Sehari Sebelumnya : Mengunyah Seperti Sapi
Kamu tahu kan kalau sapi makan rumput bisa berjam-jam lamanya? Aktivitas sesimpel mengunyah bagi sapi tidak sesimpel itu. Ia mengunyah, menelan, lalu mengunyahnya lagi. Sedikit demi sedikit. Hingga semua makanan yang masuk menjadi lembut.
Caraku memproses rasa malu, rasa kesal dan rasa marah sepertinya mirip dengan cara mengunyahnya sapi. Rasa itu muncul, saya coba hadapi, menghilang sejenak lalu muncul lagi. Sepertinya saya kesulitan untuk menerima dan memaafkan. Terutama menerima dan memaafkan diri sendiri.
Suatu hari ketika kuliah, saya menjawab asal pertanyaan dosen yang ternyata didengar beliau langsung. Dosen saya mengulang dan membantah celetukan saya dengan serius. Membuat banyak orang menertawakan saya. Rasa malu itu bertahan beberapa semester.
Suatu hari lainnya ketika SMP, saya ikut pramuka. Para pembina sedang mengobrol lalu saya ikut menimpali, sok asik sendiri. Orang-orang di sekitar melihat saya risih. Lalu saya terdiam, memendam malu yang mendalam.
Jika saya melakukan kesalahan, atau kalah dalam suatu perlombaan, orang yang akan mengkritik diri saya habis-habisan adalah saya sendiri.
Setiap kali merasa terpojok, saya mencoba hadapi situasinya, tapi ingatan tentang rasa tak nyaman itu menetap lebih lama, lalu muncul entah dalam situasi yang mana.
Ketika saya terlalu emosi, saya bisa berbicara dengan nada tinggi bahkan berkomentar tajam tanpa perasaan. Tapi setelahnya, saya sedih dengan cara saya bersikap. Terlalu bodoh. Terlalu kekanak-kanakan. Rasa sesal itu lalu kadang berganti menjadi rasa sungkan, kadang juga berganti menjadi upaya menghindari topik pembicaraan, bahkan berganti menjadi pembatasan diri demi mencari jarak aman.
Apa yang saya bisa lakukan supaya saya bisa berdamai dengan kondisi diri sendiri? Saya juga bosan mengolah emosi seperti sapi yang mengunyah rerumputan. Terlalu makan waktu. Terlalu menguras tenaga.
Comments