Posts

MY FAMILY ^^

Image
ini dia AULIA VERY BIG FAMILY . ini ayah sama ibu nah, ini 6 orang anaknya....

LAGI, PERJALANAN YANG MENYENANGKAN

Image
Hari itu, hari Rabu tanggal 20 Juli 2011. Hari yang paling aku nantikan sepanjang aku sadar bahwa ada harapan untuk bisa masuk dan melihat langsung proses syuting kick andy, inspiring talkshow. Kebetulan (sebenarnya aku tak suka kata kebetulan, kawan ^^), tema kali itu benar-benar membuatku merinding sesaat. Special Olympics World Summer Games (SOWSG) ke XIII di Athena, Yunani. Ya, mereka narasumber hari itu adalah para atlet Indonesia di kancah dunia dengan kekurangan yang mereka bawa sejak lahir. Tuna grahita. Kau tahu, tuna grahita itu adalah istilah untuk mereka yang memiliki IQ di bawah rata-rata. Sering juga disebut dengan retardasi mental. Bahkan, ada yang komorbid (multigangguan) dengan tuna rungu. Mereka penuh kekurangan, namun mereka pula penuh semangat untuk maju dan tak pernah kalah dalam pertandingan. Semangat yang membara, bak mata rock lee dalam serial naruto jika ia benar-benar tertaarik pada satu hal dan be...

SIMFONI HITAM

Image
Kau tahu kawan, itu salah satu lagu yang aku sukai sejak dulu hingga kini. Lagu yang memang ditujukan untuk mereka yang merasakan Cinta bertepuk sebelah tangan . Amboi, kejam sekali bukan istilah yang kutulis dengan huruf miring itu? Membayangkannya saja sudah perih, apalagi merasakannya. Kau mau coba, kawan? Apa sudah merasakannya? Pengalaman itu sangat pahit, kawan. Jangan pernah kau mau merasakannya *jeritan korban :D Lagu ini benar-benar dramatis. Aku tak tahu apapun tentang music. Aku hanya pendengar amatir. Tapi aku benar-benar suka lagu ini. Liriknya, musiknya, penyanyinya, judulnya, semuanya. Jadi, ayo kita bahas lirik lagu itu sejenak. Malam sunyi ku impikanmu Ku lukiskan kita bersama Namun slalu aku bertanya Adakah aku di mimpimu? Dihatiku terukir namamu Cinta rindu beradu satu Namun slalu aku bertanya Adalah aku di hatimu? Telah kunyanyikan alunan-alunan senduku Telah kubisikkan cerita-cerita gelapku Telah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku Tapi mengapa ku...

BALASAN CINTA-NYA

Jika aku tanya padamu secara personal, apa yang kau ingat dari arti kata cinta? Jujurlah kawan, apa yang terbesit di pikiranmu saat kau teringat pada cinta? Kisah muda mudi yang penuh dengan bunga-bunga berwarna pink? Kisah erotis dewasa yang kadang membuat merinding bahkan muntah? Atau kisah sepasang orang tua dengan anaknya seperti penegasan peribahasa “Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan”? Terserah padamu kawan, jawabannya tak lebih dari hasil tes psikologi yang tidak ada jawaban salah dan benar di dalamnya. Dalam tulisan ini aku ingin membahas sedikit tentang cinta. Cinta yang baru aku reka-reka definisinya. Cinta yang menurutku, muncul dari sudut pandang yang berbeda. Cinta yang mungkin tak bisa dirasa jika hanya melihat awal atau akhirnya saja. Cinta hamba pada Tuhannya. Cinta yang dibalas cinta. Hari ini, hari selasa tanggal 07 Juni 2011 sehari setelah ulang tahun ibuku yang ke-45 tahun, sekitar jam 11.15 WIB, aku kembali tertegun melihat sebuah fenomen...

JALANAN ITU PUN KINI SEMPAT BERUBAH

Sore kemarin adalah salah satu masa terpanjang yang ku rasakan selama beberapa pekan ini. Pasalnya perjalanan kampus-kosan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 30 menit berkembang biak menjadi +2-3 jam. Kau tahu kenapa kawan? Semua itu terjadi karena satu hal. Fenomena alam yang sangat biasa terjadi di Negara ini. BANJIR. Ya, Banjir. Semua itu berawal dari hujan deras yang mengguyur kotaku tercinta, Bandung, selama beberapa jam. Aku dan rekan lainnya tak pernah menyadari apa sebenarnya yang terjadi di jalanan sana karena masih berkutat dengan ceramah panjang lebar dari beberapa rekan dan dosen pada saat itu. Jam 16.30 WIB, aktivitas kuliah sore itu selesai sudah. Sepertinya langit tahu apa yang kami idamkan, hujan deras itu pun reda perlahan. Setelah sholat Ashar kami bersiap untuk pulang, namun sayangnya langit kembali menangis. Tapi itu semua tak jadi masalah, karena kebanyakan dari kami membawa payung. Memutuskan naik TMB, Damri ataupun Angkot itu tidak mudah bagiku dan ...

Kamar hijauku

Hari ini, entah hari keberapa saya berkemah di luar rumah sebagai anak kos. Kenapa saya katakan berkemah? Karena kamar ini rasanya sudah seperti tenda di perkemahan yang hanya dihuni oleh empunya di pagi dan malam hari saja. Sebenarnya memang terlalu jauh jika dibandingkan dengan perkemahan, tapi saya teringat sejenak pada salah satu guru super hebat saya, KH. Dr. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, M.A. kata beliau (kurang lebih) seperti ini, “Kita ini hidup di dunia hanya berkemah saja. Sejenak menetap disini, sejenak berada disana, dan dimana-mana. Bahkan ada yang jam 8 pagi ada di Sumatra, jam 11 pagi sudah ada di Surabaya bahkan esoknya sudah ada di Dubai sana.” Ya, hidup itu hanya berkisar masalah “menginap” saja. Toh, sudah bukan rahasia lagi jika lebih banyak orang yang “hidup” di luar rumahnya. Kembali ke cerita saya tentang kamar kos bercat hijau ini. Tempat ini hanya berpenghuni dari sekitar jam 18.00 – 09.00 WIB, sisa waktunya ia bertemankan lampu yang padam dan pintu yang terk...

“RIN, KAU BAIK-BAIK SAJA?”

Aku benci tatapan itu. Sunggguh. Benci karena aku tak bisa bersikap seperti yang aku inginkan. Bersikap kasar padamu dan berkata “Aku benar-benar muak!”. Tapi, aku tak bisa. Entah karena apa. Karena kau kini ada di dekatku, kah? Atau karena memang aku tak pernah membuka topeng manisku di hadapanmu? Argh, kau terlalu membuatku merasa bodoh, merasa lemah dan merasa tak berdaya. “Rin, kau baik-baik saja?” Suara itu menghancurkan kembali kata-kata jahat yang sudah ku susun. “Hem..”, aku mengangguk lemah. “Baik kalau begitu, aku pergi dulu”, pamitnya. Aku menatapnya tak percaya, bahkan kami tak menghabiskan waktu lima menit untuk bertemu dan ia hanya berkata “Rin, kau baik-baik saja?” lalu dengan mudahnya meninggalkanku begitu saja?! Cih, menjijikan! Selalu seperti itu. Ia tersenyum membalas tatapan tak lazim dariku seraya berkata, “Nanti ku usahakan untuk menghubungimu lagi.” Dan sosoknya pun hilang di tengah keramaian di luar café tempat kami bertemu tadi. Sungguh, aku tak tah...