Posts

Sepotong Kue

Aku punya sepotong kue. Rasanya tidak terlalu enak, bahkan sebagian dari kue itu rasanya tak karuan. Tapi itu milikku. Banyak orang yang pernah aku ajak untuk mencicipi kue, tapi tak semuanya bertahan untuk makan kue itu. Alasannya karena seringnya ada kue lain atau kue mereka sendiri terlalu enak. Ada pula yang beralasan mereka lebih senang menyibukkan diri dengan memakan kue milik mereka sendiri. Ada yang tak pernah kuundang makan kueku, tapi mereka memaksa dan merongorongku. Seakan kue yang kumiliki ini sangat lezat dan pantas untuk mereka gandrungi. Mereka mencoba untuk mencari celah untuk memakan kue atau hanya melihat kueku lebih dekat. Jika usaha mereka tak berhasil, mereka dengan senang hati mengorek kejelekan dan beragam kekurangan dariku atau kueku. Mulai dari kue yang terlihat mempunyai rasa tak enak hingga aku yang katanya tak bisa memilih kue dengan baik. Semua mereka komentari. Semua mereka korek. Padahal aku yakin, mereka pasti sempat berpikir mengapa diri mereka begitu ...

Magicom

Magicom. Sebutan yang kusematkan untuk rice cooker putih yang teronggok indah di kamar kosku. Malam ini saya belajar satu hal dari benda mati yang baru saya miliki sekitar 16 hari ini, sejak saya ‘berkemah’ di salah satu kamar kecil khusus wanita beberapa ratus meter dari tempat saya bekerja. Selama 15 hari ini saya sering kesal karena banyak nasi yang menempel di permukaan magicom. Kesal karena fungsi ‘anti lengket’ yang ada di dalamnya seakan tak berguna. Kesal karena kupikir aku sudah membeli barang yang tak berfungsi ‘fitur’ tambahannya. Kesal karena nasi matang selalu menempel disana. Karena itulah saya harus merendam wadah dengan nasi yang menempel agar tak merusak permukaan anti lengketnya. Tapi malam ini berbeda *ceileh. Entah pasal apa perut saya tidak terlalu lapar. Tak ada demonstrasi yang dilakukan cacing-cacing di perut dan suara kurubuk-kurubuk. Tak lapar, pun tak kenyang. Saya memutuskan menanak nasi dan melakukan aktivitas lain sampai merasa lapar. Aktivitas apa? ...

14 September ke-25

Wuih..ngerasain juga punya umur sampai 25 tahun. Alhamdulillah. Entah ini anugerah atau musibah. Entah keberuntungan atau malah petaka. Tapi lagi-lagi saya bersyukur kepada Allah atas izin-Nya masih bisa curcol di blog ini sampe usia ke-25.  Jujur, saya tidak pernah terpikir bagaimana diri ini di usia seperempat abad. Lebih baikkah? Lebih ini lebih itu kah? Sudah ini sudah itu kah? Tak terpikirkan. Saya akui perencanaan kehidupan saya rada kacrut dan gak baik. Hidup saya mengalir seperti air, padahal katanya hidup itu harus seperti ikan salmon yang kuat melawan arus demi tetap hidup dan juga dapat berkembang biak. Tapi saya kok yakin hidup saya bukan hanya untuk berkembang biak ya? Jadi ya santai aja kayak di pantai, selow kayak di pulau #PLAK! Meskipun hidup saya juga tak jauh dari kemampuan perencanaan hidup saya yang notabene sama-sama kacrut, saya bersyukur dapat mengalami banyak hal yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Pernah menjejak ke beragam tempat yang saya ...

Rindu

Sungguh kurang ajar rindu itu. Datang tiba-tiba lalu mengakar dengan mudahnya. Padahal, apa balasan dari rindu? Tak ada. Bahkan kadang rindu merusak segalanya. Meredam rindu adalah respon wajib para perindu bila yang dirindukan tak pernah diamini oleh norma dan agama. Menyimpan kerinduan adalah alternatif yang paling aman dilakukan oleh mereka yang meredam perasaan. Mengenyahkan rasa rindu adalah jawaban yang selalu dilakukan. Karena apa baiknya mengubar rindu? Apa dampaknya menyampaikan kerinduan? Apa untungnya memelihara hal yang bisa membuat kita silap hati dan rasa? Biarkan rindu ikut menyelinap diantara hembusan angin. Biarkan rindu ikut berpencar diantar percikan hujan. Biarkan rindu ikut membahana diantara tawa manusia. Karena dasarnya, kita benar-benar tak tahu apa rasa ini sesungguhnya. Benarkah itu rindu atau sekedar hawa nafsu? Ciparay, 23 Agustus 2015 Iya. Saya sedang rindu.

Masih tentang penghargaan

Masih tentang penghargaan. Saya tiba-tiba berangan-angan bagaimana jika saya mendapatkan penghargaan, walaupun ini cenderung mustahil untuk didapatkan. Hahaha. Tapi anggaplah khayalan ini nyata. Jika saya mendapatkan penghargaan, saya akan mengatakan ini: Assalamu'alaikum wr wb. Alhamdulillah, hingga detik ini Allah masih sayang kepada saya dan kita semua sehingga kita masih bisa bernafas. Terimakasih juga kepada Allah atas kejutan-kejutan yang bertubi-tubi datang di tahun ini. Ada yang menyenangkan dan ada yang tidak. Dan hari ini saya mendapat kejutan yang menyenangkan. Terimakasih kepada seluruh voter yang memilih saya. Semoga anda semua selalu disayang Tuhan dan tidak menyesal telah menetapkan pilihan ini kepada saya. Terimakasih juga kepada kalian, barisan para mantan dan semua yang pergi tanpa pernah aku miliki *malahnyanyi*. Semoga hati ini tetap membumi dan menyadari bahwa diri ini terbuat dari saripati tanah dan akan berakhir di sebuah lubang di tanah. Sekian. Fenomen...

Penghargaan

Kemarin, tanggal 17 Agustus 2015 adalah hari yang melelahkan bagi saya. Saya menjadi salah satu panitia acara 17 Agustus di kantor. Saat pertama kali diajak (tepatnya ditunjuk) menjadi panitia, saya cukup enggan. Cukuplah di kampus saja sibuk-sibuk gak jelas dalam beragam kegiatan mahasiswa, di tempat kerja mah udah bukan waktunya lagi, pikir saya. Namun di sisi lain, saya juga suka sibuk-sibuk gak jelas dan sok sibuk. Jadi saya terima lamaran si anu. Heeeh, apa sih. Hahaha. Singkat cerita jadilah saya panitia dan diberi amanah sebagai divisi acara. Agak canggung jadi panitia event di pabrik mah. Serasa beda drastis dengan di kampus.  Peringatan detik-detik proklamasi Indonesia ini dijadikan satu dengan acara penghargaan Culture of Excellence di Barry Callebaut Asia Pasific. Jadi, acara kemarin itu adalah acara launching CoE se-Asia Pasific. Satu sisi merasa keren dan terhormat, namun sisi lain pasti capek dan merasa 'terbebani'. Pasca acara saya sukses tidur dari jam 4 s...

Hari Merdeka

Umbul-umbul bertebaran dimana-mana. Penjual bendera hadir dan dapat ditemukan dengan mudahnya. Bahkan, gapura berdiri di jalan kampungku yang tak pernah kulihat sebelumnya. Kata adikku, dulu saat Peringatan Hari Kemerdekaan ke-60 diselenggarakan, gapura itu juga berdiri megah disana. Ah ya, kami larut dalam suka cita hari ulang tahun lahirnya negara Indonesia tercinta. Sore ini Bandung diguyur hujan deras. Saya masih bekerja saat itu. Hujan membuat saya waswas. Karena daerah kantor saya adalah daerah banjir di Bandung yang terkenal dimana-mana: Dayeuhkolot. Hujan deras itu sempat membuat jalan raya di depan kantor terendam genangan air. Tentu saja warnanya hitam pekat, bercampur dengan limbah pabrik tekstil yang ada diberbagai penjuru Dayeuhkolot, Palasari, Cisirung dan sebagainya. Tapi bukan tentang banjir yang akan saya ceritakan disini. Saat pulang, saya melewati kawasan Ciodeng, Bojongmalaka dan Andir. Semua daerah itu adalah daerah banjir parah. Kedalaman air bisa mencapai 1-2...