Pecahan Hari (2)

June 13, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Siang
Saking asiknya mengobrol, saya lupa kedatangan saya di pagi hari itu adalah untuk ikut berkumpul untuk evaluasi dan briefing penelitian kerjasama antara pihak Fakultas Psikologi UIN SGD BDG dengan BKKBN Jabar. Ponsel saya bergetar berkali-kali. Saat saya tengok ternyata ada beberapa pesan dari anggota tim enumerator yang mengabarkan bahwa perkumpulan sudah dimulai. Saya bergegas undur diri kepada dosen saya itu, lalu pergi ke ruangan sebelah, tempat diadakannya perkumpulan. Ternyata acara memang sudah dimulai dan saya mengikuti dengan sesekali mengangguk sambil mengunyah cemilan keripik dan kacang Bogor. Berbagai evaluasi dan pengaturan teknis lapangan dijabarkan. Acara berlangsung singkat. Tepat jam 11.30 acara selesai. 

Saya bergegas pergi ke kontrakan salah satu teman untuk meminjam peralatan mendaki gunung. Ceritanya saya mendaftar untuk ikut serta tim pendaki ke salah satu gunung di Jawa Barat. Yah, namanya juga pemula, saya pinjam barang-barang dan perlengkapan dari para senior yang sudah menaklukan dirinya sendiri dalam proses pendakian. Mudah-mudahan saya bisa ikut kesana bulan ini! Amin. 

Sambil membawa keresek berlabel supermarket Yogy* yang berisi perlengkapan yang saya pinjam, saya menunggu teman saya untuk di halte kampus. Setelah saya hubungi, ternyata ia masih ada di suatu tempat yang tak perlu saya sebut disini. Baiklah, saya harus menunggu. Daripada kesepian menunggu di halte sendirian, saya putuskan untuk membeli jajanan di pinggir jalan. Bak anak hilang, saya duduk kembali di halte sambil memakan kudapan yang saya beli tadi. 

Kudapan habis. Sayangnya saya masih belum puas katarsis. Saya melihat tempat fotocopy -dimana saya memotokopi buku yang saya pinjam- sudah buka. Saya beranjak dari tempat duduk di halte menuju tempat fotocopy. Ternyata buku yang dijanjikan selesai dijilid jam 1 siang belum rampung dikerjakan. Saya kembali menyeberang jalan. Ingat, saya masih menggendong ransel dan membawa gembolan keresek putih. Persis seperti orang mau mudik di libur lebaran. Hahaha.

Tak lama teman saya datang. Kami menaiki angkot dan sempat berganti angkot dengan trayek berbeda satu kali. Tujuan kami ke IDP di daerah Dago. Apa itu IDP? Agen pendidikan ke luar negeri. Teman saya yang kebetulan lolos beasiswa LPDP baru-baru ini sedang mengurus visa ke negara tujuannya, New Zealand. 

Teman saya itu mendorong saya untuk bertanya ke para agen yang ada disana. Saya kebingungan karena tak punya ide apapun untuk ditanyakan. Setelah menunggu beberapa saat, kami bertemu dengan agen yang membantu teman saya untuk mengajukan visa ke kedutaan besar Selandia Baru. 

Saya suka sekali dengan gaya bicara dan gesture agen tersebut. Santai, terkesan solutif dan profesional. Respon-responnya tidak mengeluarkan ekspresi emosi yang berlebihan dan membuat kami terutama saya nyaman untuk mendengar masukan-masukan yang ia berikan. Pantas saja orang itu menjadi manajer di tempat ini. Keren, Pak!

Awalnya saya hanya berniat menemani teman saya itu karena penasaran dengan proses yang ia lalui untuk berangkat ke negara tempatnya melanjutkan kuliah, nyatanya selama perjalanan hingga sampai di IDP, saya merasa mendapatkan sumbangan semangat yang melimpah ruah. Meskipun saya tidak paham dengan pasti beberapa hal yang teman saya dan agen tersebut obrolkan, tapi semua itu terdengar mengasikkan di telinga saya. Saya baru tahu kalau keinginan untuk melanjutkan sekolah juga semacam candu. Candu yang memabukkan dan terkadang mengubah banyak hal yang tak nyata menjadi nyata di depan mata. Saya ingin merasakan candu itu. Ingin sekali. Siang itu, saya merasa mimpi saya untuk melanjutkan sekolah sedang diberi pupuk oleh Sang Pencipta Semesta.

to be continued...

You Might Also Like

0 komentar: