14 ke-27


14 September 2017! 27 tahun lalu bayi yang unyu-unyu yang besarnya jadi super duper alay dan menyebalkan lahir ke dunia. Alhamdulillah di tahun ke-27 ada yang ngucapin tengah malem *colekayangbebeb. Alhamdulillah masih dikerjain juga sama si Chun, Teh Lanny dan banyak orang lainnya. Alhamdulillah Nana lulus dan wisuda di tahun ini. Alhamdulillah. Seneng pisan, ya Allah.

abaikan raray yang sangat ndak banget :D
Setelah Maghrib, tumben-tumbennya ibu telepon sambil nanya kabar sedang apa, dimana dan dengan siapa. Persisi lagu Kangen Band. Hahaha. Eh pas saya ambil wudhu untuk sholat Isya, Mamski dan Nana udah dateng ke kosan bawa donat dan nasi goreng. So sweet *v* (anggaplah bintang itu lope-lope). Pas pulang dari kantor tiba-tiba Zayzay yang kebetulan lagi nginep di rumah ngeluarin puding coklat dari kulkas sambil bilang, "Ki, Happy birthday ya!" Uncch. So sweet.

72 tahun! Eh 27 tahun!
Terimakasih ya Allah saya masih diberi rizki untuk berkumpul bersama orang-orang tersayang dengan mudahnya.  Terimakasih atas kesempatan hidup hingga 27 tahun ini. I am happy!



Jadi Beban


Hampir lebih dari 10 tahun tinggal jauh dari orang tua membuat saya terbiasa untuk bertahan hidup sendiri. Meminta bantuan orang lain dan berusaha 'membayar' kebaikan itu dengan bantuan yang pantas. Tapi nyatanya tidak semua cara otodidak berhasil. Perlu mencoba, mencoba dan mencoba lagi. Perlu kecewa, kecewa dan kecewa lagi. Perlu merasa cukup.



Dari sekian banyak hal, hanya satu alasan saya menjaga jarak dengan orang lain. Tidak ingin menjadi beban. Saya tidak ingin orang-orang yang ada di dekat saya merasa terbebani dengan adanya saya di dunia. Menjadi beban bagi saya artinya menambah daftar kesedihan orang lain. Cukup saya yang sedih dan keberatan, yang lain tak usah tahu bagaimana rasanya. Saya tidak mau menjadi beban.

PRIVASI


Kabarnya, privasi pelanggan di bank itu adalah hal yang utama dan dijaga. Nyatanya, setiap orang yang punya kartu kredit pasti mereka sering ditelepon oleh pihak asuransi lah, kartu kredit bank lain lah, dan sebagainya. Jadi, apanya yang dijaga?

Privasi buat saya itu seringnya dilematis. Pengen upload atau curhat tapi serem kalau ngebayangin dampak dari postingannya. Setiap kesel sama orang lain yang fotonya pernah di-upload di akun sendiri, kok bawaannya pengen ngehapus semua foto itu. Setiap senang karena satu hal yang dulu pernah dimaki-maki di akun sendiri, kok jadi malu juga ya. Yah begitulah. 

Di satu sisi, suka iri setiap ada teman yang posting foto pasangan atau bikin caption-caption sweet buat pasangannya. Di sisi lain, emang gak semua orang suka hal-hal pribadinya diumbar kemana-mana. Sering ngerasa bego juga sih kalau sadar hal kayak gitu doang di-iri-in. Tapi da aku teh manusia ya, yang sering ngeliat rumput tetangga lebih hijau warnanya. Jadilah privasi bagi saya seperti makan junk food padahal lagi diet. Apa hubungannya ya? Hahahaha.



Dulu, waktu internet belum merajalela, kayaknya privasi terbuka hanya di forum-forum kumpul-kumpul manja. Ya semacam arisan atau curhat yang kayak arisan (teu beres-beres). Paling banter yang dipamerin barang atau foto bareng pasangan. Tapi sekarang, orang yang diam saja terdengar kata-katanya. Dari akun sosmednya. 

Dulu, sosmed tempat saya curhat gak jelas. Mulai dari galau yang gak jelas siapa objeknya, marah-marah sama customer service (seringnya spe*dy dan bank), sampai ikut-ikutan posting demi barang gratisan atau lomba-lomba yang saat itu kekinian. Sekarang karena objek galaunya udah jelas (suami gue sendiri), jadi agak keki juga kalau galau-galau gak jelas. Kalau ada yang ngira gue kekurangan kasih sayang gimana? Padahal mereka gak tau badan gue melar karena terpenuhinya kebutuhan kasih sayang #apasih

Buat saya, posting foto dengan caption lucu-lucu manja itu gak terlalu ngeganggu privasi. Tapi menurut suami, hal kayak gitu kurang melindungi.

"Kalau posting kayak gitu, gimana kalau Aa ada masalah dan kamu yang kena batunya juga?" kata doi.

"Tapi kan ini..."
"Tapi kan itu..."
"Tapi kan anu..."

Namanya juga perempuan, defensif. Hahaha. Ingat pasal 1: Perempuan selalu benar #halah

Mau digimanain juga perempuan sama laki-laki memang beda. Yang satu dari Mars, yang satu dari Venus. Cara pandang mengenai privasi pun beda-beda. Dan sialnya, masing-masing masih berharap direspon dengan standarnya sendiri-sendiri. Kalau kayak gitu, mau gimana? Entahlah. Selagi yang diposting ke sosial media tidak mencoreng nama baik pasangan dan atau keluarga, sepertinya oke-oke saja.


I AM MARRIED!


Iya, gue udah jadi istri orang. Tepat di tanggal 6 Mei 2017. Hari Sabtu dan acara dilaksanakan di halaman rumah gue yang jauh dari mana-mana. Now where. Lol. Seru juga ya ternyata nikah tuh. Hahaha. Saat akad, gue gak ada di masjid, dimana orang itu ngucapin ijab kabul. Gue tetap pecicilan dan senyum selebar-lebarnya karena kalo mingkem lebih jelek lagi. Semua saudara sampai bilang, "Ka, kok sumringah banget?" Ya nikah, sumringah lah. Bukan lagiiii~~~~

I am so surprised with a lot of love I got on the day. Walaupun blowernya kagak datang, banyak tamu yang nyasar dan banyak hal yang gengges selama acara berlangsung. Gue juga baru tau ternyata nikah se-melelahkan itu. Gue baru tau ternyata nikah semenyenangkan itu. Gue baru tau ternyata gue punya banyak teman dan saudara yang rela jauh-jauh datang untuk mendoakan. 



Alhamdulillah acaranya berjalan lancar. Gak ada yang interupt di tengah-tengah akad (you wish). Banyak banget tamu yang datang. Alhamdulillah sekarang halal. Punya tambahan orang tua (plus nenek) dan adik, punya tambahan rumah tempat mudik, punya pundak orang yang bisa dijadiin sandaran. #halah.

Semoga semua doa yang para tamu dan keluarga ucapkan terkabul untuk kita semua. Semoga keluarga gue sakinah, mawaddah dan penuh rahmah alias kasih sayang serta berkah. Semoga gue dan suami bisa datang ke undangan yang dialamatkan kepada kami. 

Buat Ayang Iqbal (alay yak, bae ah kali kali), terimakasih sudah hadir di kehidupanku dan membuat semuanya penuh warna. Semoga hubungan kita sampai ke surga. Amin. 


Langkah yang Sejajar



Dulu, saya sering kali merasa putus asa dalam berorganisasi. Saya rasa langkah saya sudah jelas dan semua orang bisa mengikutinya. Saya pikir semua tahapan rencana saya sudah dapat dimengerti sehingga tidak ada konflik tak penting yang mungkin terjadi. Saya kira semua orang disana punya tujuan dan pemikiran yang sama dengan saya. Namun hasilnya selalu sama. Saya kecewa.

Lebih dari 12 bulan merasakan tekanan (bagi saya itu tekanan) seperti itu di beberapa organisasi dalam kurun waktu yang bersamaan membuat prinsip dan targetan saya yang kaku berubah. Saya baru sadar bahwa tidak semua yang saya percaya bisa dengan mudah percaya pada saya. Saya baru tahu beberapa tindakan saya seringnya membuat mereka tak nyaman dan cenderung ogah-ogahan. Saya baru merasa bahwa saya terlalu banyak menuntut. Lalu singkat cerita sejak itu saya berusaha tak menuntut atau terkesan tidak menuntut kepada orang lain. Ini membuat kemampuan mendelegasikan tugas saya kacau. Emosi saya lebih banyak ikut campur dalam mengambil keputusan. Saya tidak puas dengan tindakan saya karena kelakuan konyol saya sendiri. Kemudian saya kecewa. Pada akhirnya selalu saya yang kecewa karena terlalu banyak menginginkan banyak hal yang melibatkan orang lain dalam mencapainya.

"Sejajarkan langkah kalian, Ki."

Nasihat sederhana yang masih terngiang sampai sekarang. Tapi lagi-lagi tak bisa saya aplikasikan. Entah karena saya yang bodoh atau saya terlalu cepat dan berjalan tak beraturan.

Membuat langkah sejajar mungkin mudah bagi mereka yang biasa berbicara dengan lancar apa yang mereka inginkan. Tapi tidak bagi saya. Walaupun terlihat terbuka dan cenderung blak-blak-an, untuk urusan keinginan saya terbiasa memendam dalam-dalam. Seringnya menerima penolakan adalah alasannya. Sialnya, pada akhirnya lagi-lagi saya yang kecewa.

Tapi ternyata upaya menyejajarkan langkah tidak selalu buruk. Pengurus di organisasi itu cukup kompak (subjektifnya saya) dan saling terikat satu sama lain. Kedekatan kami sudah lintas angkatan bahkan bila bercanda cenderung kurang ajar. Meski dengan sejajarnya langkah banyak hal yang harus saya tekan dan itu membuat tidak nyaman.

Menyejajarkan langkah untuk orang yang baru kenal atau hanya dekat sepintas cenderung mudah. Tapi bagi mereka yang akan bersinggungan cukup lama dalam kehidupan saya itu agak menakutkan. Menakutkan karena pada akhirnya saya takut ditolak, diabaikan atau bahkan ditinggalkan.

Langkah yang sejajar bagi saya adalah hal yang benar-benar perlu diupayakan dengan penuh kesungguhan.