Malaysia, We are Coming!!! #3

May 31, 2015 Qeeya Aulia 0 Comments

Sore di Terminal Bersepadu Selatan, kami lelah dan duduk senderan di samping tong sampah. Sedih ya? Hanya itu satu-satunya tiang yang ada terminal kosongnya dan tak bertuan. Ceileh bahasanya tak bertuan. Hahaha. Saat kami mulai lemas dan waswas karena makhluk bernama Melati yang memilih tinggal di Singapura lebih lama daripada ikut saya dan Ica untuk pergi ke Melaka belum datang juga. Tiba-tiba ada seseorang yang mencolek saya. Saya menoleh. Ternyata ada manusia cantik berkacamata yang tersenyum pada kami. Ooo em jiiii. Azka!

Kami pikir nasib naas kami hanya milik kami saja. Nyatanya, lebih naas lagi nasib Azka. Calon guide kami yang memang belajar di Malaysia ini sudah menunggu kami sejak jam 9 PAGI! PAGI loh PAGI!!! Sedangkan kami sampai di KL jam 5 sore. Fufufu. Sejenak melepas lelah perjalanan Masjid Jamek-TBS, kami mengobrol ringan. Tanpa diminta, Azka sudah bercerita panjang lebar tentang kegiatannya, kesibukannya dan pengalamannya ikut lomba debat antar negara di Qatar beberapa waktu lalu. Akhirnya paspor Azka kena cap lain selain cap imigrasi Malaysia dan Indonesia. Hahaha. 

Kami kelaparan. Tapi kebingungan saat ditanya, 'mau makan apa?' Akhirnya kami menuju restoran cepat saji sejuta umat : KFC. Haha. Awalnya saya ingin makanan yang tak bisa ditemukan di Indonesia. Sayang disayang, rata-rata harganya cukup membuat kami berpikir ulang. Akhirnya ke-KFC-lah kami menuju :D

Oh ya, kalau tidak biasa dengan nasi lemak atau lemang eh apalah itu, baiknya tidak memesan paket nasi. Karena kata Azka, nasi disana disesuaikan degan lidah orang-orang Malaysia. Tante Azka yang beberapa waktu lalu datang ke Malaysia pernah protes karena nasi di KFC seperti nasi basi yang basah dan lengket-lengket. Yaaa namanya juga selera orang di tiap negara beda ya.. Karena saya sedang manja alias males makan yang aneh-aneh dulu setelah berjalanan panjang Melaka-KL, akhirnya saya nurut apa yang disarankan Azka. Saya pesan ayam dan kentang plus spagetti. Rasanya saya bisa gendut mendadak kalau setiap pergi jauh nafsu makannya kayak kesurupan begini. 

"Kak, kalau di Indonesia, sering kan kita lihat tulisan kalau kita bakal dapat bonus apaa gitu saat kasir atau pegawainya gak senyum dan ramah. Nah, kalau disini gak ada tuh rumusnya begitu. Jadi muka pegawainya kayak kurang uang semua."

Saya tertawa mendengar lelucon itu. Tapi saya jadi mikir, ramah banget yaa orang-orang di Indonesiaaaa!!! 

Makanan kami datang. Dari segi rasa memang agak berbeda dengan KFC yang ada di Bandung. Apapun yang saya makan rasanya enak-enak saja saat itu. Lapar, jenderal!

Selesai makan, kami memutuskan untuk pergi terlebih dahulu ke hotel dan menaruh barang-barang disana. Masalah Melati sampai di KL jam berapa, kami pikirkan kemudian. Kami menggunakan Rapid KL. Konter pembelian tiketnya persis seperti konter pembelian MRT di Singapura. Kami hanya perlu memilih stasiun tujuan, jumlah orang dan bayar. Uang yang bisa dimasukkan ke mesin kalau tidak salah mulai dari 5-20 RM. Bila uang sudah dimasukkan, koin plastik Rapid KL akan keluar. Kami hanya perlu tap koin di tempat yang disediakan. 

Agak lama kami menunggu monorel datang. Akhirnya monorel yang kami tunggu datang. Kami kebagian tempat dudukk!! horeeee!!!

Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke stasiun Bukit Bintang. Ah ya, kami turun dulu di Hang Tuah untuk sholat sebentar. Eh ya, kisah Hang Tuah dan Hang jebat dan Hang-Hang yang lainnya cukup terkenal disini. 

Sesampainya di Bukit Bintang, kami harus mencari Jl. Alor. Wohooo pencarian yang melelahkan karena kami harus berjalan memutar karena ada perbaikan jalan di sekitar jalan. Sampailah kami di Apple hotel. Hotel yang ada di pinggir jalan yang penuuuuuhhhhh dengan penjual makanan di malam hari. Sungguh, Jalan Alor benar-benar hamparan kuliner malam yang tak pernah tidur. 

Hotel yang kami tempati menarik. Semua furniturenya selalu berkaitan dengan apel hijau alias apel Malang. Kamar kami di-upgrade oleh pihak hotel karena kebetulan hotel sedang penuh. Tak payah lah. Haha. Sesampainya di hotel, kami mengobrol ngalor ngidul sebentar. Disanalah saya tahu bahwa logat sok-sok-an Melayu yang saya pakai adalah Melayu Sumatera. Wkwkwk. Pantesan dapatnya harga turis terus. Padahal hanya beda 'kah' dan 'keh'. Yasudahlah, rejekinya si mamang dan si ibu yang jualan. 

Merasa cukup bugar untuk kembali jelong-jelong, kami menuju Petronas Twin Tower. Kami menggunakan Go KL Bus Green Line dari Bukit Bintang Bus Stop. Oh ya, kamu bisa naik Go KL Bus dengan gratis bila menggunakan Go KL Bus Green Line dan Purple Line. Untuk Blue Line kamu harus bayar. 

Sesampainya di Petronas Twin Tower, Azka ditelepon Melati. Katanya dia baru sampai TBS. Duilee.. 

Akhirnya kami janjian di statiun monorel KLCC. Kami menunggu cukup lama, hampir 2 jam. Azka tidak bisa menemani kami karena dia harus kembali ke Negeri Sembilan menggunakan train terakhir. Azka juga tidak jadi menjadi guide kami sebagai tamu agung di Malaysia, karena ada ujian 2 mata kuliah yang harus ia hadapi besok. Yasudahlah, kami cukup sotoy untuk keliling titik utama foto sejuta ummat di KL. 

Jam 11 malam kami masih belum bertemu Melati. Azka harus pulang. Saya dan Ica masih harus menunggu di depan penjaga tiket supaya mudah melihat orang yang masuk dan keluar train. Ah ya, penjaganya jutek banget mak!!! Kami tanya, "train terakhir sudah datang?" Dia jawab, "Tak tahu lah. Kenape? Coba tanya teman awak sudah sampai dimana dia."

Deziiig. Kalo bisa nanya gak akan nanya elo keles!

Hampir jam 12 malam dan kami masih belum bertemu Melati. Saya dan Ica memutuskan untuk menunggu di depan Petronas Twin Tower. Ternyata kami berpapasan dengan manusia yang kami kenal.

(Bersambung)

You Might Also Like

0 komentar: