Dari Bumi Manusia, Hingga Mitologi Jawa

April 29, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Akhir-akhir ini saya sedikit keranjingan dengan buku-buku yang berbau sejarah dan budaya suku Sunda dan Jawa. Entah karena pertama menatap rak buku di Bapusipda Jabar menemukan buku-buku itu, atau memang ini adalah ketertarikan terpendam saya. Entah. Intinya, Tuhan menggariskan saya membaca beberapa buku yang berbau sejarah lengkap dengan budaya dua suku itu. Buku yang saya baca hanya novel dari Pram "Bumi Manusia", selain itu ada "Bupati-bupati Parahyangan" dan "Mitologi Jawa". Baru tiga buku saja sudah membuat saya berspekulasi banyak hal. Hahaha.

Bumi manusia berkisah tentang Minke, pemuda Jawa yang tinggal bersama dengan anak Nyai Ontosoroh, gundik pria Belanda. Pram begitu apik menggambarkan ketimpangan-ketimpangan yang ada. Bangsa Eropa yang dengan bangga mengenalkan etika ala Eropa, nyatanya tak pernah benar-benar melakukan hal yang sama seperti yang mereka banggakan. Miris. Banyak kutipan percakapan ataupun narasi yang membuat saya tertampar berkali-kali. Walaupun saya agak kurang suka dengan keputusan Minke tinggal bersama (kohabitasi) dengan anak Nyai Ontosoroh. Mungkin moral disgusting saya terlalu tinggi. Hahaha.

Bupati-bupati Parahyangan adalah buku yang menceritakan tentang kedudukan, fungsi dan peran bupati di tanah Parahyangan dari masa ke masa. Dari kedudukan mereka sebagai Raja dari kerajaan-kerajaan Sunda, hingga menjadi bupati yang notabene adalah kepanjangan tangan Belanda kepada rakyat jelata. Orang-orang Belanda dengan cermatnya menemukan cara bagaimana agar para bupati ini dapat membantu misi eksploitasi mereka. Pintar, pengambilan keputusan yang memperhitungkan kebudayaan setempat. Berbagai kisah kebijaksanaan para bupati untuk melindungi warganya diceritakan dengan baik. Hubungan hamba dan tuan antara rakyat dengan bupati tak serta merta membuat beberapa bupati lupa bahwa rakyat mereka adalah orang-orang yang harus mereka jaga. Buku ini mengungkapkan bahwa bupati Parahyangan tak semata-mata menjadi alat pemeras Belanda. Menarik.

Mitologi jawa, buku terakhir yang membuatku tercengang, ajaran jawa purba sangat filosofis. Berbagai kisah dalam berbagai bentuk karya sastra memerlukan pemahaman mendalam untuk memahaminya. Banyak nilai moral yang tersirat dari kisah-kisah tersebut. Awalnya, saya berpikir banyak cerita-cerita dewa-dewa itu sangat absurd dan tidak masuk akal. Nyatanya memang benar-benar tak masuk akal, karena perlu dipahami dengan hati. Setiap penamaan tokoh diperhitungkan dengan cermat, agar nilai moral yang disampaikan dipahami dengan tepat. Meski 'hembusan-hembusan' mistisnya juga sangat kuat terasa, namun ajaran para pendahulu tentang alam raya memang tak cukup untuk diacungi dua jempol semata. Keren.

Buku ketiga mengingatkanku pada perjalananku ke Kampung Naga di Tasikmalaya. Semua yang mereka lakukan diperhitungkan dengan cermat. Air bekas wudhu harus mengalir ke arah mata angin tertentu, tujuannya agar nantinya tidak tercampur dengan air bersih. Banyak larangan, banyak nilai yang terkandung di dalamnya. Menarik, sungguh menarik. Terkadang mitos yang membungkus ajaran baik itu terlalu kuat, sehingga orang-orang yang mempercayainya bulat-bulat seperti saya dengan mudah memberikan label "musyrik", "janggal", dan sebagainya. Ah ya, saya memang harus memahami nilai-nilai lokal dengan hati.

Dari Bumi Manusia, hingga Mitologi Jawa. Hanya tiga buku, tapi saya sudah lebih dari suka. Saya berkali-kali berasumsi, mereka-mereka yang lebih dulu tinggal sebelum kita lebih 'modern' dan bersahaja. Nilai universal yang membuat dunia ini seperti desa kecil dengan kebudayaan yang sama, lambat laun menyisihkan nilai-nilai lokal yang bisa membuat kita lebih bijaksana. Terkadang saya berpikir nilai universal baiknya tak diserap begitu saja. Tak perlu latah menganggap hal yang dinyatakan benar disana menjadi benar disini. Nilai-nilai budaya dan kearifan lokal Indonesia rasanya lebih 'pantas' menentukan kebenaran menurut versi orang Indonesia.

Semoga bisa diberikan kesempatan untuk memperdalam budaya dan sejarah suku-suku yang ada di Indonesia dari sudut pandang psikologi. Amin.

You Might Also Like

0 komentar: