Posts

Seimbang

Malam itu langit berwarna hitam pekat. Suara gemuruh dan cahaya putih di langit membuat jalanan sedikit terang. Terang dan menakutkan lebih tepatnya. Malam itu langit sedang melakukan tugasnya. Menyeimbangkan alam dengan menurunkan hujan. Hujan terderas yang pernah saya rasakan. Saya tidak bisa melihat dengan jelas jalan yang ada di depan. Lampu sorot dari motor butut Ayah tak kuat menembus derasnya hujan. Kami memutuskan untuk tidak menepi. Kami ingin cepat-cepat sampai rumah. Keputusan yang salah memang. Sepengetahuanku, hujan deras biasanya hanya terjadi beberapa menit, paling lama yaaa 15 menit, selanjutnya hujan rintik-rintik yang tidak terlalu deras. Kami salah perhitungan. Sekitar satu jam kami diguyur habis-habisan oleh hujan deras yang enggan berhenti. Jangan tanya motor butut Ayah, pastinya sudah mogok berkali-kali.  Menahan tangis khawatir di saat yang menegangkan memang menjadi tantangan tersendiri bagi saya yang terlalu melankolis. Tapi dipikir-pikir, menangis ti...

Dari Bumi Manusia, Hingga Mitologi Jawa

Akhir-akhir ini saya sedikit keranjingan dengan buku-buku yang berbau sejarah dan budaya suku Sunda dan Jawa. Entah karena pertama menatap rak buku di Bapusipda Jabar menemukan buku-buku itu, atau memang ini adalah ketertarikan terpendam saya. Entah. Intinya, Tuhan menggariskan saya membaca beberapa buku yang berbau sejarah lengkap dengan budaya dua suku itu. Buku yang saya baca hanya novel dari Pram "Bumi Manusia", selain itu ada "Bupati-bupati Parahyangan" dan "Mitologi Jawa". Baru tiga buku saja sudah membuat saya berspekulasi banyak hal. Hahaha. Bumi manusia berkisah tentang Minke, pemuda Jawa yang tinggal bersama dengan anak Nyai Ontosoroh, gundik pria Belanda. Pram begitu apik menggambarkan ketimpangan-ketimpangan yang ada. Bangsa Eropa yang dengan bangga mengenalkan etika ala Eropa, nyatanya tak pernah benar-benar melakukan hal yang sama seperti yang mereka banggakan. Miris. Banyak kutipan percakapan ataupun narasi yang membuat saya tertampar be...

Tuna Segalanya

AYAHKU BISU DAN TULI  ini video yang membuatku tertegun. Ayah dan Ibuku memang tidak bisu dan tuli. Mereka sehat. Mereka bisa melihat, mendengar, mencium bebauan, merasakan udara panas atau dingin dan juga menyecap berbagai rasa yang ada di dunia.  Tapi aku merasa menjadi anak bodoh yang ada di dalam video itu. Menuntut banyak hal pada mereka berdua. Tertekan dengan berbagai kealpaan mereka yang kutemukan dengan sengaja maupun tidak sengaja. Aku.. Ah, aku merasa bodoh, tolol dan tak menolak dijuluki dengan semua julukan-julukan buruk yang ada di dunia. Aku merasa diriku seperti anak dalam video itu. Menuntut mereka menjadi sempurna. Sesempurna apa yang dilihat orang-orang di sekitar mereka. Menuntut mereka menjadi orangtua terbaik, padahal aku jauh dari julukan anak terbaik. Menuntut mereka sadar dari kealpaan yang mereka lakukan. Bak aku adalah manusia yang tak dilengkapi dengan ketidaksempurnaan. Aku juga heran, mengapa diriku seperti terbagi dua. Sisi yang sat...

Kata Perintah

Aku sempat pusing, bingung dan merasa bodoh. Saat salah satu anak di dalam kelas bertanya, "apakah kata perintah bisa digunakan untuk kata ganti orang ketiga tunggal ataupun jamak (dalam bahasa Arab disebut ghoib atau ghoibah )? Sial, aku tak tahu jawabannya. Tak mau terlihat bodoh, dengan jumawa aku berkata, "jadi PR ya? Cari di kamus." Taktik bodoh yang anak-anak itupun tahu bahwa aku juga tak tahu.  Singkat cerita, jawabannya hanya ada beberapa lembar ke depan dari lembaran dimana aku menyampaikan materi di hari dimana pertanyaan itu terlontarkan. Jawabany, tidak. Kata perintah hanya bisa digunakan untuk kata ganti orang kedua (dalam bahasa Arab disebut mukhothob atau mukhothobah ). Memang dengan akal sehat saja bisa tertebak jawaban dari pertanyaan anak itu, tapi aku tak mau gegabah, siapa tahu memang ada aturan tata bahasa yang berbeda antara bahasa Indonesia dengan bahasa Arab. Nyatanya tidak. Aku saja yang jarang memperbaharui dan menguatkan mate...

Mendung Lagi

Mendung lagi. Setiap tahun selalu mendung. Tahun lalu, aku berusaha menjadi dukun hujan. Mencegah mendung menurunkan hujan karena manusia dibawahnya tak semua memiliki penangkal hujan. Hujan air lebih baik daripada hujan cacian. Aku jengah, sungguh benar-benar jengah. Bagaimana tidak, setiap hari mendengar orang menghujat. Setiap hari mendengar orang menyebutkan kesalahan dan mengajak berkelahi. Andai aku tak punya otak, entah sudah berapa kepalan tangan aku layangkan. Bukan ke manusia yang menyebalkan, tapi ke tembok yang aku temui sepanjang jalan.  Mendung itu selalu datang karena muatan-muatan uap air yang ada di dalam awan. Hembusan angin membuatnya berdiam diatas sebuah rumah. Rumah dimana sang angin pernah berucap bahwa ia takkan mengganggu siapapun dalam rumah itu.  Angin itu datang lagi. Merusak semua konstalasi yang sudah kami usahakan ratusan hari. Mungkin mereka pikir semua keringat kami hanya ludah yang pantas dibuang begitu saja. Mereka lupa, ludah membu...

Jejaring

Banyak kelebatan bayangan yang datang hari ini. Wajah-wajah manusia lengkap dengan kisah-kisah mereka hingga cerita beberapa film yang kutonton akhir-akhir ini. Alhasil, aku begitu produktif menulis hari ini.  Beberapa waktu lalu aku penasaran dengan film India yang sempat menjadi perbincangan dunia. Slumdog Millionare. Kisah tentang seorang laki-laki bernama Jamal. Ia yatim piatu dan hanya mempunyai kakak yang menjadi anak buah penjahat kelas kakap di India.  Bukan kisah cintanya dengan Latika ataupun banyaknya  luka yang tergores di hati Jamal yang akan kuceritakan disini. Tapi, tentang kejadian yang terjadi dalam hidupnya yang berkaitan satu sama lain. Hal ini sudah berkali-kali kuulangi. Pertama kali kudengar dari Tere Liye, penulis idolaku. Betapa setiap scene  kehidupan kita berkaitan dengan scene selanjutnya. Apakah dampaknya positif ataupun negatif, tak pernah ada yang tahu.  Disaat yang sama aku mengikuti streaming  #MengadiliAnies....

Berdiri

Ada yang salah dengan berdiri? Ya, ada. Jika yang berdiri adalah seorang nenek, kakek, ibu hamil ataupun anak kecil dan mereka yang duduk adalah anak muda yang masih gagah sehat sentosa.  Aku pengguna angkutan umum. Trans Metro Bandung (TMB), bus Damri, Kotrima (yang ini aku tak tahu kepanjangannya) hingga Angkutan Kota (Angkot) pernah kutumpangi. Beragam bau ketiak dan manusia pernah menjadi teman perjalananku. Diantara banyak angkutan umum yang kusebutkan sebelumnya, TMB dan Damri adalah yang paling kusukai. Ongkos yang murah dan minimnya aktivitas berhenti di tengah jalan untuk mencari penumpang menjadi alasannya. Dua angkutan ini mungkin memang menyediakan ruang untuk berdiri bagi para penumpang yang tidak kebagian duduk. Jadi, kau bisa membayangkan bagaimana terbatasnya oksigen saat penumpang kedua angkutan ini membludak. Para manusia didalamnya persis sarden di dalam kaleng. Siang itu, bus Damri yang kunaiki tidak terlalu penuh. Hanya beberapa orang yang berdiri...