Wednesday, October 14, 2015

Manusia Penghuni Gang

Menjadi penghuni gang di pinggiran Kota Bandung memang penuh suka duka. Suka bila kita keluar dari gang tak perlu lama-lama menunggu angkot yang hilir mudik di jalan besar sana. Angkot berbagai jurusan sudah siap nangkring di mulut gang atau diseberangnya. Mudah. Sungguh mudah. Saya terlalu sering mendapatkan kemudahan ini dan sampai sempat lupa bagaimana rasanya menjadi ‘korban ngetem angkot’.

Tapi suka tak ada bila duka diabaikan saja. Seringkali saat keluar dan sudah melambaikan tangan tapi sang sopir masih memutuskan untuk menunggu, sialnya saat sampai mulut gang dan menggelengkan kepala kembali sebagai tanda untuk tidak berniat naik angkotnya, sopir angkot memaki seakan menunggu saya berjalan sudah menghilangkan potensinya untuk mendapatkan 5 penumpang lagi. Lah iki salahe sopo toh?


Saya, sebagai manusia yang sudah bertahun-tahun tinggal jauh dari jalan besar merasa senang bahkan terlalu senang dengan hal ini. Menjadi manusia penghuni gang ternyata cukup menyenangkan.  Entah saya yang terlalu mudah terkesima terhadap hal-hal sederhana ataukah memang hal ini adalah hal menyenangkan yang sederhana. 

2 comments:

Unknown said...

Membaca artikel ini melontarkan memory saya saat dimana kami lahir,tumbuh dan dewasa diantara lebar gang yang hanya 2 meter dan luas rumah 72 M2. Banyak mimpi terselip diantara lorong-lorong gang yang tak semua bisa terwujud karena keterbatasan. Selamat menikmati kehidupan gang yang "unik". Tetap semangat!

Unknown said...

Membaca artikel ini melontarkan memory saya saat dimana kami lahir,tumbuh dan dewasa diantara lebar gang yang hanya 2 meter dan luas rumah 72 M2. Banyak mimpi terselip diantara lorong-lorong gang yang tak semua bisa terwujud karena keterbatasan. Selamat menikmati kehidupan gang yang "unik". Tetap semangat!

Total Pageviews

Blog Archive

Search This Blog

Powered by Blogger.

Quote

Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu (Andrea Hirata)