Posts

Morning Briefing

Image
Tadi sore saya mengikuti webinar dengan pembahasan 'Morning Briefing'. Isinya kurang lebih tentang rapat singkat di pagi hari untuk anggota tim di dalam departemen. Pak Freddy, sang pemateri, juga menjelaskan do(s) dan don't(s) saat melakukan morning briefing. Briefing hanya dilakukan selama 10-15 dan membahas tentang prioritas apa yang akan dikerjakan di hari itu. Bukan tentang apa masalahmu dan bagaimana kita menyelesaikannya. Jika tidak ada pekerjaan yang bersifat urgent di hari itu, morning briefing juga bisa dijadikan sebagai wadah untuk para atasan memotivasi bawahan dan dirinya sendiri.  Morning briefing sebenarnya bukan hal yang asing bagi karyawan di perusahaan kami. Hanya beda nama namun bertujuan sama. Hasilnya cukup menyenangkan, semua orang tahu dan saling membantu untuk mencapai KPI harian yang telah ditentukan. Sasaran menjadi lebih jelas, terukur dan terekam progresnya.  Tiba-tiba saya mengkhayal tentang kehidupan saya di masa yang akan datang. Jika...

Dari Manusia

Kau tahu apa yang paling mengesalkan dari manusia? Pikirannya sendiri. Ia sibuk menduga-duga padahal seringkali kejadian nyata jauh dari dugaannya sebelumnya. Seringkali ia alpa bahwa dugaannya hanya membuat hatinya gundah gulana. Membuatnya hidupnya tak lebih baik dari sebelumnya.  Kau tahu apa yang paling membingungkan dari manusia? Perasaannya sendiri. Ia sibuk berkutat dengan perasaannya. Padahal ia sadar perasaan seperti gradasi warna yang bergerak dari warna terpekat menuju warna termuda. Bergerak dari sangat terasa hingga tak terasa sama sekali. Sibuk berjibaku meyakinkan dirinya sendiri dengan perasaan yang sebenarnya ia sudah tentukan diawal, dan mungkin bisa berubah hanya karena satu dua kejadian. Kau tahu apa yang paling menyedihkan dari manusia? Keraguannya pada diri sendiri. Membuat manusia hidup segan mati tak mau. Membuat manusia mundur selangkah dibandingkan macan tutul pincang yang berani menerkam cheetah di daratan Afrika sana. Membuat kemampuannya terkiki...

Over-qualified

Saya pernah ditanya seorang kandidat saat wawancara.  "Mbak, saya mau tanya alasan kenapa pelamar kerja ditolak oleh perusahaan." Saya diam sejenak. Mengambil nafas panjang. Menjawab pertanyaan ini saya harus yakin 100% dengan apa yang saya ucapkan. Bagi saya, itu tidak mudah.  "Banyak alasannya. Intinya karena tidak sesuai dengan kriteria untuk posisi kosong ataupun dengan perusahaannya. Bisa karena less-qualified atau over-qualified." "Over-qualified? Bukannya perusahaan senang ya kalau calon pekerjanya melebihi kualifikasi yang dibutuhkan?" tanyanya lagi.  Saya menarik nafas panjang. Mencoba mengingat apa yang atasan saya pernah ceritakan kepada saya saat posisi kosong tak kunjung terisi.  "Gini, mbak. Posisi kosong di perusahaan itu seperti botol yang tidak ada tutupnya. Kita hanya perlu tutup botol yang pas dengan botol yang terbuka. Tidak lebih kecil, tidak lebih besar. Harus pas. Walaupun sulit dan tak mudah menemukan ...

Tambahan

Image
Ingin nambah, artinya yang sudah didapat belum cukup. Entah memang tidak cukup atau tidak merasa cukup. Yang jelas butuh tambahan. Titik.  Banyaknya keinginan, membuat saya ingin menambah penghasilan. Saya masih bekerja dari jam 8-5 (bahkan beberapa kali melebihi jam kerja), tapi ternyata saya masih bisa sibuk chatting, main media sosial mulai dari FB, IG, Path, dll. Karena satu dan lain hal, rasanya saya perlu menyibukkan diri. Terutama dengan hal-hal yang bisa memberikan income tambahan untuk saya. Menjadi pekerja lepas bukan sesuatu yang baru bagi saya. "Ngamen" psikotes di beberapa sekolah atau instansi pemerintah membuat saya terbiasa bekerja sampai pantat pegal atau mata jereng karena jejeran angka alat tes Pauli. Haha. Selain ngamen psikotes, saya juga ikut-ikutan proyek menulis dari rekan seperjuangan nyari duit saya, Pradita, atau lebih sering disebut Mawar eh Belalang maksudnya. Kenapa Belalang? Karena kacamatanya mirip belalang. Besar. Hahaha. Tenang, saya ti...

O Captain, My Captain

Image
O captain, my captain. Panggilan unik guru Bahasa Inggris bernama John Keating di Welton Academy dalam film Dead Poets Society. Panggilan yang tentunya tidak lazim di negara manapun untuk seorang guru. Saya suka caranya menerima semua jawaban dari para muridnya. Tidak merendahkan walaupun mungkin ia tahu murid tersebut tidak menyukai pelajarannya. Ia mengajak para murid berdiri di atas meja untuk melihat perspektif lain walaupun saat mereka merasa pendapat atau jalan yang mereka ambil itu benar. Hal ini mengingatkan saya pada dosen saya yang luar biasa. Beliau memang terkenal killer karena standarnya yang tinggi dan caranya mengomentari tugas mahasiswa 'malas baca' di kelas yang agak bikin tegang. Suatu hari beliau duduk diatas meja. Sore hari di pelajaran Psikodiagnostika. Seingat saya beliau menyebutkan alasan yang sama dengan John Keating.  sumber Kembali ke cerita tentang film Dead Poets Society.  Karena uniknya cara mengajar Keating, sekelompok murid 'g...

Bunga

Image
Pagi ini salah satu rekan kantor mengingatkan saya kalau rekan kami berulang tahun di tanggal 27 di bulan ini. Ia menyiapkan diri untuk memberi buket mawar pink imitasi. Tapi saya mengusulkan untuk membeli buket bunga asli. Saya sedikit terheran-heran saat bertanya alasan mengapa ia menghadiahi rekan kami itu buket bunga. "Saya mau ngehadiahin bunga aja deh, soalnya dia pernah bilang gak pernah dapat bunga," kata temanku ini.  Menarik. Bunga ya? Terakhir saya dapat bunga itu saat wisuda. Saat-saat yang harusnya menggembirakan, namun jadi momen yang biasa saja. Saat itu, mendapat banyak bunga tidak membuat saya senang. Tapi seharusnya saya mampu mengendalikan diri. Saya berandai-andai bagaimana jika saat itu saya bisa mengontrol diri saya sendiri. Mengontrol emosi. Mengontrol amarah. Mengontrol kecewa. Ah, pasti hari itu menjadi hari bahagia. Dimana semua orang tersenyum mengucapkan selamat. Dimana banyak bunga di tangan saya. Barang yang menurut saya istimewa. Tapi ...

Apa Bosan?

Beberapa minggu ini cukup menarik bagi saya. Banyak hal yang tak pernah terpikir ada terjadi dalam hidup saya. Mulai dari dipindahkan kembali ke gedung awal tempat saya bekerja, sampai harus interview kandidat program percepatan karir di Jerman sana. Kaget? Jelas. Baru? Tentu. Semangat? Sayangnya tidak.  Enaknya jadi orang ekspresif itu, tetap bisa menutupi kegundahan hati (ceileh) dengan ketawa ketiwi. Mungkin tak ada orang kantor yang sadar. Orang terdekat saya juga mungkin tak sadar. Tapi tak apa. Memang itu urusan saya dan mereka tak perlu harus tahu, tapi kalau tahu sih seneng juga #deuuuuuuu. Pekerjaan banyak terlantar. Malas selalu melambai-lambai. Mengantuk jangan ditanya. Apakah ini namanya putus cinta? eh maksudnya apakah ini namanya burnout? Rasanya tidak juga. Saya masih senang pekerjaan saya, walaupun sedikit kesal karena satu dan lain hal. Tapi sejauh ini, pekerjaan saya cenderung mudah dan mendapatkan banyak bantuan dari atasan saya. Entah saya yang memang ...