CAKAPKU PADA HUJAN

July 08, 2012 Qeeya Aulia 0 Comments

Hari itu entah mengapa aku hanya berniat untuk duduk di dekat jendela. Menikmati belaian angin yang memikat dan menebar sensasi dingin yang tak biasa. Sebenarnya hembusan angin yang kunikmati itu berhembus kencang dan bisa saja menjadi penyebab utama penyakit tak menyenangkan bernama masuk angin. Tapi tak apa. Aku benar-benar menikmati hembusannya karena kutahu, angin hanyalah salah satu pertanda datangnya sesuatu yang selalu kucinta. Hujan.

Perlahan hembusan angin kencang itu menggiring segerombolan awan kelabu. Walau mendung tak berarti hujan, tapi aku terlalu yakin hujan benar-benar akan datang. 

Prediksiku benar. Tetesan air turun dari langit perlahan. Sepertinya ribuan galon air yang dibawa awan kelabu tak sabar ingin menyapa manusia dengan sensasi dinginnya. Sepertinya ribuan galon air itu tak sabar berbisik padaku untuk bercakap-cakap seperti biasanya. Ya, aku benar-benar bisa bercakap dengan hujan entah sejak kapan, aku tak tahu pastinya.

"Apa kabar?" bisik hujan dengan gerimis yang mulai berjatuhan.
"Baik. Baik sekali. Apalagi setelah kau datang," jawabku sambil terus tersenyum bahagia.
"Ada yang ingin kutanyakan padamu. Kau bisa berjanji untuk menjawabnya?" tanyanya.
"Apa?" tanyaku menyelidik.
"Berjanjilah kau akan menjawabnya."
"Baiklah, ya, aku berjanji."

Ia terdiam sebentar. Desauan angin yang biasa menyampaikan bisiknyapun berhenti. Rasa tak sabar menyeruak dalam hatiku, tapi sekuat tenaga kuhalau.

"Em..apa yang kau ingat tentangku? Hanya itu pertanyaannya. Apa yang kau ingat tentang hujan." 

Aku terdiam sejenak. Kukira pertanyaannya akan menyangkut urusan pribadiku, ternyata tidak. Syukurlah.

"Tentang kau? aku tak ingat apapun," candaku.
"Benarkah?Kau bohong!" hujan menderas.
"Tidak sepenuh bohong. Banyak hal yang aku lupa tentangmu. Aku hanya ingat beberapa hal yang membuatku menyukaimu."
"Apakah itu?" 
"Benar kau ingin mengetahuinya?"



Hujan tak menjawab. Hanya suara petir dan cahaya kilat yang menjawab. Ah, hujan mulai merajuk. Merajuk yang menakutkan.

"Aku ingat pada sensasi dingin yang kau sebarkan disetiap kedatanganmu. Kuingat desauan angin yang membuatku bisa bercakap denganmu, semerbak bau tanah yang membuat sisa waktu setelah kau turn menjadi lebih segar dan menyenangkan, gemerlap bintang dan cahaya bulan saat kau turun di sore harinya. Kuingat bulu kuduk yang selalu berdiri kedinginan, tawa anak kecil menyambut kedatanganmu, orang dewasa yang sibuk berteduh dan menggerutu saat kau muncul dengan tiba-tiba, tukang es yang sedih karena kau telah mendinginkan suasana dan membuat dagangannya tak laku, senyuman dan harapan para ojeg payung yang bisa mendulang beberapa lembar ribuan dari payung-payung lusuh mereka. Yang terpenting, dengan turunnya kau, aku bisa mengingat seseorang yang bisa membuatku tersenyum beberapa waktu lalu. Bukan senyum yang biasa, tapi senyum yang membuatku benar-benar bahagia. Ah, terlalu banyak yang tak kuingat hingga aku tak bisa menyebutkan semuanya. Apa pentingnya kau tahu ingatanku tentangmu?"

"Tidak penting sebenarnya, aku hanya ingin tahu seberapa berartinya kemunculanku di muka bumi ini. Karena jawabanmu, aku semakin bangga pada Tuhan kita. Ia telah merencanakan semuanya dengan begitu sempurna."

Aku tersenyum riang mendengar jawaban hujan. Ah, ya! aku teringat sesuatu!

"Sekarang giliranku. Bolehkah aku bertanya padamu?" tanyaku pada hujan.
"Bertanyalah sebelum bertanya itu dilarang," candanya.
"Kapan kau musnah dari ingatan manusia?"
"Maksudnya?"
"Maksudku, kau tahu bukan manusia selalu menyebutmu dalam lagu-lagu mereka, dalam cerita-cerita mereka, dalam kenangan-kenangan mereka. Mereka selalu melibatkanmu dalam aktivitas mereka. Menyalahkanmu atas kesialan dan kuyupnya baju mereka. Kapan kau tak disalahkan, tak disebut dan tak diingat oleh manusia?" jelasku.
"Aku sudah menjawabnya sebelum kau bertanya. Ini rencana Tuhan kita. Tapi bila aku boleh memprediksi kapan namaku hilang dari ingatan manusia, saat itu adalah saat aku tak turun lagi menyapa manusia serta saat para pecinta tak menyebutku lagi dalam untaian doa, kenangan, dan dalam berbagai ungkapan yang menisbikan kejadian bersama orang-orang yang mereka cintai. Ah, aku bingung bagaimana menjelaskannya padamu. Apakah kau mengerti?"
"Ya, aku mengerti. Apakah saat itu juga saat aku berhenti bercakap denganmu?"

Hujan berhenti dan pertanyaanku tak pernah terbalas lagi.

You Might Also Like

0 komentar: