Renungan Akhir Tahun


Bulan September itu sangat berarti setiap tahunnya. Bukan hanya karena saya lahir di bulan itu, tapi juga karena di bulan itulah saya dan seluruh karyawan di kantor saya dinilai pencapaian tahunannya. Daaaan tahun ini tidak seperti tahun lalu ataupun tahun lalunya lagi. Pencapaian saya dibawah 100%. Sedih juga ya karena artinya bonus akhir tahun mungkin menyedihkan nominalnya. Tapi salah saya juga sih tidak sungguh-sungguh. 

Berbicara tentang pengukuran akhir tahun, kebetulan di kantor saya bantu semua karyawan untuk level staff hingga manager dalam proses pengukurannya. Bantu-bantunya sederhana banget, cuma bantu mereka isi di sistem dan update semua progres semua formulir pengukuran beberapa saat sebelum deadline. Ya kurang lebih kayak customer service tapi urusannya khusus pengukuran kinerja dan target. Tambah-tambahnya sebagai orang yang dikomplain pertama kali kalau ada struktur organisasi yang gak seharusnya atau salah.

Saya pribadi cenderung mudah sedih dan pasrah kalau penilaian orang lain terhadap apa yang kita lakukan itu tidak sesuai dengan yang diinginkan, dengan kata lain buruk. Tapi selama 3 tahun ikut serta dalam pengukuran kinerja banyak orang, saya menemukan banyak respon unik yang muncul setiap membantu mereka. Ada yang merasa capaian mereka harusnya di bintang 5 atau 100% lalu dengan mudahnya bad-mouthing atasan dan berkata bahwa meskipun capaiannya seperti itu ia merasa atasannya akan menilai jelek. Ada yang merasa mereka sudah mencapai targetnya dengan percaya diri tanpa bantahan. Tapi ketika saya bertemu dengan atasannya, formulir mereka harus di re-route ke tahap sebelumnya karena tidak sesuai dengan kenyataan. Ah, self esteem dan kesadaran diri memang selalu berbeda setiap orangnya. Dan itu unik. Kadang membuat saya terheran-heran sendiri.


Lalu saya berkaca dan melihat diri saya sendiri. Saya orang yang seperti apa? Lalu tertawa karena terlalu konyol juga jika dijabarkan. 



Kebetulan akhir-akhir ini saya kembali melihat review buku karya Angela Duckworth tentang Grit. Emm apa ya bahasa Indonesianya. Kalau menurut Google translate, courage and resolve; strength of character. Kurang lebih grit itu keberanian dan tekad, kekuatan karakter. Pertama kali kenal konsep ini saat ada rekaman Tedx tentang grit. Di video itu Angela menjelaskan penelitiannya selama kurleb 10 tahun untuk mengetahui karakter orang-orang yang sukses dan lebih maju dibandingkan orang lain. Ia mencari jawaban itu kemana-mana. Mulai dari melakukan penelitian di sekolah militer yang paling terkenal di US hingga ke perlombaan Spelling Bee (perlombaan mengeja) disana. Pertanyaan yang ia ajukan hanya 1 : 

"Siapa yang paling sukses disini? Kenapa?"

Dari sekian banyak jawaban, akhirnya Angela menemukan bahwa bukan IQ atau kecerdasan kita yang paling menentukan masa depan. Tapi GRIT

Dalam video-video review buku Angela di Youtube, banyak dibahas tentang konsep grit yang ditemukan oleh Angela. Grit itu tentang passion dan perseverence. Tentang gairah/ketertarikan dan ketekunan. Tentang hal yang disukai namun tidak seperti kembang api. Hal itu muncul terus bahkan bertahun-tahun lamanya. Grit adalah kunci sukses seseorang. Ada rumus yang selalu disebut dalam setiap review buku ini. Dalam konsep grit, effort atau usaha selalu dihitung 2 kali lebih besar dari hal lainnya. 

Talent x Grit = Skills
Skills x Grit = Achievement
Talent disini bukan seperti konsep lainnya. Talent disebutkan sebagai kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu sampai tuntas. Berat ya? 

Saya masih belum baca bukunya, jadi saya juga masih bingung apa bedanya grit dengan motivasi, apa bedanya grit dengan konsep flow di psikologi positif dan lain sebagainya. 

Lalu apa hubungannya dengan pengukuran akhir tahun yang saya ceritakan sebelumnya? 

Saya hanya mau bilang bahwa sepertinya saya tidak memiliki grit. Orang dengan grit yang tinggi, akan menyelesaikan semua yang sudah menjadi tanggungjawabnya, sedangkan saya tidak begitu. Orang dengan grit yang tinggi ia akan memiliki kualitas kerja yang baik, sedangkan sepertinya saya juga tidak begitu. 

Tapi kabar baiknya Angela menyampaikan bahwa grit bisa dibangun dan dibentuk dengan banyak cara termasuk menentukan target capaian hari ini lebih dari kemarin, pikiran yang terbuka dan juga secara konsisten menjalankannya. 

Lalu apakah saya bisa meneliti tentang grit dan mengaplikasikannya? Apakah grit berkaitan dengan self-esteem seseorang? Apakah grit dipengaruhi budaya? Apakah grit bisa muncul setelah terjadian kejadian-kejadian tertentu? Apakah....

Seperti selalu, renungan ini hanya kicauan otak saya yang seringnya eror. Sekian. 


Bandung, 1 Oktober 2017


14 ke-27


14 September 2017! 27 tahun lalu bayi yang unyu-unyu yang besarnya jadi super duper alay dan menyebalkan lahir ke dunia. Alhamdulillah di tahun ke-27 ada yang ngucapin tengah malem *colekayangbebeb. Alhamdulillah masih dikerjain juga sama si Chun, Teh Lanny dan banyak orang lainnya. Alhamdulillah Nana lulus dan wisuda di tahun ini. Alhamdulillah. Seneng pisan, ya Allah.

abaikan raray yang sangat ndak banget :D
Setelah Maghrib, tumben-tumbennya ibu telepon sambil nanya kabar sedang apa, dimana dan dengan siapa. Persisi lagu Kangen Band. Hahaha. Eh pas saya ambil wudhu untuk sholat Isya, Mamski dan Nana udah dateng ke kosan bawa donat dan nasi goreng. So sweet *v* (anggaplah bintang itu lope-lope). Pas pulang dari kantor tiba-tiba Zayzay yang kebetulan lagi nginep di rumah ngeluarin puding coklat dari kulkas sambil bilang, "Ki, Happy birthday ya!" Uncch. So sweet.

72 tahun! Eh 27 tahun!
Terimakasih ya Allah saya masih diberi rizki untuk berkumpul bersama orang-orang tersayang dengan mudahnya.  Terimakasih atas kesempatan hidup hingga 27 tahun ini. I am happy!



Jadi Beban


Hampir lebih dari 10 tahun tinggal jauh dari orang tua membuat saya terbiasa untuk bertahan hidup sendiri. Meminta bantuan orang lain dan berusaha 'membayar' kebaikan itu dengan bantuan yang pantas. Tapi nyatanya tidak semua cara otodidak berhasil. Perlu mencoba, mencoba dan mencoba lagi. Perlu kecewa, kecewa dan kecewa lagi. Perlu merasa cukup.



Dari sekian banyak hal, hanya satu alasan saya menjaga jarak dengan orang lain. Tidak ingin menjadi beban. Saya tidak ingin orang-orang yang ada di dekat saya merasa terbebani dengan adanya saya di dunia. Menjadi beban bagi saya artinya menambah daftar kesedihan orang lain. Cukup saya yang sedih dan keberatan, yang lain tak usah tahu bagaimana rasanya. Saya tidak mau menjadi beban.

Lahir di Indonesia


Alhamdulillah lahir di Indonesia. Itu kalimat yang sering sebut selama pergi-pergi ke negara lain. Di Indonesia, cabe aja bisa jadi enak banget. Di Indonesia, mie aja bisa dimakan sama nasi dan itu ngeunah jeung wareg pisan. Di Indonesia, sholat gak ada yang ganggu atau dilarang. Di Indonesia, pakai jilbab dibebaskan. 

Dulu sempat ingin pindah dari Indonesia. Ingin tinggal di luar negeri atau di tempat yang jauh dari negeri asal. Tapi kunjungan beberapa hari ke beberapa tempat membuat saya sadar: gorengan enak cuma ada di Indonesia, apalagi di rumah sendiri dan yang bikin si mamah. Ah, ngeunah.

Pertama ke luar negeri, semua orang tanya apa sih makanan halal itu. Mungkin niatnya hanya ingin tahu dan merasa aneh. Tapi ngejelasin kriteria halal aja saya gak fasih dan sudah keburu lapar. Kalau di Indonesia tinggal makan atau kalau ragu tanya aja, "halal bang?" atau "halalin adek dong, bang" kelar. 


Disini orang gak sholat Jumat itu aneh, di luar negeri kita dibilang aneh kok sholat terus-terusan. Waktu main ke Singapura nyari makan yang murah dan halal susah sekali. Mungkin karena bukan orang sana dan budget kami saat itu terlalu pelit. Akhirnya makan kebab lagi, makan kebab lagi. 

Dulu sering banget saya maki-maki negara sendiri karena korupsinya, karena karut marutnya penataan lalu lintasnya, dan sering cemberut karena nilai mata uang yang kacrut. Tapi setelah dipikir-pikir banyak pisan yang harus disyukuri sebagai orang Indonesia. Sholat gak perlu takut. Ikut kajian jadi viral. Ya meskipun di tahun ini antar umat beragama jadi panas gara-gara kelakuan gak sopannya orang yang tidak perlu kita sebut namanya. Kayak Voldemort ya. Hahahaha. 

Intinya, Saya senang lahir di Indonesia. I love Indonesia!!!!

PRIVASI


Kabarnya, privasi pelanggan di bank itu adalah hal yang utama dan dijaga. Nyatanya, setiap orang yang punya kartu kredit pasti mereka sering ditelepon oleh pihak asuransi lah, kartu kredit bank lain lah, dan sebagainya. Jadi, apanya yang dijaga?

Privasi buat saya itu seringnya dilematis. Pengen upload atau curhat tapi serem kalau ngebayangin dampak dari postingannya. Setiap kesel sama orang lain yang fotonya pernah di-upload di akun sendiri, kok bawaannya pengen ngehapus semua foto itu. Setiap senang karena satu hal yang dulu pernah dimaki-maki di akun sendiri, kok jadi malu juga ya. Yah begitulah. 

Di satu sisi, suka iri setiap ada teman yang posting foto pasangan atau bikin caption-caption sweet buat pasangannya. Di sisi lain, emang gak semua orang suka hal-hal pribadinya diumbar kemana-mana. Sering ngerasa bego juga sih kalau sadar hal kayak gitu doang di-iri-in. Tapi da aku teh manusia ya, yang sering ngeliat rumput tetangga lebih hijau warnanya. Jadilah privasi bagi saya seperti makan junk food padahal lagi diet. Apa hubungannya ya? Hahahaha.



Dulu, waktu internet belum merajalela, kayaknya privasi terbuka hanya di forum-forum kumpul-kumpul manja. Ya semacam arisan atau curhat yang kayak arisan (teu beres-beres). Paling banter yang dipamerin barang atau foto bareng pasangan. Tapi sekarang, orang yang diam saja terdengar kata-katanya. Dari akun sosmednya. 

Dulu, sosmed tempat saya curhat gak jelas. Mulai dari galau yang gak jelas siapa objeknya, marah-marah sama customer service (seringnya spe*dy dan bank), sampai ikut-ikutan posting demi barang gratisan atau lomba-lomba yang saat itu kekinian. Sekarang karena objek galaunya udah jelas (suami gue sendiri), jadi agak keki juga kalau galau-galau gak jelas. Kalau ada yang ngira gue kekurangan kasih sayang gimana? Padahal mereka gak tau badan gue melar karena terpenuhinya kebutuhan kasih sayang #apasih

Buat saya, posting foto dengan caption lucu-lucu manja itu gak terlalu ngeganggu privasi. Tapi menurut suami, hal kayak gitu kurang melindungi.

"Kalau posting kayak gitu, gimana kalau Aa ada masalah dan kamu yang kena batunya juga?" kata doi.

"Tapi kan ini..."
"Tapi kan itu..."
"Tapi kan anu..."

Namanya juga perempuan, defensif. Hahaha. Ingat pasal 1: Perempuan selalu benar #halah

Mau digimanain juga perempuan sama laki-laki memang beda. Yang satu dari Mars, yang satu dari Venus. Cara pandang mengenai privasi pun beda-beda. Dan sialnya, masing-masing masih berharap direspon dengan standarnya sendiri-sendiri. Kalau kayak gitu, mau gimana? Entahlah. Selagi yang diposting ke sosial media tidak mencoreng nama baik pasangan dan atau keluarga, sepertinya oke-oke saja.