Langkah yang Sejajar



Dulu, saya sering kali merasa putus asa dalam berorganisasi. Saya rasa langkah saya sudah jelas dan semua orang bisa mengikutinya. Saya pikir semua tahapan rencana saya sudah dapat dimengerti sehingga tidak ada konflik tak penting yang mungkin terjadi. Saya kira semua orang disana punya tujuan dan pemikiran yang sama dengan saya. Namun hasilnya selalu sama. Saya kecewa.

Lebih dari 12 bulan merasakan tekanan (bagi saya itu tekanan) seperti itu di beberapa organisasi dalam kurun waktu yang bersamaan membuat prinsip dan targetan saya yang kaku berubah. Saya baru sadar bahwa tidak semua yang saya percaya bisa dengan mudah percaya pada saya. Saya baru tahu beberapa tindakan saya seringnya membuat mereka tak nyaman dan cenderung ogah-ogahan. Saya baru merasa bahwa saya terlalu banyak menuntut. Lalu singkat cerita sejak itu saya berusaha tak menuntut atau terkesan tidak menuntut kepada orang lain. Ini membuat kemampuan mendelegasikan tugas saya kacau. Emosi saya lebih banyak ikut campur dalam mengambil keputusan. Saya tidak puas dengan tindakan saya karena kelakuan konyol saya sendiri. Kemudian saya kecewa. Pada akhirnya selalu saya yang kecewa karena terlalu banyak menginginkan banyak hal yang melibatkan orang lain dalam mencapainya.

"Sejajarkan langkah kalian, Ki."

Nasihat sederhana yang masih terngiang sampai sekarang. Tapi lagi-lagi tak bisa saya aplikasikan. Entah karena saya yang bodoh atau saya terlalu cepat dan berjalan tak beraturan.

Membuat langkah sejajar mungkin mudah bagi mereka yang biasa berbicara dengan lancar apa yang mereka inginkan. Tapi tidak bagi saya. Walaupun terlihat terbuka dan cenderung blak-blak-an, untuk urusan keinginan saya terbiasa memendam dalam-dalam. Seringnya menerima penolakan adalah alasannya. Sialnya, pada akhirnya lagi-lagi saya yang kecewa.

Tapi ternyata upaya menyejajarkan langkah tidak selalu buruk. Pengurus di organisasi itu cukup kompak (subjektifnya saya) dan saling terikat satu sama lain. Kedekatan kami sudah lintas angkatan bahkan bila bercanda cenderung kurang ajar. Meski dengan sejajarnya langkah banyak hal yang harus saya tekan dan itu membuat tidak nyaman.

Menyejajarkan langkah untuk orang yang baru kenal atau hanya dekat sepintas cenderung mudah. Tapi bagi mereka yang akan bersinggungan cukup lama dalam kehidupan saya itu agak menakutkan. Menakutkan karena pada akhirnya saya takut ditolak, diabaikan atau bahkan ditinggalkan.

Langkah yang sejajar bagi saya adalah hal yang benar-benar perlu diupayakan dengan penuh kesungguhan.

Berakhir


Sedih. Iya, saya sedih karena berakhirnya sesuati di bulan pertama 2017 ini. Berakhirnya mata saya menatap ungkapan-ungkapan sarkasme yang lucu dari Eric Weiner di bukunya The Geography of Bliss. Weiner adalah bapak-bapak yang tidak bahagia dan mencari kebahagiaan. Kebahagiaan kok dicari? Iya, saya juga heran dengan konsepnya. Buku tahun 2012 ini cukup pas dengan selera saya yang aneh. Isinya tidak sepenuhnya pernyataan sikap setuju tentang hal-hal yang berkaitan dengan kebahagiaan yang Weiner temui. Perjalanannya dari Belanda hingga Miami memberikan beberapa insight yang tidak biasa. 

Dulu saat video tentang betapa kecilnya manusia dibandingkan alam kosmik beredar di Facebook, saya merasa sangat kecil dan sadar (secara teknis) mengapa manusia memang tidak sepatutnya sombong. Lalu di buku ini, Weiner menuliskan bahwa manusia akan merasa lebih merasa berharga bila merasa menjadi bagian kelompok di alam kosmik, bukan hanya sebagai individu. Menurut saya ini menarik dan saya setuju dengan itu. 

source: link
Ada lagi pemikiran "itu bukan urusan saya" dari Moldova yang membuat orang-orang suram tiada dua. Weiner bilang kalau kepura-puraan sopan di Jepang lebih baik daripada kecuekan kejam yang orisinil dari Moldova. "Itu bukan urusan saya" adalah kalimat penyakit yang bisa membuat kita tidak bahagia. Lagi-lagi saya setuju dan saya rasa saya sejak dulu terpapar sakit jiwa jenis ini. Haha. 

Selain itu, ada satu potongan cerita yang membuat saya bilang "Oh iya" dalam hati. Yaitu saat Weiner mewawancara para pendatang di Asheville, California Utara. Kota ini cantik, dekat dengan pegunungan dan tidak terlalu banyak masalah perkotaan di dalamnya. Kota ini memiliki udara yang sejuk dengan penduduk dari berbagai negara. Kita bisa menemukan restoran asia sangat mudah disini. Daya tarik berupa perpaduan alam-budaya-udara yang sejuk yang tak bisa ditolak oleh siapapun yang datang kesana.

Weiner bertanya kepada setiap orang yang bilang kalau mereka jatuh cinta pada Asheville  yang membuat mereka pindah kesana selama bertahun-tahun, "Dimana kamu ingin mati?"

Semua orang tidak menjawab Asheville sebagai jawabannya. Artinya, mereka tidak benar-benar jatuh cinta dengan kota itu. Menurut Weiner itu berbahaya karena sama saja menaruh satu kaki di luar untuk berjaga-jaga bila ada sesuatu yang buruk terjadi dan tidak benar-benar mencintai sesuatu yang bisa berakibat selalu mencari pembanding dari yang sudah ada dan tidak benar-benar mensyukuri yang sudah dimiliki. 

Source: link

Baru kali ini saya merasa sedih membuka bab terakhir dari sebuah buku. Ini toh rasanya sedih baca buku terakhir dari serial Harry Potter yang teman saya rasakan beberapa tahun yang lalu. Dulu saya rasa hal itu lebay, tapi ternyata saya ngalamin juga. Wkwkwk. Saya tidak percaya karma. Ini mungkin cara Tuhan memberikan pengalaman lain untuk saya. 

Berdasarkan buku ini, bahagia itu tidak usah dicari tapi dirasakan dari apa yang sudah kita miliki. Selain itu, terkadang memaklumi dan menerima ketidaksempurnaan juga bisa menambah rasa bahagia yang kita miliki. Man pei lai! Ya sudahlah. 

Menurut saya, dari skala 1-10 buku ini berada di nomor 9.  Saya merasa cocok dengan gaya penulisan Weiner yang blak-blakan. Selain itu, saya suka caranya membahas beragam penemuan psikologi positif yang baru saya dengar sebelumnya. Saat baca buku ini, saya sempat berpikir mungkin ini lah alasan mengapa dulu saya sempat tertarik dengan kajian psikologi positif seperti flow, happiness, subjective well-being, dsb dsb. Jadi saat baca buku ini saya gak blah-bloh teuing. Gitu lah. 

“Money matters but less than we think and not in the way that we think. Family is important. So are friends. Envy is toxic. So is excessive thinking. Beaches are optional. Trust is not. Neither is gratitude.” 

Ciparay, 28 Januari 2017

Diingat Orang



Hari ini ceritanya saya datang ke undangan pernikahan lagi. Lagi. Iya. Jangan tanya kapan ngundang #ambekanmodeon Haha.

Teman yang satu ini agak unik. Dia seringkali di-bully karena fisiknya yang terlalu kurus tapi lebih tepat dikatakan kerempeng. Hahaha. Maaf, Din. Serta karena banyak alasan lainnya. Tapi hari ini, di hari bahagianya, jumlah orang yang datang ke pernikahannya cukup banyak. Ia tidak berhenti menyalami tamu dari keedatangan saya hingga kepulangan saya dari acara tersebut.

"Banyak banget yang datang ya, teh."

"Iya, Ki. Gimana weh Dindinnya. Dia kan baik ke semua orang."

Percakapan yang menarik.

source: link

Sepulang dari acara tersebut, saya seperti biasa kelayapan di dunia maya. Semua sosmed saya buka karena masih enggak membuka laptop untuk urusan lain yang sebenarnya lebih penting. Tiba-tiba saya temukan salah satu postingan teman yang bercerita tentang temannya yang lain. Seseorang yang ia ingat dan ia kenang. Orang tersebut disebutkan memiliki banyak kelebihan dan baik hati meskipun baru pertama kali kenal. Saya tau orang itu karena teman saya yang lainnya pernah menuliskan cerita yang hampir sama dengan teman saya yang ini. Bingung gak sih? Banyak banget "teman saya"nya hahahahaha.

Intinya, menarik juga mengetahui bagaimana seseorang diingat oleh orang lain. Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, dan manusia mati meninggalkan sampah. Eh. Salah ya? Hahaha. Maksudnya manusia mati meninggalkan nama. Hanya nama dan tentunya tentang hal-hal yang pernah kita lakukan.

Pertanyaannya, saya nanti akan diingat dan dikenang orang sebagai orang yang seperti apa ya?

Orang yang cerewet? orang yang galak? orang yang alay? orang dengan tertawa membahana badai? orang yang egois dan mau menang sendiri? orang yang kayak gimana ya? Huhuhu.

Kan gak mungkin saya dikenang sebagai orang yang cantik, baik hati, lemah lembut dan rajin menabung. Itu dusta semua. It's not me. It's not me. #naonsih


Curug candung, 8 Januari 2017

Ps: terrnyata ada orang baru disebrang kosan saya. Yeay, gak serem lagi liat kamar kosong sambil pura-pura nutup sebelah mata pas mau masuk kamar. Hahaha


Things That Will Make Me Happy


Suatu hari ada yang meminta untuk menuliskan hal-hal yang bisa membuat saya senang. Saya rada bingung sih dengan permintaan itu karena saya gampang senang. Senang saat  dapat diskon, senang saat dapat gratisan dan senang saat diberitahu gaji naik. Hahaha.

Sebenarnya enggak juga sih. Jadi ceritanya dulu saya sering terlalu mudah senang lalu terlalu sedih setelahnya. Hal-hal itu membuat saya tidak mudah memberi label apa saja yang membuat saya senang. Kalau perasaan yang sebaliknya (sedih) itu saya dapat dengan mudah menulisnya. Melankolis banget kan gue. Mungkin kalau dimirip-miripin dengan karakter di kartun Winnie The Pooh, saya adalah si Eeyore. Googling aja lah kalau mau lebih tahu  seperti apa sih si Eeyore ini. Tapi cassingnya saya rada beda sama si Eeyore karena memang sudah dilahirkan rempong seperti ini. 

Kembali kepada hal yang membuat saya senang. Setelah dipikir-pikir, berikut 5 hal yang membuat saya senang: 

Liburan

Muka saya terdeteksi orang yang haus piknik gak? #pertanyaanabsurd 

Saya gak akan pernah nolak liburan kalau itu direncanakan jauh-jauh hari (untuk yang butuh nginep dan budget lebih dari 200k). Tapi kalau yang gak butuh nginep, budget rendah dan tidak perlu cuti mah saya siap diajak kemana juga. Dulu saking seringnya saya main diawal-awal kerja, saya sampai dijulukin "tukang ulin" sama Pak Dadang (salah satu HR di kantor). Padahal mainnya cuma ke lapangan rumput sintesis depan Masjid Agung Bandung, ke taman Balai Kota, ke Gram*dia, makan di foodcourt, dll. Intinya saya suka main, apalagi piknik. Ke Turki aja gue jabaniiin apalagi di Indonesia doaaang. Seneng lah liburan mah!

Tiba-tiba

Saya senang dengan rencana, tapi kadang-kadang juga senang dengan spontanitas. Saya senang tiba-tiba dihubungi, tiba-tiba diajak bertemu, asal jangan tiba-tiba ada masalah lalu minta putus. Hahaha. #diajakputussiapajugaki #skip. Yang tiba-tiba itu seringnya gak wah malahan. Biasa aja. Tapi gak ada di rencana sebelumnya. Hal itu bikin saya senang karena di luar kebiasaan. 

Dulu pernah ngerasa seneng banget waktu teman ngajakin ketemuan tiba-tiba di taman Balai Kota Bandung. Pernah senang juga karena ibu tiba-tiba ngajak makan di Mak Umah, warung lotek yang gak jauh dari rumah. Sempat terharu juga saat ibu atau ayah SMS tanya udah makan atau belum padahal biasanya mah boro-boro, diinget ada anak nomer 1 yang jelek kayak gini juga Alhamdulillah. Wkwkwk. Ah ya, inget juga waktu Omah tiba-tiba datang nginep di kosan sambil ngasih blazer buat saya. Misalnya lagi saat tiba-tiba cinta datang kepadakuuu~ #malahnyanyi

Tidak dipaksa

Beberapa tahun ini saya terbiasa hidup dipercaya oleh orangtua saya. Padahal dulu saya sering diatur-atur. Mau sekolah SMP dimana, kuliah dimana, jurusan apa dan lain-lain. Lalu saya berontak. Setiap melakukan hal-hal yang diminta tanpa meminta pertimbangan saya itu membuat saya merasa buruk dan sedih. Jadi, saya tidak suka dengan larangan-larangan yang tiba-tiba atau arahan-arahan yang memaksa tanpa meminta pertimbangan saya. Setelah saya menyampaikan ketidaksetujuan saya, orangtua saya mulai melunak. Saya dibebaskan pulang jam berapa saja dan menginap di kosan teman karena saat itu mereka tahu saya aktif berorganisasi. Selain itu saya bukan tipe orang yang bisa nakal pacaran, jalan-jalan, ngabisin uang, dll. Saya mageran alias males gerak dan suka merasa bersalah kalau keluar rumah tapi hanya buang-buang uang saja dan buang-buang waktu tidur saya. Buang-buang waktu mah mendingan tidur aja. Buang-buang uang mah bisa lewat online shop tanpa harus panas-panasan dan debat harga #teubeneroge.

Source: link


Dijadikan prioritas

Menjadi anak pertama artinya rela untuk terkadang tidak dilirik kebutuhannya orangtua. Melakukan banyak hal sendirian sudah jadi makanan sehari-hari. Dari kecil kalau mau main pasti disuruh ajak salah satu adik atau bahkan semua adik. Bayangkan, saya punya 5 adik dan saya harus ngajak main mereka sepanjang tahun! Andai dulu saya bisa bilang, "Yah, Bu, aku tuh butuh me time!" #yakeles #digeplakyangada

Oleh karena itulah akan sangat senang sekali kalau ada yang menjadikan saya sebagai prioritas dan diekspresikan dengan baik. Saya senang ditanya kabar, diajak mengobrol dan berdiskusi. Menjadi orang pertama yang tahu beragam kesulitan, hambatan bahkan cerita menyenangkan yang dihadapi atau sekedar kejadian sehari-hari dan kejadian lucu di hari ini. Karena menurut saya, dijadikan prioritas itu bukan sekedar terpatri dalam hati dan hal-hal yang besar, tapi juga hal-hal kecil yang seperti saya sebutkan sebelumnya. 

Diterima dan didukung

Mendapatkan perasaan diterima dan didukung adalah harapan semua orang. Kamu pasti senang saat menemukan orang yang menerima ke-absurd-an dan semua keanehanmu. Dan cenderung menghindari orang-orang yang mengomentari dirimu secara negatif. Saya punya kecenderungan memiliki kebutuhan ini agak banyak dibandingkan orang lain. Suram banget masa lalu saya mah, kalau ada orang yang gak saya suka dan dia gak suka saya, saya tinggalin cepet-cepet. Saya terlalu mengedepankan kebutuhan memiliki mental yang sehat daripada memiliki banyak teman. Daripada saya habiskan waktu dengan perasaan negatif seperti minder, sebal, kesal, bahkan benci, lebih baik saya pergi menjauh dan merasakan ketentraman lagi. Parah. Tapi pemahaman bahwa tidak semua orang menerima sikap saya yang seperti itu dan saya juga tidak bisa bersikap seperti itu terus perlahan masuk ke otak saya yang bebal ini. 

Dulu saya bercita-cita untuk tidak tinggal di satu tempat saja. Saya ingin tinggal di banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang. Tujuannya sederhana, menghindari konflik dengan orang-orang sekitar saya jika saya memutuskan untuk menetap. Egois kan. Hahaha. 

Tapi ternyata berteman dekat dan memiliki jalinan hubungan romantis juga menyenangkan. Penerimaan dan dukungan dari orang lain seperti memberikan energi tambahan untuk saya. Dengan diterima dan didukung rasanya keegoisan saya bisa luruh sedikit demi sedikit. Karena katanya manusia akan lebih berbahagia bila ia merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar dan tidak sendirian. 

Ah ini gak nyambung banget sih isinya. Curcol semua. Bahasannya masa lalu-masa lalu aja. Gak produktif ya. Hahaha. Tapi setidaknya janji saya untuk menuliskan beberapa hal yang bisa membuat saya senang terpenuhi. Mungkin akan ada part 2 nya #kekfilmaja mungkin juga tidak. Kumaha engke weh alias gimana nanti. Saya harus bersemedi dulu untuk menuliskan kelanjutannya, mengingat mendapatkan 5 poin ini saja butuh waktu berminggu-minggu. Hahaha. 

Oh iya, ada satu hal lagi yang sangat membuat saya senang: dicintai dan mencintai. Ahiw, cinta. Bhay!



Bandung, 5 Januari 2017



2017!


Tahun 2016 berlalu tanpa menoleh lagi padaku yang masih termanggu dan tak berbuat apapun yang signifikan demi bangsa, tanah air, agama bahkan keluarga. Berhubung resolusi saya gak pernah jauh dari beli payung, untuk tahun ini rasanya akan agak serius dari tahun sebelumnya karena payung saya belum rusak-rusak juga walaupun sering ketinggalan dimana-mana. Hahaha.

Jadi begini..

Semoga di tahun 2017 ini saya bisa menikah. Iya, menikah. Lucu ya, di blog ini sibuk memaki perasaan, ternyata saya juga masih punya perasaan. Di blog ini berkata sulit menjalin hubungan jangka panjang, tapi saat orangnya datang ternyata cukup mudah juga dijalani. Sudahlah. Intinya semoga saya bisa menikah tahun ini. Dengan siapa? Afgan? Bukan lah. Mana mau dia sama saya. Vino Bastian aja ogah. #naonsih

Saya ingin menikah dengan orang yang mau memilih saya sebagai teman hidupnya. Seseorang yang dengan baik hatinya rela mengesampingkan deadline dan setumpuk kerjaan karena saya terisak menangis, mengeluh bahkan saat saya bercerita banyak hal tak penting. Seseorang yang bisa diandalkan oleh keluarganya dan pernah melewati beragam cerita. Seseorang yang mau belajar, cukup terbuka dan luas wawasannya. Seseorang dengan bercandaan sarkasme yang menyebalkan. Seseorang yang hampir berkebalikan dari saya. Siapakah diaa? Eng ing eng. Bukan Afgan weh inti na mah. Hahaha. Semoga jodoh dan kesampean ya. Amin.




Yang kedua, semoga Nana lulus kuliah! Yeay! Sebagai mantan mahasiswa tingkat akhir yang tak kunjung berakhir, nambah 1 semester itu malah membuat saya tambah malas mengerjakan skripsi, walaupun alhamdulillahnya selesai juga. Jadi, lulusnya Nana (anak ketiga dari 6 bersaudara Auliya) itu merupakan titik transit 'kehidupan perekonomian' saya ke titik transit yang lain. Apakah itu? Bayar hutang! wkwkwkw. Serius.

Selanjutnya, di tahun 2017 saya ingin paham betul ilmu organizational development. Saya ingin bisa mengerti career management, competencies assessment, work load analysis, dan certified di salah satu spesialisasi HR (entah talent management, org development atau recruitment).

Kuliah S2 gimana, Ki? 

Nah, masih bingung ambo. Walaupun didukung oleh semua pihak untuk S2, tapiiii... belum siap bertransformasi dari orang yang membiayai menjadi orang yang dibiayai lagi. Hahahaha.

Beasiswa?

Iya ya. Tapi masih bisa spare buat kebutuhan sendiri gak ya? Masih bisa bayar-bayar gak ya? Muat gak ya buat beli-beli yang lain gak ya? Nanti LDR-an gak ya? Em..

Cemen banget isi otak gue. Hahaha. Tapi begitulah adanya.

Yang terakhir ini gak measurable. Ingin lebih sering merasa bahagia, lebih banyak baca buku, lebih banyak tempat yang dikunjungi, lebih sering nulis di blog, lebih banyak bersyukur, lebih banyak sedekah, dan lebih banyak amal ibadahnya.

Duh, klise banget ternyata harapan saya di tahun 2017. Hahahaha.

Bae ah, lapak saya ini! Bhaaay! Happy new year!


Ps: kamu gak mau nulis resolusi kamu juga? #kode