Kalau Bisa Memilih
Kalau bisa memilih, gue akan memutuskan bekerja di Jakarta sejak lulus kuliah. Kerja di Bandung itu sangat menyenangkan, apalagi gue kerja di perusahaan Eropa. Tapi kenaikan penghasilan cukup bikin mengelus dada. Apalagi jika angka gaji pertama terlalu murah dan terlalu lama di perusahaan, ah.. susah sekali nembus dua digit. Perlu lebih dari 7 tahun akhirnya bisa sampai ke angka sepuluh juta rupiah pertama setiap bulannya. Gue bersyukur dengan apapun yang sudah gue lewati dan dapatkan. Namun sepertinya masa tunggu dapat gaji dua digit mungkin akan lebih pendek jika gue kerja langsung di ibukota.
Kalau bisa memilih, gue akan bekerja di perusahaan besar. Gue baru tahu ternyata untuk BUMN dan perusahaan besar, bank bisa kasih marjin yang lebih rendah daripada perusahaan kecil. Biasanya, beberapa bank besar punya cabang di kantor-kantor BUMN dan anak-anak perusahaannya. Jika grup BUMNnya besar, mereka secara rutin punya program promo marjin. Bank-bank juga punya minimum karyawan dalam sebuah perusahaan sebagai prasyarat untuk approval KPR. Misalnya, di BSI tahun 2026 ini, salah satu syarat untuk dapat KPR dari mereka adalah karyawan tetap di perusahaan dengan total jumlah karyawan minimal 35 orang. Gak peduli seberapa besar grup perusahaanmu di luar negeri, kalau karyawan di Indonesianya kurang dari 35 orang itu akan susah untuk dapat approval.
Kalau bisa memilih, gue akan mulai KPR rumah sejak 5 tahun yang lalu. Di tahun ini, dimana usia gue sudah menginjak 36 tahun, gue baru tahu bahwa batas pengajuan KPR adalah 40 tahun. Masa pinjam KPR itu rata-rata maksimal 20 tahun dan usia pensiun rata-rata pegawai swasta itu di usia 55 tahun. Artinya, kalau gue mulai KPR di usia 35 tahun dan gue mengambil KPR dengan jangka waktu 20 tahun, saat gue pensiun nanti rumah gue baru lunas. Mana banyak banget wishlist manusia banyak keinginan ini. Haha. Walaupun gue telat memulai masa KPR karena berbagai hal, tapi gue gak pernah menyesal dengan apa yang sudah gue lakukan selama 8 tahun terakhir ini. Gue dan suami alhamdulillah diberikan kemudahan oleh Allah untuk berlatih menyicil rumah setiap bulan melalui menabung DP. Jadi tabungan tiap bulan yang tadinya gue tabung untuk DP, akhirnya bisa berganti menjadi uang untuk membayar cicilan KPR. Dengan kurang lebih 4 tahun, kami bisa kumpulin uang yang cukup besar untuk DP dan juga bisa memilih lokasi maupun calon rumah dengan lebih leluasa.
Kalau bisa memilih, gue gak akan beli tanah sebelum punya rumah. Awalnya, gue ingin membangun rumah. Maka dari itu, gue dan suami menabung untuk beli tanah cash. Dilalah ternyata si penjual tanah ini bermasalah. Tanah gue statusnya terkatung-katung menunggu pecah sertifikat selama 3 tahun. Keinginan untuk bangun rumah pun luluh lantak. Saat ini, tanahnya dijual untuk bisa nambah-nambah pembayaran rumah KPR kami. Seandainya lebih sabar, mungkin gue punya keleluasaan lebih untuk memilih rumah dan punya tenor pinjaman yang lebih pendek dari yang sekarang. Apapun yang sudah terjadi, ya terjadilah. Gue belajar ternyata aset berupa tanah ini sangat tidak liquid. Gue belum punya kemampuan yang cukup untuk mengatur emosi, menahan diri dan kemampuan untuk mengelola aset berupa tanah dengan baik. Mudah-mudahan tanah gue bisa laku dengan harga yang bagus. Amin.
Kalau bisa memilih, gue akan merencanakan kehamilan lebih cepat. Untuk kesekian kalinya gue mengalami gangguan haidh. Kemarin, saat cek ke Obgyn gue baru tahu kalau cadangan sel telur gue itu menipis jauh dibawah rata-rata orang berumur 36 tahun. Opsi hamil normal udah terlalu sulit dijalankan. Jadi gue perlu pakai program IVF alias bayi tabung yang harganya 125jutaan di Morula. Jujur, biaya ini sangat besar. Tapi karena gue dan suami ingin mengusahakan untuk punya keturunan, dengan izin Allah dan mudah-mudahan dimudahkan serta diberikan kelancaran rezeki oleh Sang Maha Pemberi Rezeki, bismillah akan gue coba. Kenapa gak dari tahun-tahun sebelumnya? Sebenarnya, usaha kami sudah dari tahun 2018, tapi banyak sekali yang harus diberesin baik dari kondisi gue maupun suami. Baru tahun ini akhirnya kami berdua bisa dengan berani masuk ke klinik fertilitas yang ada di kota kami. Kalau bisa memilih, sepertinya gue akan memulai program ini 3 tahun yang lalu, siapa tahu opsi lain yang lebih murah itu masih ada. Who knows?
Kalau bisa memilih, gue ingin menjadi lebih lembut kepada suami, orang tua dan keluarga terdekat. Dibesarkan dengan didikan yang keras dan cenderung kasar, gue sadar kalau cara gue berkomunikasi itu tidak selalu baik dan sopan. Apakah gue punya gangguan emosi? Gue juga gak tahu. Tapi yang gue tahu, gue cukup meledak-ledak ketika ada hal yang gak sesuai dengan keinginan gue. Salah satu yang gue ingat adalah, ketika nyokap gue komen, "kapan ya ayah dan ibu diajak teteh ke luar negeri?" saat gue share foto kalau gue dan suami lagi di bandara menunggu boarding buat liburan ke Hanoi, Vietnam. Respon orang normal mungkin akan seperti ini: "Amin, doakan ya bu," atau "Yuk, cus.. hehe." Tapi respon gue meledak. Gue bilang kenapa gak ikut senang ketika anaknya senang dan juga gue udah menyisihkan uang yang gak seberapa itu setiap bulan untuk beliau. Nyokap gue ya sakit hatilah pasti. Sejak itu, gue juga jadi gak pernah posting liburan atau apapun di grup keluarga. Setelah gue telaah, kenapa gue segitu marahnya pada saat itu, sepertinya karena gue udah merasa memberi. Diri gue melihat memberi itu sebagai beban yang seharusnya gak gue tanggung. Di sisi lain, gue juga merasa gue harus membantu keluarga gue. Tapi siapa sih yang mau dibantu lalu diungkit-ungkit bantuannya oleh orang yang memberi?
Kalau bisa memilih, gue ingin meninggal dalam keadaan husnul khotimah di Madinah. Kebayang sih sulitnya keluarga ataupun teman-teman serombongan ketika umroh atau haji. Tapi membayangkan jenazah gue disolatkan oleh ribuan orang dan dimakamkan di Baqi, membuat gue merasa gak apa-apa buat jadi egois sekali-kali. Gue punya mimpi meninggal saat sujud di hari Jumat di Masjid Nabawi. Apakah hamba bisa dapat keistimewaan dengan tumpukan dosa yang ada ini, ya Allah? Mudahkanlah kami kembali dalam keadaan suci dan keadaan yang baik. Amin.
Semua andai-andaian ini membuat gue sadar, kejadian-kejadian yang sudah berlalu ini memang gak semuanya baik. Namun gue yakin semua perjalanan gue sudah diatur dengan baik oleh Allah dan jadi pelajaran yang gak akan gue dapatkan kalau gue tidak mengalaminya secara langsung. Apa yang bakal kalian lakukan kalau kalian bisa memilih?
Depok, 14 Mei 2026
Comments