Sunday, March 29, 2020

Terkurung


Sejak Januari awal tahun ini, dunia benar-benar menakutkan. Biang keroknya tak kasat mata, berukuran kecil sekali dan tak bisa dideteksi dengan mudah, cepat dan sederhana. Corona virus diseases 19 alias COVID 19 mulai menyerang dunia dari China di akhir tahun 2019. Dengan sekejap menyebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, pusat dan awal mula penyebarannya dimulai dari area Jabodetabek. Area dimana jutaan orang mencari nafkah, pekerjaan bahkan jodoh disana. Panik? Tentu. Apalagi sekarang saya dan suami tinggal di Jakarta. Tapi kami awalnya tidak menganggap virus ini terlalu serius. Kami tetap bekerja hingga pertengahan Maret Pak Gubernur DKI Jakarta mengambil keputusan untuk menghimbau semua pekerja bekerja di rumah. Bahkan sekolah-sekolah mulai diliburkan karena pandemik ini. Sekarang, diakhir Maret yang berselang hanya 2 minggu dari hari pertama WFH, virus ini sudah menginfeksi seribu orang di seluruh penjuru Indonesia.

Jalanan mulai sepi karena banyak daerah kini memutuskan untuk melakukan lock down alias menutup semua akses keluar masuknya orang di daerah mereka. Komplek-komplek yang memiliki penjaga keamanan ikut-ikutan lock down karena takut warga kompleknya terpapar virus yang tak kasat mata ini. Bahkan, desa-desa yang awalnya mengabaikan kesaktian virus ini juga melakukan lock down. Sayangnya, pemerintah pusat tak pernah memutuskan lock down sebagai solusi dari permasalahan yang mulai meresahkan ini.

Ini hari ke-14 saya diam saja di dalam rumah. Tidak keluar dari area tower kami. Paling jauh keluar untuk beli susu, roti, dan kebutuhan makanan saja. Itupun di lantai dasar. Sisanya hanya kami habiskan berdua. Senang? Tentu, karena biasanya kami hanya bertegur sapa di kala malam mulai menyapa. Bosan? Sangat. Terbiasa melihat banyak orang dalam perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya membuat saya cukup jemu dan merasa terkurung di rumah. Tapi inilah salah satu tindakan yang setidaknya tidak membutuhkan upaya lebih dan bisa menyelamatkan kami dari virus ini.



This too shall pass. Saya percaya itu. Tapi kapan? Entah, tak ada yang tahu bahkan pemerintah negara manapun di dunia ini.

Terkurung dalam rumah menuntut saya bersyukur karena saya masih punya rumah dan tinggal bersama orang terkasih. Di saat yang sama, orang lain bahkan kebingungan dimana mereka harus tinggal karena uang untuk membayar biaya bulanan saja tidak bisa terkumpulkan.

Berada di rumah selama 2 minggu ini membuat saya bersyukur tempat kerja saya masih sanggup membayar gaji karyawannya. Entah dengan cara apa alur kasnya tetap berjalan sehingga kami tidak perlu kebingungan untuk membeli bekal makanan.

Ramadhan dan Idul Fitri kali ini mungkin saya akan terkurung di dalam rumah jua, karena diperkirakan Covid 19 memuncak di pertengahan Ramadhan hingga Syawwal menyapa. Tak mengapa. Mungkin seperti ini rasanya tinggal di luar negeri dimana jauh dari sanak saudara di Indonesia.

Hanya Allah yang bisa menyingkirkan semua musibah ini. Hanya atas izin-Nya lah Covid 19 bisa hengkang dari dunia. Hanya ke-Maha Murah-an-Nya lah kita bisa selamat, sehat dan berbahagia saat ada Covid-19, maupun tidak. Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan karunia-Mu. Sehatkanlah kami, keluarga kami dan saudara-saudara muslim kami. Kuatkanlah kami menghadapi cobaan ini. Amin.

0 comments:

Total Pageviews

Blog Archive

Search This Blog

Powered by Blogger.

Quote

Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu (Andrea Hirata)