Unusefull Questions


Pertanyaan yang tidak berguna. Hasek. Apa coba contohnya?

Bukan, bukan pertanyaan 'kapan nikah?' atau 'kapan mati?' tapi pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan saat interview dan katanya tidak berguna. Contohnya:

"Apakah kamu sudah menikah?"

"Apa orientasi seksualmu?"

"Berapa umurmu?"

Dan sebagainya.

Jadi ceritanya saya lagi ikutan kursus MSDM disini. Kebetulan masuk ke topik Rekrutmen di Zaman Now yang salah satu bahasannya adalah keterikatan proses rekrutmen dan seleksi yang cukup sarat dengan hal-hal yang bersisian dengan hukum. Di beberapa negara, pertanyaan yang terkait status perkawinan, umur, kewarganegaraan, etnis, bahkan umur adalah rahasia dan tidak boleh ditanyakan kepada orang lain termasuk di dalam proses seleksi. Bahkan menyebutkan gender dalam iklan lowongan pekerjaanpun tidak boleh dilakukan.



Suatu hari, pabrik saya pernah membutuhkan tenaga operator dan user meminta untuk hanya memproses kandidat non-muslim saja. Kenapa? karena posisi ini nantinya akan bertugas saat Shalat Jumat. Dengan bodoh dan sok diplomatisnya saya posting lowongan dengan menyebutkan kriteria tersebut sambil menyebutkan alasan kenapa kriteria yang terdengar rasis tersebut disebutkan. Sialnya, tidak semua orang suka membaca lowongan dengan lengkap dan banyak lagi yang memaki saya karena penyebutan kriteria tersebut.

Tapi percaya atau tidak, karena iklan itu, posisi kosong tersebut cepat terisi. Efektif, tapi beresiko dan bisa saja mencemarkan nama baik perusahaan.

Di lain hari, saya ikut training Behavior Based Interview dimana proses wawancara dan pertanyaan wawancara HANYA menanyakan tingkah laku kandidat, bukan cerita tambahan dibelakangnya. Jadi, pertanyaan tentang status pernikahan, umur, orientasi seksual dan hobi tidak masuk kedalam list pertanyaan. Saya sangat setuju dengan hal ini, tapi agak bergeser karena suatu hal. Kandidat saya memutuskan untuk membatalkan aplikasinya karena istrinya tidak mau tinggal di beda kota. Wow. Saya baru tahu karena saya tidak bertanya dan tidak mengantisipasinya.

Terkadang, pertanyaan tidak berguna memang benar-benar tidak berguna. Tapi untuk beberapa kasus, biasanya pertanyaan tidak berguna bisa membantu untuk memberikan data atau sekedar menjadi bahan basa-basi sebelum proses wawancara lebih detail dilakukan. Jadi, menurut saya pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa ditanyakan DENGAN SYARAT ada tujuan dibaliknya.

Bandung, 28 Oktober 2017
Salam sumpah pemuda !

Tambah Tjinta


Untung judulnya bukan 'Tambah Tinja' hahaha. Jadi ceritanya saya lagi sayang-sayangnya sama suami. Uuuh~

Kenapa harus ditulis sih, Ki? Pamer udah punya suami? 

Enggak sih, cuma ingin mendokumentasikan kenapa saya saat ini sayang banget sama manusia berjakun itu. Hahaha. Siapa tahu nanti kalau bertengkar dan baca blog ini lagi jadi inget masa-masa manis kayak sekarang.

Dulu, kayaknya gak mungkin bisa suka banget sama seseorang. Suka sama Afgan saja hanya pencitraan, biar dikira normal. Hahaha. Tapi ternyata kalau udah nikah rasanya beda. Dari senang karena dia bisa diajak ngobrol apa saja, sampai bersyukur banget dia udah jadi suami saya. #hasek



Saya sama dia sebetulnya sama-sama keras. Keras kepala, keras pendiri dan keras keras lainnya. Awalnya malah saya pikir saya akan terus adu argumen selama awal pernikahan. Tapi sampai mau 6  bulan banyaknya doi yang ngalah. Woman always right. Mrs. Right at all. Wkwkwk. 

Ada yang bilang masih suasana honeymoon, jadi masih manis-manis aja. Gimana kalau masa honeymoonnya diperpanjang, yang? Sampai selamanya gitu? Haha. 

Bersyukur sih nikahnya sama orang yang paham tentang agama, paham alasan kenapa keluarga selalu ada di prioritas utama. Senang juga karena ada orang yang marah karena saya gak serius ngejar cita-cita S2 (padahal mah tetep sebel awal-awal diingetin). Suka cara dia memperlakukan saya, cara dia menanggapi semua celoteh aneh saya, cara dia ngebantuin kerjaan rumah mulai dari nyuci piring sampai ngelipetin baju kering. Yaah, walaupun acak kadul, tapi niatnya itu bikin tambah tjinta. *smooch*

Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyaatinaa qurrota 'ayun waj'alnaa lil muttaqiina imaamaa. Semoga pernikahan kita sakinah, mawaddah, penuh rahmah dan berkah yaaaa. Amin.  Pokoknya I love you to the moon and the way back deh, yang! *kissgurita




Bandung, 22 Oktober 2017


Reference Checking


Suatu hari ada salah satu user yang mengajak saya untuk ngobrol. Tentu ngobrol di chat. Hahaha. 

User : "Ki, kok si X gak se-performe waktu dia cerita pas interview dan hasil interview kamu ya?"
Saya : "Loh, emang gimana bu maksudnya?"
U : "Iya kan di laporannya disebutkan kalau si X inisiatifnya bagus, implementasinya juga, dan sebagainya. Pokoknya meyakinkan lah."
S : "Oh gitu. Memangnya gimana ceritanya?"
U : "Ah, panjang lah kalau diceritain, Ki."
S : "Mungkin ya bu, mungkin saya waktu itu pas interview gak betul. Jadi berasa dia oke karena first impression yang bagus. Mungkin juga saya yang kurang probbing pas interview. Mungkin juga kandidatnya bohong."
U : "Emang kamu gak bisa prediksi dia bohong atau enggak? Kamu anak Psikologi kan ya?"
S : "Bisa diidentifikasi pake teknik interview Behavior Based Interview sama Ilmu Pernyataan sih bu, namun saya kan gak terlalu ahli dan saya gak belajar Ilmu Pernyataan."
U : "Sugan teh semua anak psikologi bisa baca perilaku gitu, Ki."
S : "Saya bukan dukun, bu. Hehe."

Chat closed. 

Well, gitu da ai rekrutmen mah. Milih yang terbaik dari kandidat yang ada. Tapi pas kandidatnya udah pas, eh waktu evaluasi ternyata gak pas pas amat. Lalu gimana cara supaya terbukti ke-pas-annya?

Kalau 100% pas mah atuh sampe 2 tahun nyari kandidatnya juga. Hahaha. Kandidat yg lolos dan gak pas-pas banget juga berbulan-bulan. Apalagi yang cocok 100%. 

Tapi bisa diminimalisir dengan : 

  • Behavioral Event Interview
  • Reference Checking
  • Psikotes & Grafologi (ini lagi ngehits lagi soalnya hoho)

Saya ada pengalaman yang unik dengan reference checking. Jadi suatu hari saya nyari kandidat untuk posisi Z. Nah, nemu tuh kandidat yang oke, tapi sayangnya setelah interview referernya, dia kurang oke karena attitudenya kurang bagus. Pinter sih, tapi kalau attitudenya kurang oke mah. Emmmm...

Walakhir, kandidat tersebut gak bisa lolos ke tahap selanjutnya. However, attitude always comes first. 



Oh iya, untuk kamu yang belum tahu reference checking, RC adalah metode seleksi dimana rekruter/HR akan menghubungi orang-orang yang pernah bekerjasama secara langsung denganmu. Baik itu atasan langsung atau rekan kerja atau bahkan posisi lain yang pernah berhubungan denganmu dalam satu proyek. Kontak orang yang mereferensikan/referrer didapatkan dari kandidat. Jadi, saat ada kolom "Reference" di formulir pendaftaran, isilah dengan referrer yang benar-benar tahu kualitas kamu dan mau memberikan komentarnya terhadap kinerjamu secara objektif. Referrer biasanya ditanya tentang : 
  • Proyek yang pernah dihadapi bersama
  • Kendala yang pernah dihadapi dan apa yang kandidat lakukan untuk menghadapi kendala tersebut
  • Apakah kandidat sesuai dengan posisi yang ia lamar di perusahaan dan seberapa sesuai serta alasannya
  • Apa kekuatan dan kelebihan kandidat
Jadi, pilih referrer yang benar-benar bisa menceritakan apa yang telah kamu lakukan, bukan yang hanya tahu kebaikan-kebaikan kamu. Kenapa? Karena terlalu bagus itu mencurigakan. HAHAHAHA. Oh ya, formulir Reference Checking bisa kamu cari dari internet. Gak usah minta saya yya. Hahaha.



Renungan Akhir Tahun


Bulan September itu sangat berarti setiap tahunnya. Bukan hanya karena saya lahir di bulan itu, tapi juga karena di bulan itulah saya dan seluruh karyawan di kantor saya dinilai pencapaian tahunannya. Daaaan tahun ini tidak seperti tahun lalu ataupun tahun lalunya lagi. Pencapaian saya dibawah 100%. Sedih juga ya karena artinya bonus akhir tahun mungkin menyedihkan nominalnya. Tapi salah saya juga sih tidak sungguh-sungguh. 

Berbicara tentang pengukuran akhir tahun, kebetulan di kantor saya bantu semua karyawan untuk level staff hingga manager dalam proses pengukurannya. Bantu-bantunya sederhana banget, cuma bantu mereka isi di sistem dan update semua progres semua formulir pengukuran beberapa saat sebelum deadline. Ya kurang lebih kayak customer service tapi urusannya khusus pengukuran kinerja dan target. Tambah-tambahnya sebagai orang yang dikomplain pertama kali kalau ada struktur organisasi yang gak seharusnya atau salah.

Saya pribadi cenderung mudah sedih dan pasrah kalau penilaian orang lain terhadap apa yang kita lakukan itu tidak sesuai dengan yang diinginkan, dengan kata lain buruk. Tapi selama 3 tahun ikut serta dalam pengukuran kinerja banyak orang, saya menemukan banyak respon unik yang muncul setiap membantu mereka. Ada yang merasa capaian mereka harusnya di bintang 5 atau 100% lalu dengan mudahnya bad-mouthing atasan dan berkata bahwa meskipun capaiannya seperti itu ia merasa atasannya akan menilai jelek. Ada yang merasa mereka sudah mencapai targetnya dengan percaya diri tanpa bantahan. Tapi ketika saya bertemu dengan atasannya, formulir mereka harus di re-route ke tahap sebelumnya karena tidak sesuai dengan kenyataan. Ah, self esteem dan kesadaran diri memang selalu berbeda setiap orangnya. Dan itu unik. Kadang membuat saya terheran-heran sendiri.


Lalu saya berkaca dan melihat diri saya sendiri. Saya orang yang seperti apa? Lalu tertawa karena terlalu konyol juga jika dijabarkan. 



Kebetulan akhir-akhir ini saya kembali melihat review buku karya Angela Duckworth tentang Grit. Emm apa ya bahasa Indonesianya. Kalau menurut Google translate, courage and resolve; strength of character. Kurang lebih grit itu keberanian dan tekad, kekuatan karakter. Pertama kali kenal konsep ini saat ada rekaman Tedx tentang grit. Di video itu Angela menjelaskan penelitiannya selama kurleb 10 tahun untuk mengetahui karakter orang-orang yang sukses dan lebih maju dibandingkan orang lain. Ia mencari jawaban itu kemana-mana. Mulai dari melakukan penelitian di sekolah militer yang paling terkenal di US hingga ke perlombaan Spelling Bee (perlombaan mengeja) disana. Pertanyaan yang ia ajukan hanya 1 : 

"Siapa yang paling sukses disini? Kenapa?"

Dari sekian banyak jawaban, akhirnya Angela menemukan bahwa bukan IQ atau kecerdasan kita yang paling menentukan masa depan. Tapi GRIT

Dalam video-video review buku Angela di Youtube, banyak dibahas tentang konsep grit yang ditemukan oleh Angela. Grit itu tentang passion dan perseverence. Tentang gairah/ketertarikan dan ketekunan. Tentang hal yang disukai namun tidak seperti kembang api. Hal itu muncul terus bahkan bertahun-tahun lamanya. Grit adalah kunci sukses seseorang. Ada rumus yang selalu disebut dalam setiap review buku ini. Dalam konsep grit, effort atau usaha selalu dihitung 2 kali lebih besar dari hal lainnya. 

Talent x Grit = Skills
Skills x Grit = Achievement
Talent disini bukan seperti konsep lainnya. Talent disebutkan sebagai kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu sampai tuntas. Berat ya? 

Saya masih belum baca bukunya, jadi saya juga masih bingung apa bedanya grit dengan motivasi, apa bedanya grit dengan konsep flow di psikologi positif dan lain sebagainya. 

Lalu apa hubungannya dengan pengukuran akhir tahun yang saya ceritakan sebelumnya? 

Saya hanya mau bilang bahwa sepertinya saya tidak memiliki grit. Orang dengan grit yang tinggi, akan menyelesaikan semua yang sudah menjadi tanggungjawabnya, sedangkan saya tidak begitu. Orang dengan grit yang tinggi ia akan memiliki kualitas kerja yang baik, sedangkan sepertinya saya juga tidak begitu. 

Tapi kabar baiknya Angela menyampaikan bahwa grit bisa dibangun dan dibentuk dengan banyak cara termasuk menentukan target capaian hari ini lebih dari kemarin, pikiran yang terbuka dan juga secara konsisten menjalankannya. 

Lalu apakah saya bisa meneliti tentang grit dan mengaplikasikannya? Apakah grit berkaitan dengan self-esteem seseorang? Apakah grit dipengaruhi budaya? Apakah grit bisa muncul setelah terjadian kejadian-kejadian tertentu? Apakah....

Seperti selalu, renungan ini hanya kicauan otak saya yang seringnya eror. Sekian. 


Bandung, 1 Oktober 2017


14 ke-27


14 September 2017! 27 tahun lalu bayi yang unyu-unyu yang besarnya jadi super duper alay dan menyebalkan lahir ke dunia. Alhamdulillah di tahun ke-27 ada yang ngucapin tengah malem *colekayangbebeb. Alhamdulillah masih dikerjain juga sama si Chun, Teh Lanny dan banyak orang lainnya. Alhamdulillah Nana lulus dan wisuda di tahun ini. Alhamdulillah. Seneng pisan, ya Allah.

abaikan raray yang sangat ndak banget :D
Setelah Maghrib, tumben-tumbennya ibu telepon sambil nanya kabar sedang apa, dimana dan dengan siapa. Persisi lagu Kangen Band. Hahaha. Eh pas saya ambil wudhu untuk sholat Isya, Mamski dan Nana udah dateng ke kosan bawa donat dan nasi goreng. So sweet *v* (anggaplah bintang itu lope-lope). Pas pulang dari kantor tiba-tiba Zayzay yang kebetulan lagi nginep di rumah ngeluarin puding coklat dari kulkas sambil bilang, "Ki, Happy birthday ya!" Uncch. So sweet.

72 tahun! Eh 27 tahun!
Terimakasih ya Allah saya masih diberi rizki untuk berkumpul bersama orang-orang tersayang dengan mudahnya.  Terimakasih atas kesempatan hidup hingga 27 tahun ini. I am happy!