Review: Gadis Pantai

June 13, 2015 Qeeya Aulia 0 Comments

Malam itu tiba-tiba saja saya ingin membuka akun twitter. Entah pasal apa, tiba-tiba saya sibuk membaca kicauan-kicauan dari @PramQuotes yang berisikan kutipan kata-kata bijak dari sastrawan ternama Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Tiba-tiba, saya menemukan akun @susastra_ dan ternyata akun ini menjual buku-buku Pram. Tertariklah saya pada paket buku bernuansa wanita: Gadis Pantai, Larasati dan Cerita Calon Arang. Sebetulnya, saya agak trauma dengan tulisan Pram. Sejak membaca Manusia Bumi dan satu lagi saya lupa judulnya, selalu saja ada bagian cerita tentang zina sang tokoh utama. Namun Pram dengan apik membalutnya dengan kata-kata yang menurut saya mengurangi kadar mesumnya. Berharap di buku itu tak ada hal negatif yang sama, akhirnya saya pesan paket murah-meriah tersebut. 

Paket datang sekitar 5 hari setelah pemesanan. Gadis Pantai adalah buku pertama yang saya baca. Cerita tentang brengseknya para priyayi yang pintar mengaji dan tak pernah absen sholat 5 kali sehari. Cerita tentang betapa dungunya para priyayi yang menjadi antek-antek Belanda lalu serta merta merasa diangkat Tuhan menjadi perwakilan-Nya di bumi Nusantara. 

Tersebut Gadis Pantai, gadis cantik yang berasal dari Desa Nelayan di Jawa Tengah sana. Ia dinikahkan bapaknya oleh sebilah keris. Benda yang mewakili salah satu priyayi untuk meminang gadis itu. Gadis itu baru 14 tahun, dan ia harus mau menjadi selir priyayi. Sialnya, gadis itu tak tahu bahwa dirinya hanya dijadikan budak seks pembesar penjilat Belanda saja. Ia tak tahu bahwa dirinya bisa saja dengan mudah ditendang dari rumah besar sang Bendoro karena pada dasarnya para priyayi belum dianggap sudah menikah bila ia menikahi gadis dari kalangan rakyat jelata. Itu hanyalah pernikahan latihan atau percobaan sebelum priyayi tersebut menikahi gadis keturunan priyayi juga.


source: bisikanbusuk.com

Plotnya apik dengan bahasa yang jarang saya temukan di buku-buku lainnya. Pram mengalirkan cerita ini dengan baik tanpa sisipan-sisipan cerita tak berguna yang ditujukan untuk menambah serunya cerita. Pram juga menggambarkan dengan gamblang betapa agama bagi banyak pejabat bak guci mahal yang diletakkan di ruang tamu. Hanya perhiasan. Hanya pelengkap. Pelengkap topeng berilmu mereka. 

Saya pernah membaca tentang tulisan yang membahas cara Belanda menaklukan Indonesia. Sayangnya saya lupa tulisan siapa dan dapat darimana. Disana dijabarkan bahwa masyarakat Nusantara yang notabene sudah terlalu terbiasa dengan sistem pengabdian dan kehidupan monarki, dimana raja dan pembesar-pembesarnya adalah segalanya. Rakyat rela mengabdikan diri mereka kepada raja secara cuma-cuma. Rakyat rela memberikan sebagian hasil panen mereka untuk kepentingan raja dan rengrengannya. Payung, baju kebesaran dan juga tahta maupun singgasana adalah simbol dari kekuasaan para raja dan pejabat-pejabatnya. Dengan cerdasnya penjajah memanfaatkan hal ini. Penjajah menggunakan kerajaan dan pemerintahan setempat sebagai pasak penjajahan mereka. Raja dijadikan boneka yang bisa memuluskan kepentingan penjajah di Nusantara. Bila para penjajah menyerang rakyat atau kerajaan, maka rakyat dengan segera akan menyerang dan tak mau takluk terhadap penjajah. Namun dengan cara menaklukan dulu kerajaan dengan memperhatikan simbol-simbol kebesaran kerajaan, rakyat akan cenderung tunduk dan takluk kepada raja mereka. 

Membaca buku Pram seperti membaca buku sejarah namun dihiasi dengan roman yang mencengangkan. Nyatanya, sifat binatang manusia sudah ada sejak lama. 


Ciparay, 13 Juni 2015

You Might Also Like

0 komentar: