[IM-HAN] SEPUCUK SEMANGAT YANG MENGGEBU

July 24, 2012 Qeeya Aulia 0 Comments


Salam. Hai anak Indonesia. Bagaimana kabar kalian disana? Kakak harap selalu sehat dan semangat untuk menimba ilmu.

Adikku..
Andai kalian tahu betapa bertemu kalian adalah anugerah dari Tuhan yang tiada dua. Andai kalian tahu betapa setiap senyum dan langkah kalian adalah berkah yang membuat semangat kami berkobar. Andai kalian tahu, membayangkan bisa mengajak kalian belajar adalah godaan terindah sepanjang masa.

Betapa banyak keuntungan dan karunia Tuhan yang kalian terima hari ini. Kalian masih bisa melihat hamparan sawah, laut, gunung dan danau diberbagai penjuru Indonesia. Kalian masih bisa merasakan hebatnya pengalaman belajar dengan guru-guru terpilih. Kalian masih bisa merasakan betapa indahnya menuntut ilmu.

Kakak punya sedikit cerita tentang teman kalian yang pernah kakak temui di Bandung. Sebut saja namanya Rina. Rina adalah anak jalanan yang bertempat tinggal dibawah kolong jembatan dekat mall besar di Bandung. Sore itu, kakak bertemu dengannya di atas jembatan sedang duduk lemas. Kakak bertanya padanya, “Apa yang sedang kau lakukan?” Ia meringis dan berkata, “Sedang menahan lapar, kak.”

Kebetulan kakak membawa sepotong roti yang masih tersisa di tas. Ia menerima roti itu dengan tatapan berbinar. Seperti belum makan 3-5 hari lamanya. Setelah itu ia mulai bercerita tentang cita-citanya. Bercerita tentang impiannya. Bercerita tentang sebab musabab ia bisa tinggal dikolong jembatan.

sumber : http://h41-zone.blogspot.com/2010_09_01_archive.html

Dulu, Rina sempat bersekolah hingga kelas 3 SD. Ia dan ibunya diusir dari kontrakan kumuh dekat jembatan yang ia tempati sekarang karena tak bisa membayar uang sewa kontrakan berbulan-bulan lamanya. Sejak saat itu, Rina dan ibunya tinggal dibawah kolong jembatan. Rina putus sekolah. Mengubur cita-citanya menjadi guru dan berkeliling Indonesia. Pagi hingga malam hari Rina berkeliling Bandung untuk mengamen. Tak jarang dipukuli oleh pengamen lain dan dipalak oleh para preman.

“Andai bisa kerja yang lain, Kak. Gak enak ngamen gini, badan kena tonjokan terus. Belum lagi uang penghasilan yang sedikit. Saya senang belajar, Kak. Setiap ada mahasiswa yang ngajak belajar bersama, saya selalu ikut. Pokoknya, saya ingin jadi guru.”

Adikku...
Yuk, belajar lebih giat. Ilmu seperti lautan luas yang harus kita selami dengan benar. Tanpa ilmu, kita hanya makhluk yang tak jauh berbeda dengan binatang. Tanpa ilmu, kita mudah dibohongi orang. Tanpa ilmu, kita sulit menolong diri kita dan orang lain. Tanpa ilmu, kita selalu jadi yang terbelakang. Dulu, para pendiri negara ini adalah orang-orang yang berilmu. Orang yang tak berilmu hanya menjadi kacung-kacung tak berdaya para penjajah.

Adikku...
Yuk, berusaha lebih keras lagi. Orang-orang seperti kita hanya punya mimpi yang harus diwujudkan. Indonesia takkan merdeka tanpa perjuangan dan usaha ekstra para pejuang. Kitapun demikian, akan menjadi orang yang biasa-biasa saja bila tanpa usaha lebih dari orang kebanyakan.

Adikku...
Yuk, berdoa lebih khusyuk. Tuhan selalu bersama hamba-Nya yang taat dan berserah diri pada-Nya. Usaha tanpa doa itu sombong. Sedangkan doa tanpa usaha itu bohong. Tuhan selalu suka diminta banyak hal oleh hamba-Nya yang mau berusaha.

Adikku...
Mari berkeliling dunia. Mari tegakkan cita-cita. Mari kibarkan kembali bendera Indonesia. Mari maju bersama untuk kebangkitan bangsa. Hanya ditangan kalian bangsa ini bisa maju. Jadi, jangan ketinggalan untuk ambil kesempatan menjadikan impian itu nyata.

Surat kakak rasanya sudah terlalu panjang. Salam hangat untuk keluarga kalian di rumah. Semoga suatu saat kita bisa bertemu dalam kondisi yang berbeda. Disaat kalian sudah menjadi ilmuwan, guru, bahkan mungkin presiden. Terus bercita-cita dan bermimpi setinggi yang kau bisa. Jangan pernah menyerah pada keadaan. Kakakmu disini selalu mendoakan yang terbaik bagi kalian semua. Sukses untuk kita semua. Terus berjuang, anak Indonesia! Ayo kita kembalikan kejayaan tanah air kita! Ayo jadi tuan di negeri sendiri! Ayo buka gembok potensi yang kalian punya! Ayo berkarya!


Salam hangat dari kakakmu di Bandung

Arrizqiya Auliaur Rahmah
(Aktivis Kampus Peduli Bandung)

You Might Also Like

0 komentar: