Tentang Ijah

March 21, 2014 Qeeya Aulia 2 Comments

Baiklah, aku terlalu kagum dengan temanku satu ini. Namanya Azizah, lengkapnya Nuraini Azizah. Biasanya aku memanggil perempuan energik ini dengan sebutah Ijah. Entah apa yang ada di dalam otaknya. Manusia satu ini selalu optimis. Selalu yakin apa yang ia inginkan dan impikan pasti dapat ia capai. Apapun itu. Pernah suatu ketika aku, Ijah dan beberapa teman berkunjung ke salah satu mall elite di Jakarta. Disana ada kios (eh kedai eh apalah itu namanya) donat dengan label yang tak kukenal namanya. Ijah kekeuh untuk membeli donat itu. Padahal bentuknya lebih kecil daripada donat label lain yang lebih murah harganya. Penasaran, kulontarkan pertanyaan,
"Kenapa kekeuh mau beli itu sih, Jah?"
Kau tahu apa jawabannya? 
"Ini hanya ada di Jakarta dan Bali". 

Just it.

Jawaban pertanyaan yang aku rasa tidak masuk akal. Hanya karena ada di dua tempat di Indonesia dan ia harus membelinya? Logic, please! 

Itu bukan kali pertama Ijah melakukan hal-hal yang ada di luar kebiasaan manusia biasa. Ia juga sempat ngotot untuk menghamburkan uang di salah satu cafe mahal di Bandung. Wajah sumringah dan cerita lucu yang ia ceritakan ke semua orang pasca kunjungannya dari cafe mahal itu tak pernah bisa kulupakan. Ia dengan senang hati menertawakan dirinya sendiri. Kebodohannya sendiri. Disana jawaban itu keluar.

"Aku ingin merasakan semua hal yang bisa saja tak mungkin kurasakan. Aku hanya ingin tahu."

Jawaban yang biasa keluar dari mulutnya, tapi masuk ke dalam hati dan ingatanku sampai aku menulis tulisan ini. 

Dia memang orang luar biasa yang tak bisa disamakan dengan orang biasa. Dia pemimpi profesional yang selalu memperjuangkan mimpinya. Dia orang yang kuat yang tak pernah memandang dirinya sebelah mata. Dia salah satu manusia dengan IQ diatas rata-rata yang aku kenal. Dia, temanku. Teman terhebat yang aku punya hingga saat ini. 

Keputusannya untuk menikah saat ia belum menuntaskan kuliahnya pun tak luput dari alasan unik.

"Aku sudah ingin merasakan pacaran, tapi aku takut pacaran. Itu melanggar aturan agama. Aku ingin menikah saja."



Sekejap mata, tingkah pecicilan dan gaya uniknya yang selalu membuat orang-orang geleng-geleng kepala tertutupi oleh sikap anggun nan tenang yang mengagumkan. Ah, ya. Cinta dan cita selalu bisa mengubah siapapun.

Pernikahannya, kelahiran anaknya, hingga statusnya sebagai ibu dan istri seseorang, tak melunturkan mimpinya dengan mudah. Semua orang disekitarku selalu mengagumi "kesempurnaan" yang ia miliki. Mimpinya berubah, dari melanjutkan studi di Amerika, pindah ke negeri Kangguru dan Selandia Baru. Alasannya juga unik, "Supaya bisa gampang pulangnya."

Aku selalu berkeluh kesah tentang mimpi dan harapanku yang sepertinya tak akan bisa kucapai. Berkuliah ke luar negeri. Ia hanya berkata, "Coba semua kesempatan yang ada, kau tak tahu dimana kau akan mampu membuka jalanmu sendiri. Dari sekian banyak beasiswa, masa sih gak ada satupun yang lolos? Coba dulu." 

Ah, Ijah. Temanku. Teman terhebat dalam ingatanku, terlepas bagaimana aku di dalam ingatannya. Salam hangat untukmu selalu, guru bermimpiku :)

You Might Also Like

2 komentar: