Jika Istrimu Sarjana Psikologi

February 21, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Judulnya pasti menarik bagi para mahasiswi psikologi. Ini tidak kudapat dari hasil kontemplasi panjang, aku hanya mengikuti project CeritaJika Mas Kurniawan. Karena tidak ingin menunggu lama proses penerimaan, seleksi dan publikasi lewat blog beliau, akhirnya kuputuskan untuk menulisnya di blogku sendiri. Isinya tidak bisa digeneralisasikan. Kebanyakan isinya adalah curhat colongan. Jadi, daripada berpanjang-panjang menyusun prolog, langsung saja, begini ceritanya.....
Apa yang terlintas dikepalamu saat kau mendengar bahwa aku pernah belajar ilmu psikologi, sayang? Bisa membaca pikiran? Sayang sekali kau harus kecewa. Tidak, aku tidak bisa membaca pikiranmu. Apa yang ada diotakku sendiri saja sulit kumengerti, apalagi apa yang ada dipikiranmu. Aku tak bisa mengerti dengan jelas bila kau tidak mengatakannya dengan jelas. Aku hanya bisa membaca isyarat dari gerak tubuh, mimik muka dan intonasi suara. Tapi hal itu masih penuh dengan prasangka dan asumsi yang tak nyata. Bila kau tak bicara, mungkin aku akan salah sangka. Aku juga kadang alpa, atas sinyal-sinyal yang kau sampaikan tanpa kata. Maka bicaralah agar semua menjadi jelas adanya.

Kemewahan bagiku bila kau berkenan bercerita tentang banyak hal. Berbagi perasaan yang kau alami dari berbagai kejadian yang kau geluti. Memberikanku pengertian sebelum mengarahkanku mengambil keputusan. Aku suka kau yang bicara tanpa memaksa. Kau tahu apa yang bisa menarik perhatian orang-orang yang belajar psikologi? berbicaralah tentang dirimu, masalahmu, dan banyak hal dengan wajar. Tak usah berlebihan. Saat mereka terlihat memperhatikanmu dengan seksama dan tak henti menanggapi ceritamu, kau sukses membuat mereka berpikir berhari-hari tentangmu. Memikirkan cara membantumu keluar dari masalah. Setidaknya itu yang kurasakan.

Sayang, berbagai teori kepribadian dan beberapa pengukurannya memang kupelajari. Tapi bekal itu tidak dapat menyempurnakan usahaku mengenali dirimu tanpa kau mau terbuka kepadaku. Dirimu yang sekarang, tak bisa dengan mudah (dan tidak layak) dikelompokkan kedalam kotak-kotak kepribadian yang dibuat para teoretis.  Karena manusia tidak seperti kumpulan buku yang bisa dengan mudah diklasifikasikan. Aku tak rela melabelimu dengan "ekstrovert". "introvert", "independen aktif", "ambivalen pasif" atau apalah itu namanya. Kau lebih menarik tanpa label-label itu.

Tapi terkadang aku juga melakukan hal bodoh terkait label kepribadian. Aku dengan mudah mengikuti kuis-kuis kepribadian yang ada di media sosial. Beberapa kali membaca horoskop yang harusnya tak pernah disentuh sedikitpun. Sesekali penasaran dengan cerita-cerita mereka yang pernah melakukan ramal-meramal. Ah ya, sarjana psikologipun tetap bodoh seperti yang lainnya. 

Kau tahu, aku tak bisa membaca garis tanganmu dan memastikan kita memang ditakdirkan bersama. Tapi saat kau memilihku menjadi teman hidupmu, muncul keyakinan kau memang tercipta untukku. Walau aku tahu fluktuasi tahapan pernikahan, aku tak bisa memprediksi apakah kita akan terus bersama atau mengeluarkan alasan berpisah yang dulu tak pernah jadi masalah. Namun harapanku sama denganmu, ikatan kita nanti harus bisa terjaga sampai mati.

Sayang, menjadi sarjana psikologi hanya satu dari mimpi yang baru kucapai. Motivasi berprestasiku masih liar tak terkendali. Maukah kau membersamaiku mewujudkan mimpi-mimpiku? ataukah aku harus diam di rumah dan mengubur semuanya? Kubisikkan satu hal padamu: bantu aku mengaktualisasikan diri. Kutahu, kau lebih bijaksana daripada yang aku bayangkan sebelumnya. 

Kau tahu, diantara mimpi-mimpi itu adalah bisa menikmati hari-hari denganmu. Membaca bersama dan berdiskusi tentang banyak hal. Mendengar ceritamu tentang berbagai negeri yang kau kunjungi. Tertawa bersama atas aksen-aksen unik dari bahasa antah berantah yang kau ajarkan padaku. Menikmati hari-hari yang semakin indah dan berwarna karena adanya dirimu. Melanjutkan sekolah untuk bisa mengikuti alur pemikiranmu yang terkadang membuatku tak mengerti walau kau sudah menjelaskan padaku berkali-kali.

Kebutuhan afeksi mutlak menjadi sesuatu yang dimiliki manusia. Pemenuhan kebutuhan tersebut bisa dilakukan dengan berbagai cara. Termasuk berada dekat denganmu, mendapat perhatianmu dan juga menyayangimu. Tapi tolong, jangan buat aku lemah hanya karena cinta. Dorong aku agar menjadi kuat, bukan ketergantungan padamu. Jadikan aku mandiri, bukan lupa diri.

Kata orang cinta bisa kadaluarsa, tapi bagiku kau bisa jadi pengawetnya. Jika demikian, masih bisakah cinta kadaluarsa?

Kau tahu, belakangan saat aku menjadi mahasiswa psikologi, mereka bilang aku sedang berobat jalan. Setelah kupikir lebih dalam, memang kenyataannya demikian. Banyak luka yang masih menganga. Banyak air mata yang masih membekas anak sungainya. Banyak topeng-topeng yang akan terbuka setiap harinya. Saat semua topeng itu habis dan menguak diriku yang penuh alpha, bisakah kau tetap ada untukku? Lantang mengatakan kau untukku dan aku untukmu. Bisakah? 

Sayang, jika kau memilihku, sarjana psikologi yang terkadang tidak nyikologi, menjadi istrimu, mari kita ciptakan resonansi kehidupan yang harmoni. Dimana getaran kita berada dalam satu frekuensi. Tak peduli gema dan gaung yang datang mengampiri. Nada-nada indah harus tetap tercipta. Mungkin ini terdengar utopis, tapi bagiku ini realistis.


Bandung, 21 Februari 2014







You Might Also Like

0 komentar: