PASPOR SI KIKI : MENUJU TITIK KECIL DI AFRIKA

February 08, 2016 Qeeya Aulia 0 Comments

Setelah mengunjungi Basillica Cistern, kami diajak untuk kembali ke restoran dan makan siang. Nah, kali ini ini kami diminta memilih antara menu ayam atau sapi. Saya dan Pak Zul pilih sapi, Pak Ari ‘terpaksa’ pilih menu ayam karena mengira kami makan ayam. Hidangan pembuka sudah tersaji di meja kami. Ada salad wortel, mentimun dan entah sayuran apa lagi di mangkok kami. Kecombrang gitu ya? Tapi masa ada kecombrang di Turki? Hahaha. Saya mencoba sesuap dan kapok. Tak cocok dengan lidah katrok saya.

Ceritanya appetizer lunch pertama di Turki
Tak lama setelah itu datanglah hidangan utama, kebab sapi, yihuy! Porsinya sedikit tapi enaaaakk. Kurang sambal sih menurut saya mah, maklum bu biasa makan sambal goreng kentang. Hahaha.

Makaaan gratisaaan~
Setelah makan siang, Burhan (ternyata guide kami namanya Burhan bukan Omar. Saha atuh nya si Omar teh? Maaf pemirsa!) mengajak kami kembali ke bus. Bagi orang-orang yang masih transit lebih dari jam 6 sore ikut bus lain sedangkan sisanya kembali ke Bandara. Saya sempat berbincang dengan orang Korea yang punya bisnis di Iran. Beliau terheran-heran saat tahu kami bertiga akan berkunjung ke Kamerun. Pak, jangankan bapak, saya juga heran loh sebenernya. Haha. Di pikiran saya, keren juga ya bapak-bapak ini bisa business trip ke Iran sebagai konsultan mesin disana. Jalan-jalan agak jauh dari rumah memang selalu penuh kejutan ya.

Ini guide kami di Istanbultour dari Turkish Airlines, Burhan.

Rombongan tur kami berkurang hampir setengahnya. Kami langsung berangkat kembali ke bandara tanpa Burhan karena Burhan melanjutkan tur dengan orang-orang yang tidak ada di bus kami. Melihat burung-burung (entah pelikan, entah burung camar, saya tidak tahu jenisnya) berterbangan dan membuat formasi membuat saya kembali mengucap syukur atas nikmat Allah yang sudah diberikan kepada saya dengan cuma-cuma. Gak pernah nyangka bisa mampir ke negara ini. Melihat saksi bisu sejarah yang dulunya memegang peran penting sebuah negara dan sekarang hanya menjadi objek foto yang juga pelajaran sejarah bagi umat manusia. Karena hidup selalu berputar. Kejayaan tak bisa abadi dipegang.

Sesampainya di bandara, kami langsung mencari Mescit untuk melakukan sholat ashar dan dzuhur. Setelah itu sibuk melihat papan informasi gate. Ternyata gate kami belum dibuka. Kami berjalan-jalan di bandara. Saya sibuk mengikuti Pak Zul bak anak takut kehilangan ayahnya. Kami masuk ke ruangan terbuka yang ternyata smoking area.

Mescit alias mushola di bandara Attaturk

“Hei, kalian nak apa kemari? Ini tempat aku dan orang-orang seperti aku!” seru Pak Zul.

Saya dan Pak Ari tertawa karena baru sadar bahwa itu adalah ruangan merokok di bandara. Oonnya dibawa-bawa sampai Turki sih. Hahaha.

Kami sibuk berjalan dan mendekati Starbuck yang tersebar dimana-mana. Saya dengar kabar bahwa di bandara Attaturk tidak ada koneksi Wifi gratis. SALAH! Ada kok! Saya nemu. Tapi syaratnya adalah mendekat atau bahkan nangkring di Starbuck atau Coffee Nero. Pakai Wifi bernama Wispotter. Di awal kita harus mendaftarkan diri dengan akun Facebook dan mengaktifkan nomor Indonesia (saat itu saya pakai provider IM3 karena kartu 3 saya tidak berfungsi disana). Setelah mendaftar menggunakan akun Facebook dan memasukkan nomor telepon Indonesia, akan ada pesan text yang mengirimkan kode untuk verifikasi. Kalau sudah verifikasi, kita sudah bisa berselancar di dunia maya dengan Wifi gratis.

Selain Wifi gratis, saya juga baca artikel bahwa troli di bandara ini berbayar. Nyatanya tidak seperti itu, ada kok troli gratis.

Entah saya yang memang gratisan hunter atau memang bandara ini sudah lama berbenah dan menjadi lebih baik sehingga banyak fasilitas gratis yang bisa didapatkan oleh para penumpang, yang jelas saat saya di bandara ini, saya menemukan banyak akses gratis.  

Dekat kafe sumber Wifi gratisan berada~
Setengah jam sebelum penerbangan kami, kembali kami telusuri nomor gate, ternyata sudah muncul. Kami berjalan menuju gate yang dipenuhi oleh orang-orang Afrika. Ada sih beberapa orang bulenya, tapi gak banyak. Menurut jadwal penerbangan yang disebarkan melalui email ke setiap champion, kami mempunyai 1 orang champion dari Rusia yang akan berangkat ke Douala bersama-sama dari Turki. Tapi hingga saat itu kami belum menemukan orang Rusia tersebut.

Karena bosan, kami bertiga bermain tebak-tebakan.

“Yuk kita tebak yang mana yang namanya Denis –Denis nama kolega kami-“ kataku.

“Oh, kayaknya yang itu deh,” sahut Pak Zul.

“Yang mana?” tanya Pak Ari.

Pak Zul menyebutkan ciri-ciri lelaki bule yang berdiri di dekat tiang. Kami hampir meyakini itu Denis sebelum ada teteh-teteh bule yang nyamperin orang tersebut dan mereka pergi berdua.

“Yaaaaahhh...salah! Tetot!”

“Oke, tebakan kedua yang itu. Yang pakai baju warna hijau lumut dan bawa koper kecil,” tebakku.

“Orangnya sedang pegang handphone bukan?” tanya Pak Ari.

“Iya. Itu yang jalan ke toilet,” jelasku.

“Coba aku datangi dan kutanya sambil pura-pura ke toilet,” kata Pak Zul sambil berlalu ke toilet.

Pak Zul berpapasan dengan orang itu di pintu toilet lalu masuk ke toilet sedangkan lelaki bule tersebut mengantri di gate sebelah kami. Salah juga! Fyuh!

Kami melihat Pak Zul berakting mencuci muka dan membasahi rambutnya. Saya dan Pak Ari cengengesan melihat tingkah Pak Zul dan tingkah udik kami semua. Di saat yang sama, kami melihat rombongan keluarga sedang ber-tos ria dengan gelas berisi minuman keras. Kami menghela nafas dan mengulum senyum lalu melanjutkan tingkah udik kami itu.

“Jangan-jangan Denis itu ternyata ketinggalan pesawat dan gak ada di bandara sekarang,” celetuk Pak Ari.

Saat kami sibuk memilih target tebakan lainnya, tiba-tiba ada keributan di gate antara penjaga gate dengan salah satu wanita anggota keluarga yang tadi minum di depan kami. Memang ada pemberitahuan bahwa ada delay yang tidak dijelaskan alasannya. Wanita itu mengomel dengan bahasa Perancis dan menjadi pusat perhatian.

“Pak, kita terakhir saja ya masuknya,” kataku pada Pak Zul dan Pak Ari.

“Jangan, Ki. Kita harus masuk duluan. Mereka bawa barang banyak. Kemungkinan kita gak dapat tempat di kabin nanti,” kata Pak Ari.

“Iya, Ki. Sekarang kita ngantri saja deh,” kata Pak Zul.

Sebagai anak bawang, saya ikut saja apa yang diusulkan oleh bapak-bapak itu. Kami ikut mengantri karena petugas Turkish Airlines sudah meminta kami mengantri. Wanita itu masih mengomel tiada henti. Bahkan bapak-bapak yang awalnya komplain kepada petugas sudah berhenti komplain tapi wanita itu tetap tak kehabisan kata-kata dan keluhan! The power of women~

Pesawat kami delay lagi beberapa belas menit. Petugas tidak juga menjelaskan alasan delay. Komplain makin bertaburan.

Untuk mengatasi antrian pemeriksaan boarding pass yang mengular, petugas wanita dari Turkish Airlines bergerilya memeriksa paspor dan juga boarding pass para penumpang. Tibalah giliran saya. Ia tampak keheranan karena tidak ada cap VISA Kamerun di paspor saya.

“Punya VISA?” katanya.

“Belum, saya pakai Visa on Arrival. Tapi ini ada surat menyuratnya,” jawab saya.

Sebelum pergi ke Kamerun, kami diberikan surat keterangan bekerja dari SIC Cacao (cabang Barry Callebaut di Kamerun) dan juga semacam surat pemberitahuan bahwa kami mendapatkan izin untuk Visa on Arrival dari pemerintahan Kamerun. Surat-surat inilah yang saya berikan kepada teteh dari Turkish itu.

Surat saya dibawa, tak lama kemudian diberikan kembali dengan senyuman, “all is OK!”

“Terimakasih,” jawab saya.

Dikarenakan saya menjadi kelinci percobaan, maka Pak Zul dan Pak Ari tidak mendapatkan pertanyaan yang berarti kecuali senyuman dan kata, “OK!”
Menunggu pesawat ke Kamerun sambil tebak-tebakan berhadiah

“Kalian orang Malaysia dan Indonesia dari Barry Callebaut bukan?” tanya seorang bule yang ujug-ujug ada di belakang kami.

“Oalah, kamu Denis?” tanya kami serempak.

“Iya.”

Kami langsung menceritakan kejadian tebak-tebakan tadi setelah mengenalkan diri. Ternyata pesawat Denis delay dan ia baru datang beberapa menit sebelum antrian dimulai. Tebakan Pak Ari nyerempet benar juga ternyata. Kami langsung masuk ke pesawat dan benar saja kabin sudah penuh karena para penumpang yang sudah masuk membawa barang bejibun. Bayangkan saja, setiap orang bawa koper yang sepertinya lebih dari 9 kg! Pokoknya kalau koper jatuh ke kepala saya, saya kutuk mereka semua jadi batu!

Perjalanan ke salah satu titik kecil di benua Afrika dimulai.

Bandung, 8 Februari 2016

You Might Also Like

0 komentar: