Magicom

September 22, 2015 Qeeya Aulia 0 Comments

Magicom. Sebutan yang kusematkan untuk rice cooker putih yang teronggok indah di kamar kosku. Malam ini saya belajar satu hal dari benda mati yang baru saya miliki sekitar 16 hari ini, sejak saya ‘berkemah’ di salah satu kamar kecil khusus wanita beberapa ratus meter dari tempat saya bekerja. Selama 15 hari ini saya sering kesal karena banyak nasi yang menempel di permukaan magicom. Kesal karena fungsi ‘anti lengket’ yang ada di dalamnya seakan tak berguna. Kesal karena kupikir aku sudah membeli barang yang tak berfungsi ‘fitur’ tambahannya. Kesal karena nasi matang selalu menempel disana. Karena itulah saya harus merendam wadah dengan nasi yang menempel agar tak merusak permukaan anti lengketnya. Tapi malam ini berbeda *ceileh.

Entah pasal apa perut saya tidak terlalu lapar. Tak ada demonstrasi yang dilakukan cacing-cacing di perut dan suara kurubuk-kurubuk. Tak lapar, pun tak kenyang. Saya memutuskan menanak nasi dan melakukan aktivitas lain sampai merasa lapar. Aktivitas apa? Ya apalagi selain pesbukan, saya kan aktipis pesbuk. Hahaha.

“Tuk!”

Suara perpindahan indikator ‘cook’ ke ‘warm’ sudah terdengar, tapi perut ini belum lapar. Ini sungguh ajaib, karena selama kos, perut saya seperti kuda yang lepas dari kandangnya. Liar. Selalu lapar dan selalu ingin mengolah sesuatu. Hal ini membuat saya menjadi anak kos yang selalu melakukan perbaikan gizi. Hal ini juga yang membuat isi dompet saya tak sehat lagi. Ketar ketir di akhir bulan.
Saya masih sibuk dengan ‘aktivitas’ saya tadi. Sambil sesekali menengok beragam aplikasi chat yang ada di dalam ponsel saya yang katanya pintar. Masih belum lapar. Sampai adzan isya berkumandang.

Setelah menyelesaikan kewajiban, saya masih malas makan. Tapi suara kurubuk-kurubuk dari perut sudah samar terdengar. Tak lama kemudian rasa lapar datang, jelas saya tak menolak lagi untuk segera makan.

Saat saya membuka tutup magicom, nasi sudah matang sempurna. Saya ambil sendok nasi dan mulai mengaduknya. Aneh, nasi tidak ada yang tertempel di dinding wadah nasi. Ini menarik karena saya mengumpat tentang hal ini selama 15 hari. Nasi tak akan menempel di wadah dan tak akan membuat saya menunggu lama untuk merendamnya di air demi ‘luruhnya’ nasi-nasi yang menempel itu. Hanya butuh waktu sebentar untuk membuat lapisan anti lengket itu berfungsi dengan baik. Hanya butuh beberapa menit untuk membuat nasi yang dimasak benar-benar matang dan menempel satu sama lain. Hanya butuh sedikit aktivitas untuk menunggu semuanya berjalan sesuai dengan apa yang saya inginkan. Hanya butuh sabar dan tak terburu-buru.

Ternyata perpindahan indikator penanak nasi bukan satu-satunya indikator nasi siap disantap. Perlu waktu yang tak begitu lama untuk menikmati nasi yang tak menempel dan membuat lapisan anti lengket benar-benar berfungsi. Menunggu membuat proses matangnya nasi dengan sempurna berjalan sempurna.

Saya pikir, begitupun banyak hal dalam kehidupan. Indikator magicom ini seperti patokan-patokan yang ada dalam kehidupan kita. Seperti usia yang kabarnya menentukan kapan kita baiknya menikah. Seperti pekerjaan yang kabarnya bisa menentukan kesejahteraan seseorang. Seperti kekayaan yang kabarnya bisa menjadi ukuran keberuntungan. Indikator-indikator ini memang ada landasannya. Tapi kabar buruknya, indikator tersebut bukan satu-satunya hal yang menentukan. Perlu ada waktu yang masing-masing orang luangkan agar nasi menjadi matang benar. Perlu ada waktu agar fungsi anti lengket berguna seperti yang para ilmuwan pencipta magicom katakan.

Kita semua sama-sama tahun di usia berapa seseorang pantas menikah. Namun kita benar-benar tak pernah tahu kapan setiap orang siap dan bisa menikah. Kita semua sama-sama tahu mendapat pekerjaan yang baik itu bisa membuat seseorang sejahtera. Namun kita benar-benar tak pernah tahu apakah pekerjaan tersebut membuat orang sejahtera atau sengsara. Kita semua sama-sama tahu memiliki banyak kekayaan adalah keberuntungan. Namun kita benar-benar tak pernah tahu apakah kekayaan tersebut benar-benar menjadi keberuntungan atau malah menjadi kutukan.

Kadangkala, setiap indikator perlu ruang untuk memastikan semua proses berjalan dengan sempurna. Tidak selalu A akan langsung berdampak B, tidak juga C. Nasi butuh waktu untuk benar-benar matang. Manusia (khususnya saya) butuh lama waktu yang berbeda dari manusia lainnya dalam memenuhi setiap indikator selama ada di dunia.


Jadi apa inti dari tulisan ini? Intinya saya sudah bisa masak nasi dengan bantuan magicom. Hahaha.

You Might Also Like

0 komentar: