PASPOR SI KIKI : MENUJU TURKI JILID I

January 23, 2016 Qeeya Aulia 3 Comments


Judulnya sok iyeh banget ya? Hahahaha. Bodo amat ah, biar sensasional~

Acara Water for Life Cocoa Study Tour diselenggarakan pada tanggal 9-16 Januari 2016, tapi saya dan Pak Ari (champion dari Makassar) harus berangkat dari tanggal 7 Januari 2016 karena perjalanan kami menuju Kamerun memakan waktu 2 hari perjalanan. Mengapa begitu lama? Karena waktu transit kami di Turki memakan waktu 13 jam alias seharian! Jadi tanggal 7 Januari 2016 jam 8 malam berangkat dari Cengkareng dan sampai di Turki sekitar jam 5 pagi. Ada perbedaan waktu kurang lebih 4 jam antara Indonesia dan Turki (Indonesia lebih awal 4 jam). Penerbangan Jakarta-Istanbul memakan waktu sekitar 12-13 jam perjalanan. Jadi masuk akal kan 2 hari perjalanan menuju Kamerun?

Dari Indonesia pun perjalanan saya sudah seru. Saya berencana berangkat ke bandara Soekarno Hatta di Tangerang sana sekitar jam 10 pagi. Tapi karena sepertinya terlalu pagi, maka saya mundurkan hingga jam 2 siang. Ibu saya dan Darwin sampai di gang kosan sekitar jam 2 siang dan masih sempat jajan tongseng Pak Kumis yang membutuhkan waktu jajan + makan kurang lebih setengah jam. Saya pribadi was was karena dulu saat berangkat ke Belgia saya hampir terlambat karena macet parah di Tol Cikampek. Ternyata perjalanan kami lancar jaya kecuali di depan gedung MPR. Waktu menunjukkan pukul 17.30 dan saya masih cukup jauh dari bandara. Ketar ketir sudah pasti karena saya tahu harga tiket Jakarta-Istanbul gak bisa saya ganti sekejap mata kalau-kalau tertinggal pesawat.

“Ki, sudah sampai mana? Early boarding loh. Disana mau ada badai katanya,” begitu bunyi pesan singkat yang Pak Ari kirimkan kepada saya.

Saya gelisah dan berulang kali cek peta di Waze. Mulut saya komat kamit berdzikir. Memang setiap kesempitan itu selalu membuat manusia lebih dekat pada Tuhan ya. Ya Allah, tolooooong, jangan lama-lama macetnyaaaa!

Clingg!

Doa saya terkabul. Tak lama kemudian lalu lintas beranjak lancar. Doa anak sholehah emang tok cer! Haha.

Lolos dari kemacetan ternyata membuat kami tidak awas pada plang informasi yang bertebaran sepanjang jalan. Darwin salah belok dan membuat waktu terulur percuma. Untungnya hanya salah belok ke parkiran sebelum belokan ke terminal 2, coba kalau malah masuk ke terminal 1 atau 3, bisa-bisa ngamuk Hayati, Bang!

Singkat cerita, jam 18.10 kami sudah sampai di bandara. Hanya ibu yang mengantar saya ke dalam. Darwin mencari tempat parkir.

“Ki, sudah sampai mana? Minimal 18.30 sudah di bandara ya.” Pesan dari Pak Ari lagi.

Ibu yang melihat saya gelisah langsung menyuruh saya masuk ke dalam untuk cetak boarding pass. Tapi sebelum itu ibu bilang, “teh, kita foto dulu dong. Minta bapak-bapak itu saja fotoin dulu.”

Jiaaaaaahhhh. Mamake sempet aje ngajakin narsis!

Tapi karena memang dasarnya narsis itu ada di dalam darah saya yang notabene berasal dari darah ibu saya juga, akhirnya saya minta teteh-teteh yang nangkring di pinggir saya untuk mengambil gambar sok imut kami. Akhirnya saya berpisah dengan ibu.  Anw, saya sampai kisbay kisbay jijay gitulah pokoknya mah. Geli juga kalau diinget-inget. Hahaha.

Sesampainya di meja check in, saya ditanya-tanya banyak hal. Tapi mata saya tersangkut pada kartu Miles & Smiles Turkish Airlines.

“Ini boleh minta gak?” tanya saya sambil menunjuk kartu itu.

“Oh, mbak mau? Boleh kok. Sini daftar sekalian.”

Saya diberikan formulir dan mengisi form tersebut.

“Ini bisa digunakan untuk maskapai Turkish, Singapore Airlines, dll yang satu grup. Nanti mbak bisa dapat banyak keuntungannya.”

Saya manggut-manggut sok ngerti. Di otak saya ini mungkin seperti BIG di Air Asia. Tapi tiba-tiba saya teralihkan pada gantungan tas Turkish Airlines dan bertanya, “ini boleh diminta juga?”

“Boleh mbak. Ambil lebih dari satu juga boleh.”

Cihuy!

Selesai mendapatkan boarding pass, saya langsung menghubungi Pak Ari yang ternyata masih ada di musholla. Saya menuju musholla dan ternyata Pak Ari sudah di pintu imigrasi. Bak setrika saya kembali lagi ke pintu imigrasi dan bertemu Pak Ari.

“Ki!” panggil Pak Ari.

Saya menengok dan menyapa balik. Saya cukup terheran-heran mengapa beliau bisa kenal saya. Tapi setelah bertanya ternyata beliau hanya mengira-ngira saja dari tingkah riweuhnya saya. Aduh mak, pantes gue single lama. Riweuh teuing sih ya~

Tempat duduk kami di pesawat sejajar. Saya duduk di depan Pak Ari dan disebelah saya teteh bule cantik yang gak tahu darimana. Teteh itu terlihat tidak mau diganggu dan diajak ngobrol, jadi saya gak berani ngajak ngobrol juga. Selain itu, bahasa Inggris saya kan belepotan, nanti dia semakin ngantuk kan saya jadi gak enak #ngeles

Sekitar 2 jam setelah take off, pramugari dan pramugara sudah berkeliling dengan gerobak dorong yang isinya makanan dan minuman. Sebelumnya, mereka membawakan handuk panas untuk lap muka. Saya paling suka fasilitas ini di pesawat. Handuk panasnya itu benar-benar panas dan membuat segar muka. Mungkin karena saking numpuknya minyak di muka, saya merasa segaaaaarrr setelah lap muka. Tapi sayang, di Turkish penumpang harus mengembalikan handuk itu ke atas nampan. Bayangkan saja, saya numpuk handuk diatas tumpukan handuk lainnya. Tumpukan handuknya sempat jatuh dan jatuh ke pangkuan sayaaaaa. Gimana kalau di handuk itu ada iler oraaaang? Hikshiks. Kalau di Emirate, handuk bekas diambil oleh flying attendant (FA) dan dimasukkan ke dalam plastik besar, jadi tidak jatuh-jatuh.

Oh ya, pesawat saya type Airbus A330. Untuk saya, pesawat ini oke punya. Ruang kakinya juga cukup lebar dan FAnya cukup ramah. Ada salah satu penumpang yang menurut saya sih rese banget. Pertama, setelah FA mengambil handuk, si mbak yang duduk di seberang saya tiba-tiba manggil pramugari minta ngecharge powerbank. Pesawat kami tidak dilengkapi dengan fasilitas tersebut, jadi si pramugari harus bawa powerbank mbak itu untuk di charge di ruangan mereka. Setelah itu dia tiba-tiba minta minuman hangat. Lalu minta ini minta itu dan lain-lain. Mbak itu juga bolak-balik ke kamar mandi. Intinya rusuh banget. Mas-mas disampingnya sampai terheran-heran. Saya? Ngelirik bentar dan tidur lagi~

Dari segi makanan juga Turkish cukup enak. Walaupun rasanya mirip dengan maskapai lainnya: gak berasa. Tapi makanannya cukup hangat. Saya punya pengalaman buruk minum jus di pesawat. Di Emirate saat perjalanan ke Belgia, saya minta jus jeruk. Dampaknya, tenggorokan saya gatal dan saya gak tenang sepanjang perjalanan. Oleh karena itu saya selalu minta air saat ditanya mau minum apa. Sampai-sampai mbak pramugarinya penasaran, “do you want another beverage or drink?” karena saya selalu minta “water” dan “water”.

Sampai di Turki, kami bolak balik mencari tempat sholat tapi tidak ketemu, ternyata kami harus keluar menuju Passport Control atau menuju ke tempat transfer flight untuk menemukan Mescit atau mushola. Semua tulisan berbahasa Turki yang menurut saya lucu-lucu karena tidak tahu cara baca dan artinya. Dengan mudah kami menemukan Mescit. Di Attaruk Havalimani alias Attaruk airport, toilet wanita dan pria berbeda begitupun tempat wudhunya. Kalau melihat tempat wudhu di Turki saya jadi ingat teman saya Hopsah Ali yang selalu saya ejek karena berwudhu sambil duduk seperti nenek-nenek pada umumnya, tapi disini, seluruh tempat wudhu bentuknya begitu. Jadilah saya menjilat ludah saya sendiri, wudhu seperti nenek-nenek.

Selesai sholat kami menuju Danisma alias pusat informasi dan bertanya lokasi hotel desk dari Turkish Airlines tempat kami mendaftarkan diri untuk ikut Tour Istanbul (tur gratis dari Turkish Airlines yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya). Kami menyerahkan boarding pass kepada petugas yang ganteng dan diminta menunggu hingga jam 9 pagi lalu berkumpul di Starbuck yang tepat berada disamping desk tersebut.  

Disini kami bertemu Pak Zul, champion dari Malaysia. Kami menjaring wifi dan menguasai colokan listrik bersama-sama lalu Pak Ari dan Pak Zul pergi untuk sarapan sedangkan saya menemui Nabillah, host saya di Turki untuk perjalanan selanjutnya. Tepat jam 9 pagi kami berkumpul di meeting point yang sudah disetujui dan langsung berangkat menuju bis yang ada di luar bandara. Kau tahu, saat itu suhu di Istanbul adalah 5 derajat celcius. Keluar bandara hawa dingin-dingin empuk langsung menyapa. Ya, kami siap menjejakkan kaki di Istanbul!


Bandung, 23 Januari 2016




You Might Also Like

3 komentar: