Aku benci tatapan itu. Sunggguh. Benci karena aku tak bisa bersikap seperti yang aku inginkan. Bersikap kasar padamu dan berkata “Aku benar-benar muak!”. Tapi, aku tak bisa. Entah karena apa. Karena kau kini ada di dekatku, kah? Atau karena memang aku tak pernah membuka topeng manisku di hadapanmu? Argh, kau terlalu membuatku merasa bodoh, merasa lemah dan merasa tak berdaya. “Rin, kau baik-baik saja?” Suara itu menghancurkan kembali kata-kata jahat yang sudah ku susun. “Hem..”, aku mengangguk lemah. “Baik kalau begitu, aku pergi dulu”, pamitnya. Aku menatapnya tak percaya, bahkan kami tak menghabiskan waktu lima menit untuk bertemu dan ia hanya berkata “Rin, kau baik-baik saja?” lalu dengan mudahnya meninggalkanku begitu saja?! Cih, menjijikan! Selalu seperti itu. Ia tersenyum membalas tatapan tak lazim dariku seraya berkata, “Nanti ku usahakan untuk menghubungimu lagi.” Dan sosoknya pun hilang di tengah keramaian di luar café tempat kami bertemu tadi. Sungguh, aku tak tah...
Comments