Posts

Langkah yang Sejajar

Dulu, saya sering kali merasa putus asa dalam berorganisasi. Saya rasa langkah saya sudah jelas dan semua orang bisa mengikutinya. Saya pikir semua tahapan rencana saya sudah dapat dimengerti sehingga tidak ada konflik tak penting yang mungkin terjadi. Saya kira semua orang disana punya tujuan dan pemikiran yang sama dengan saya. Namun hasilnya selalu sama. Saya kecewa. Lebih dari 12 bulan merasakan tekanan (bagi saya itu tekanan) seperti itu di beberapa organisasi dalam kurun waktu yang bersamaan membuat prinsip dan targetan saya yang kaku berubah. Saya baru sadar bahwa tidak semua yang saya percaya bisa dengan mudah percaya pada saya. Saya baru tahu beberapa tindakan saya seringnya membuat mereka tak nyaman dan cenderung ogah-ogahan. Saya baru merasa bahwa saya terlalu banyak menuntut. Lalu singkat cerita sejak itu saya berusaha tak menuntut atau terkesan tidak menuntut kepada orang lain. Ini membuat kemampuan mendelegasikan tugas saya kacau. Emosi saya lebih banyak ikut campur d...

Berakhir

Image
Sedih. Iya, saya sedih karena berakhirnya sesuati di bulan pertama 2017 ini. Berakhirnya mata saya menatap ungkapan-ungkapan sarkasme yang lucu dari Eric Weiner di bukunya The Geography of Bliss. Weiner adalah bapak-bapak yang tidak bahagia dan mencari kebahagiaan. Kebahagiaan kok dicari? Iya, saya juga heran dengan konsepnya. Buku tahun 2012 ini cukup pas dengan selera saya yang aneh. Isinya tidak sepenuhnya pernyataan sikap setuju tentang hal-hal yang berkaitan dengan kebahagiaan yang Weiner temui. Perjalanannya dari Belanda hingga Miami memberikan beberapa insight yang tidak biasa.  Dulu saat video tentang betapa kecilnya manusia dibandingkan alam kosmik beredar di Facebook, saya merasa sangat kecil dan sadar (secara teknis) mengapa manusia memang tidak sepatutnya sombong. Lalu di buku ini, Weiner menuliskan bahwa manusia akan merasa lebih merasa berharga bila merasa menjadi bagian kelompok di alam kosmik, bukan hanya sebagai individu. Menurut saya ini menarik dan saya setu...

Diingat Orang

Image
Hari ini ceritanya saya datang ke undangan pernikahan lagi. Lagi. Iya. Jangan tanya kapan ngundang #ambekanmodeon Haha. Teman yang satu ini agak unik. Dia seringkali di-bully karena fisiknya yang terlalu kurus tapi lebih tepat dikatakan kerempeng. Hahaha. Maaf, Din. Serta karena banyak alasan lainnya. Tapi hari ini, di hari bahagianya, jumlah orang yang datang ke pernikahannya cukup banyak. Ia tidak berhenti menyalami tamu dari keedatangan saya hingga kepulangan saya dari acara tersebut. "Banyak banget yang datang ya, teh." "Iya, Ki. Gimana weh Dindinnya. Dia kan baik ke semua orang." Percakapan yang menarik. source: link Sepulang dari acara tersebut, saya seperti biasa kelayapan di dunia maya. Semua sosmed saya buka karena masih enggak membuka laptop untuk urusan lain yang sebenarnya lebih penting. Tiba-tiba saya temukan salah satu postingan teman yang bercerita tentang temannya yang lain. Seseorang yang ia ingat dan ia kenang. Orang tersebut diseb...

Things That Will Make Me Happy

Image
Suatu hari ada yang meminta untuk menuliskan hal-hal yang bisa membuat saya senang. Saya rada bingung sih dengan permintaan itu karena saya gampang senang. Senang saat  dapat diskon, senang saat dapat gratisan dan senang saat diberitahu gaji naik. Hahaha. Sebenarnya enggak juga sih. Jadi ceritanya dulu saya sering terlalu mudah senang lalu terlalu sedih setelahnya. Hal-hal itu membuat saya tidak mudah memberi label apa saja yang membuat saya senang. Kalau perasaan yang sebaliknya (sedih) itu saya dapat dengan mudah menulisnya. Melankolis banget kan gue. Mungkin kalau dimirip-miripin dengan karakter di kartun Winnie The Pooh, saya adalah si Eeyore. Googling aja lah kalau mau lebih tahu  seperti apa sih si Eeyore ini. Tapi cassingnya saya rada beda sama si Eeyore karena memang sudah dilahirkan rempong seperti ini.  Kembali kepada hal yang membuat saya senang. Setelah dipikir-pikir, berikut 5 hal yang membuat saya senang:  Liburan Muka saya terdeteksi...

2017!

Image
Tahun 2016 berlalu tanpa menoleh lagi padaku yang masih termanggu dan tak berbuat apapun yang signifikan demi bangsa, tanah air, agama bahkan keluarga. Berhubung resolusi saya gak pernah jauh dari beli payung, untuk tahun ini rasanya akan agak serius dari tahun sebelumnya karena payung saya belum rusak-rusak juga walaupun sering ketinggalan dimana-mana. Hahaha. Jadi begini.. Semoga di tahun 2017 ini saya bisa menikah. Iya, menikah. Lucu ya, di blog ini sibuk memaki perasaan, ternyata saya juga masih punya perasaan. Di blog ini berkata sulit menjalin hubungan jangka panjang, tapi saat orangnya datang ternyata cukup mudah juga dijalani. Sudahlah. Intinya semoga saya bisa menikah tahun ini. Dengan siapa? Afgan? Bukan lah. Mana mau dia sama saya. Vino Bastian aja ogah. #naonsih Saya ingin menikah dengan orang yang mau memilih saya sebagai teman hidupnya. Seseorang yang dengan baik hatinya rela mengesampingkan deadline dan setumpuk kerjaan karena saya terisak menangis, mengeluh bahka...

Menamai Perasaan

Image
Beberapa minggu lalu saya melihat video ibuknya Kirana yang memperlihatkan Kirana sedang diajari apa itu sedih, marah, senang dan bagaimana ekspresi dari emosi-emosi tersebut, kapan dilakukan dan kapan tidak boleh dilakukan. Saya tertegun sejenak. Ah ya, menamai perasaan itu penting. Padahal caranya mudah sekali, tapi sering alpha dilakukan. Enggan dibiasakan. Kesal, kecewa, marah itu berbeda warna dan tempat dalam spektrum emosi Plutchik. Berbeda emosi, berbeda cara berekspresinya. Katanya, (ini judgmental) orang-orang yang terbiasa mudah dimarahi oleh orang tuanya, mereka akan dengan mudah mengekspresikan emosi marah dan kesulitan mendeteksi emosi lain yang ada di belakang kemarahan mereka. Marah bisa karena kecewa, marah bisa karena sedih, marah bisa karena enggan, marah bisa karena tak pernah melewati kondisi tertentu sebelumnya.  Saya pernah melihat seorang pengguna jalan yang marah-marah saat motornya mogok. Bapak itu membonceng seorang anak perempuan. Bapak ...

Skandal

Image
Di otakku hingga hari ini, ikatan pernikahan itu adalah ikatan yang sakral, kalau bisa hanya 1 kali seumur hidup. Menikah artinya siap mencintai, siap mencintai kelebihan dan kekurangan pasangan. Kalau kata seseorang, "pada akhirnya pasangan kita itu selalu menyebalkan, jadi baiknya kita cari calon pasangan yang kita benar-benar rela dibuat sebal olehnya." Saya masih yakin, setidaknya hingga hari ini, pasangan (suami/istri) yang kita pilih itu sudah benar-benar dipikirkan matang-matang. Maka, jika ada kesalahan yang dilakukan, saya mengkhayalkan bahwa menegur, menasehati dan menjaga adalah hal yang wajar dan HARUSNYA dilakukan. Tapi seringnya keyakinan ini tidak sesuai dengan banyak kejadian dimana saya menjadi saksinya.  Skandal terjadi dimana-mana. Pada teman dekat maupun teman yang sekedar lewat. Dari dianggap sebagai hal yang memalukan hingga dianggap wajar karena salah satu cara pelarian. Skandal, seperti warung makan di bulan Ramadhan, ada yang buka-bukaan, ad...