WANITA BERKALUNG SURBAN

November 22, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Beberapa menit yang lalu saya baru saja selesai menonton film yang sudah lamaaaaaaaa sekali lahir di Indonesia. Wanita Berkalung Surban. Kisah tentang Anisa, anak bungsu perempuan seorang Kyai salah satu pesantren di Jawa. Saya tidak terlalu paham dimana setting film tersebut. Entah Jombang, entah yang lain. Pesantren salafi yang kewalahan menghadapi 'otak pemberontak' Anisa. Bak aktivis feminisme, ia 'menggugat' semua 'sabda' guru yang menurutnya mengajarkan sisi diskriminasi Islam terhadap wanita. Saya takjub dengan otaknya yang sangat 'kiri'. Membuka kesempatan sangat lebar untuk perubahan dan kebebasan berpikir. Sangat bertolak belakang dengan keluarganya yang menganut faham sebaliknya. Kisah yang menyenangkan untuk disaksikan dan diikuti hingga akhir cerita. 

Saya alumni pesantren. Sebuah pesantren modern yang tidak membatasi bacaan para santriwatinya. Seluruh isi sekolah saya perempuan. Para lelaki tinggal ratusan kilometer dari tempat kami berada. Kebebasan berpikir terbentang. Buku-buku jenis apapun ada di perpustakaan. Para guru yang pernah belajar ke berbagai penjuru negeri senang bercerita tentang nilai-nilai perbedaan yang ada di dunia nyata. Pimpinan sekolah kami, orang yang moderat. Menyampaikan hal yang bersifat esensi dengan sangat apik dan mendalam. Kami diajarkan untuk menilai dengan mengetahui landasan dan latar belakang terjadinya sesuatu. Bukan menelan bulat-bulat apa yang tertulis di dalam kitab suci dan sabda nabi. Jadi, setting pesantren di film WBS menurut saya sangat menyedihkan. 

Dulu, entah kapan saya lupa pastinya. Saya pernah menonton film yang hampir mirip inti ceritanya. Ada seorang guru wanita yang datang ke sebuah sekolah khusus wanita yang terkenal dengan murid-murid yang sangat pintar di Inggris sana. Ia geram dengan semua pelajaran yang diajarkan disana karena selalu mengatakan bahwa wanita yang sempurna adalah wanita yang bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Ia mendekati murid-murid yang menurutnya potensial. Ia ingin melakukan perubahan berpikir pada murid-murid perempuannya. Ia ingin mereka menyadari bahwa dunia itu terlalu sempit bila dilihat dari balik jendela rumah dengan kesibukan mereka menjadi ibu rumah tangga. Ditentang? jelas. Sistem kuno yang sudah melekat selama bertahun-tahun tidak bisa diubah dalam semalam. 

Persis Anisa, guru itu melakukan apapun yang ia bisa untuk mengubah nasib para muridnya. Ia mencari beasiswa untuk sekolah hukum untuk anak didiknya. Tapi kejadian demi kejadian berlalu dengan cepat. Seakan memberitahu pada sang guru bahwa untuk beberapa kondisi dan beberapa manusia, perubahan tak pernah mereka inginkan. Setiap orang punya pilihan masing-masing untuk menentukan arah perubahan yang mereka inginkan. Dengan akhir anti klimaks, sang guru tak memberikan perubahan berarti pada murid-muridnya. Murid yang ia incar untuk sekolah lanjutan, memilih menikah dengan kekasihnya. Sedangkan murid yang menjadi opsi kedua malah memilih untuk melanjutkan studi. 

Mirip kan? Jika tidak, berarti saya mungkin salah sangka dan terlalu menyerupakan satu karya dengan karya yang lainnya. 

Baik film WBS maupun film yang satunya memberikan saya sedikit cahaya. Tentang langkah yang ingin saya ambil dalam hidup seharusnya sepenuhnya menjadi hak saya. Terlepas itu sebuah perubahan atau bukan. Terlepas itu mewakili keinginan dan harapan orang-orang terdekat atau tidak. Semua orang punya kebebasan untuk memilih untuk berubah atau menolak perubahan. Walau banyak orang yang bilang, bila tak berubah kita akan mati tergerus oleh perubahan. 


Bandung, 22 November 2014


Nb: saya menemukan cukup banyak kesalahan secara tata bahasa pada bahasa Arab yang digunakan selama film WBS. Emm..cukup kecewa sih. Huhuhu.

You Might Also Like

0 komentar: