SAMA-SAMA SIBUK

July 21, 2012 Qeeya Aulia 0 Comments

"Dia gak pernah ngerti apa yang aku rasakan, karena dia tak pernah ikut andil dalam organisasi dalam dan luar kampus!" keluh seorang teman padaku.

Saat itu ia sempat dihadapkan pada masalah yang menurutnya tak pernah berakhir. Dihadapkan pada pilihan lebih baik meninggalkan berbagai aktivitasnya di organisasi atau meninggalkan kekasihnya. Ah, ini masalah yang sangat kapiran. Kau pilih aku atau bola. Kau pilih aku atau pekerjaanmu. Kau pilih aku atau buku-bukumu. Memuakkan. Benar-benar pernyataan yang memuakkan dan selalu berakhiran kalimat, "Kamu gak pernah ngerti aku!" Cih!

Menurutku, orang yang sibuk harus berjodoh dengan orang yang sibuk pula. Kesimpulan itu terbersit begitu saja saat aku mendengarkannya bercerita. 

Rasanya aku pernah mendengar kesimpulanku itu diucapkan oleh ibu Tri Mumpuni dalam sebuah event perkumpulan mahasiswa nasional. Entah aku yang salah tangkap ataukah ibu yang salah mengucapkannya.

Tapi rasanya terlalu jelas diingatanku. Apalagi kisah temanku satu itu seakan menegaskan kesimpulan yang aku buat sendiri setelah ia bercerita. Kisahnya pula yang mengingatkanku pada kebodohanku dimasa lalu.

Teringat suatu waktu, ada seseorang yang luar biasa sibuk dengan berbagai kegiatannya bertandang di hatiku (aih, terlalu menggelikan kata-kata itu :D). Aku yang notabene hanya mahasiswa rumahan yang kerjanya hanya kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang menuntutnya untuk selalu menjawab setiap pesan singkat yang kutujukan padanya. Hasilnya, hubungan kami merenggang. 



Memang kisahku dan kisah temanku tak bisa dijadikan kesimpulan yang sesuai dengan realita lain yang bretolak belakang. Tapi setidaknya ada pelajaran penting disini. Jika orang yang kau sayang itu adalah orang yang sibuk, maka sibukkanlah dirimu dengan kegiatan yang kau sukai sehingga kau tak perlu mengais kasih sayang berlebihan darinya. Asal kau tahu, rajukanmu itu terkadang bukan tanda dari keromantisan, tapi malah memuakkan.

Jika kau tak bisa begitu, maka carilah orang lain yang bisa kau perlakukan sebagaimana kau bermain trampolin. Orang yang bisa menerima dan membalas semua rajukan "kasih sayang"mu sesuai dengan yang kau mau, sesuai dengan setiap loncatan yang kau lakukan diatas trampolin itu. 

Sekali lagi aku hanya mengingatkan, aku pernah menjadi memuakkan dan muak karena hal yang sama yang telah kusebutkan sebelumnya. Cukuplah aku, kawan. Tak usah bertambah lagi dengan kau. 

Tinggal pilih, sama-sama sibuk atau pergi dengan orang lain yang tak sibuk karena takkan ada kebersamaan dalam ketimpangan. Salah satu merasa "paling" mencintai saat yang lain berharap mereka berdua "saling" mencintai. 

You Might Also Like

0 komentar: