FASE ALAY

August 07, 2011 Qeeya Aulia 0 Comments

Semua orang mungkin pernah jadi orang-orang alay. Entah itu dari gaya tulisan, gaya omongan, gaya berpakaian, dan lain lain (yang penting bukan gaya batu, gaya kodok, gaya ikan cupang dan gaya-gaya lainnya di kolam renang).

Aku juga pernah. Bayangkan, aku menulis di blog ini dengan kata-kata yang penuh dengan paduan vocal-konsonan yang tak jelas, paduan huruf besar kecil yang tak seharusnya, paduan huruf dan angka, menguadratkan apa yang tak semestinya di kuadratkan, menambah banyak tanda baca yang tak sesuai dengan EYD (eh, apa mungkin tulisan alay punya EYD tersendiri?). Intinya, bila aku baca sekarang membuatku muak. J

Contohnya :

  • Tidak/gak àtidaq/gag, tagg, Gugz
  • Makan à mumz, maqand, moemz
  • Kok à kugh, qoq, kuq, kh0q, kh0gh
  • Mimpi à mmv, mimphie, m1mpy
  • Aku à aQhu, ak, 4q, kuwH

Awalnya, kukira hanya aku yang merasakannya. Ternyata tidak!

Raditya dika yang notabene penulis gokil favoritku saja pernah melewati fase itu. Teman-temanku yang kini lebih bijak juga pernah melewati fase itu. Malah ada yang hingga kini terjebak dalam fase aneh dan abadi itu.

Apa perlu fase alay masuk dalam pembaharuan fase perkembangan manusia yang selama ini beredar di buku-buku Psikologi perkembangan? Mungkin ide ini perlu dipirkan lagi, ya. J

Buat para alayers, Salam alay ^^

You Might Also Like

0 komentar: