Stabil

June 30, 2015 Qeeya Aulia 0 Comments

Stabil. Menurut KBBI, stabil berarti mantap, kuku, tidak goyah, tetap jalannya, tenang. Siapa sih yang tidak suka kondisi stabil? Ah ya, ada saja orang-orang yang menyukainya, mereka orang-orang yang mudah beradaptasi dengan perubahan. Bagaimana yang tidak? Itulah persoalannya. 

Beberapa waktu yang lalu ada seorang teman yang baru saja diterima bekerja secara temporal di sebuah perusahaan multinasional. Meskipun pekerjaannya sangat bertolak belakang dengan latar belakang pendidikannya, teman saya itu tetap memutuskan untuk mengambil tawaran pekerjaan tersebut. Namun baru seminggu, triger stress seolah-olah menghantuinya. 

Ia mengeluhkan minimnya arahan dari superior, rumitnya tugas dan dampaknya terhadap psikisnya. Saat itu saya baru tahu ada riwayat hyperstress yang pernah ia alami karena beberapa masalah di perkuliahan dan kehidupannya beberapa tahun yang lalu. Ia takut riwayat sakitnya akan terulang bila ia terus bergelut dengan pekerjaannya sekarang. 

Dengan pembawaan pencemas dan mudah stress itu ia merasa takut dan ragu dalam mengambil setiap langkah yang berkaitan dengan pekerjaanya. Sedihnya, selama ia bercerita entah berapa kali ia menyebutkan bahwa yang salah adalah dirinya. Masalah ini menjadi masalah karena kondisi internal dirinya tidak stabil dan rentan terhadap stress. Ia sadar itu masalah terbesarnya, dan ia sangat meyakini bahwa dirinyalah penyebab terbesar munculnya masalah. Mungkinkah kondisinya saat ini stabil? Jawabannya jelas tidak. 

Lalu, apakah kehidupan kita semua stabil? 

Saya pernah melihat meme menyebutkan, "Bila seluruh hal bisa kau kontrol, larimu tak begitu cepat."

Kutipan itu memang menantang. Mengajak setiap orang yang melihatnya optimis bahwa segala hal yang tidak terkontrol membuktikan kecepatan kita dalam melakukan sesuatu. Tapi bagi rekan saya itu mungkin akan berbeda. Kutipan itu bisa saja membuatnya mundur lalu meyakini dirinya memang tak bisa lari cepat karena lebih senang dengan keadaan yang terkontrol dan berada di zona amannya. Tujuannya untuk mengurangi pemicu stress dan perasaan tertekan yang tak terkendali. 

Sebetulnya teman saya itu hanya ingin didengarkan. Tapi saya gatal untuk tidak diam dan membuatnya merasa tersiksa karena kondisi yang menurutnya tidak stabil di area kerjanya. Menurut saya, mau tak mau ia harus beradaptasi. Bila dulu ia menyerah dan mundur lalu dibuat tak berdaya oleh kecemasan-kecemasannya, sekarang bukan waktunya lagi. Saya memberikan beberapa cara yang mungkin bisa mengurangi kecemasannya bila melakukan kesalahan. Cara yang cukup jitu di awal masa kerja saya. Karena menurut saya, perubahan akan selalu terjadi, mau atau tidak mau kita menghadapinya. Sampai kapan bisa merasa stabil kalau dunia sebenarnya tak pernah stabil? Bukankah hal yang stabil itu ketidakstabilan?

Kondisi stabil bisa dicapai dengan memodifikasi perilaku kita sendiri. Caranya seperti orang-orang yang pada umumnya lakukan: membuat list pekerjaan dan menargetkan setidaknya 1 hal kecil setiap harinya yang mendukung kepada kondisi stabil dalam bekerja yang kita inginkan. 

Saya pribadi merasa diri ini terlalu sotoy alias sok tahu. Tak apalah. Menenangkan manusia memang terkadang harus sotoy dan tidak sama pasrahnya. 

Setelah rekan saya itu selesai bercerita, lalu saya bertanya pada diri sendiri, apakah saya terlihat tegar dan 'sehat' sehingga orang lain dengan mudahnya bercerita tentang keluh kesahnya yang hanya diceritakan pada orang-orang terdekat? 

Yah, begini lah nasib 'bermuka sawah tadah hujan dan bertelingan tempat sampah penampung keluh kesah."


Bandung, 30 Juni 2015


You Might Also Like

0 komentar: