambut dengan suara takjub penonton. Percikan warna warni kembang api, disambut blitz maupun ponsel para penonton. 

Saya masih gagal paham indahnya kembang api. Bagaimana sesuatu yang indah meninggalkan asap yang mengganggu penciuman? 

Semua hal di dunia memang sepertinya selalu seperti itu. Begitupun dengan perasaan. Begitupun dengan banyak hal yang ada di hidup kita.

Awalnya semua hal serasa bedentuman dalam satu waktu. Membuat terkejut karena mengajak kita menghadapi situasi yang tidak biasa. Saat dentuman itu berlalu, maka percikan api yang diakibatkan banyak hal mulai memancar. Membuat segala hal menjadi indah walau beberapa hal membuat kita terbakar. Lalu, ini yang paling dramatis. Semua keindahan itu hilang dan hanya meninggalkan asap pekat dengan bau terbakar. Walau terkadang butuh waktu, semua hal terasa begitu cepat. Hanya butuh waktu sekejap mendapatkan asap setelah warna warni indah di langit pekat sana. 

Terimakasih 2014. Di tahun ini saya sudah merasakan, menikmati dan menyesap banyak hal baik yang berguna ataupun tidak. Terimakasih Tuhan sudah memberikan banyak hal menarik di tahun itu. Dimana perubahan status dari mahasiswa menjadi mbak-mbak kantoran. Dimana banyak pergolakan terjadi baik yang positif maupun negatif. Dimana kaki ini bisa menjejak belahan bumi nun jauh disana. Dimana orang ini masih merasakan kasih sayang orang-orang yang sayang. Dimana manusia ini lagi-lagi sering patah hati walau sudah terlatih patah hati. Menakjubkan. Tahun ini sungguh menakjubkan. Terimakasih Tuhan. 

Bandung, 1 Januari 2015


You Might Also Like

0 komentar: