MENCERDASKAN ANAK BANGSA ITU TIDAK MUDAH

July 27, 2012 Qeeya Aulia 1 Comments

Sore itu, disalah satu hari Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM) yang kuikuti, belasan anak duduk disekitarku. Beberapa diantara mereka mengeja satu persatu huruf hijaiyah yang ada di buku tipis bernama Iqra'. Beberapa yang lain sibuk menulis materi. Mata mereka berbinar ingin tahu. Senyum mereka merekah setiap ada bacaan huruf yang salah. Entah karena malu, entah karena apa.

Aku termasuk orang yang kaku. Sulit mencairkan suasana dan cair dalam suasana. Tapi tatapan mereka, senyuman mereka, semangat mereka untuk belajar memaksaku cair dalam suasana yang bisa mendukung mereka belajar. 

Kukira menjadi guru itu mudah. Nyatanya, sangat diluar dugaan. Banyak yang harus kukuasai sampai anak didikku benar-benar paham apa yang kuajarkan. Banyak yang harus kupelajari hingga mereka menggangguk karena mengerti. Banyak yang harus kudalami, salah satunya adalah cara mendengarkan.

Kenapa harus mendengarkan?

Karena anggukan belum tentu berarti memahami. Karena senyuman belum tentu berarti mengerti. Karena binaran mata belum tentu berarti menguasai. 

Jangankan hal yang rumit, mengajak anak-anak mampu untuk membedakan huruf hijaiyah yang satu dengan yang lainnya saja masih sulit. Rasanya tak adil bila mengharapkan murid yang cerdas dari guru yang tak cerdas. Karena itulah, mencerdaskan anak bangsa itu perlu dilakukan oleh guru yang cerdas pula. 

Saat itu, aku beserta temanku berjibaku memikirkan cara terbaik membantu mereka mudah membaca Al-qur'an dikemudian hari. Satu hingga tiga hari cara itu ampuh. Tapi tidak dengan hari keempat dan kelima. Mungkin karena bosan dengan metode yang itu-itu saja, atau entah karena apa.

Hari kelima berlalu tanpa ada kemajuan berarti dari adik-adik kami. 

Malam itu kami merencakan banyak metode pembelajaran yang dapat menarik minat mereka kembali. Tapi sayang, kabar kurang enak didengar harus kami terima keesokan harinya. Pengajian untuk sementara diliburkan selama 2 minggu untuk persiapan peringatan Isra' Mi'raj. Mereka akan menampilkan kreasi seni dan menurut penyelenggara pengajian, jadwal mengaji sore hari akan mengurangi waktu istirahat mereka. Baiklah, siapalah kami? toh kami didatangkan untuk membantu penyelenggara pengajian setempat. 

Waktu demi waktu berlalu dengan cepatnya. Tak terasa dua minggu seperti dua hari. Akhirnya kami kembali mengajar disana. Sayang, seluruh program yang kami rancang tidak bisa terlaksana secara sempurna. Hari berganti, maka targetan pencapaian materipun ikut berganti. Program yang kami susun kebetulan hanya cocok untuk materi pengenalan makhorijul huruf. Jadi, saat lahir keputusan dari ketua kelompok KKNM untuk menyamakan materi yang disampaikan disetiap masjid, kami mengamininya.

Adik-adik kami itu memang tidak buta huruf Al-qur’an. Tapi banyak dari huruf hijaiyah yang mereka tahu itu keliru cara bacanya. Misalnya, huruf “fa” sering kali dibaca “pa” dan banyak lagi contoh lainnya. Ini memang kesalahan kecil, tapi cukup mendasar dan akan mempengaruhi cara baca Al-qur’an mereka nantinya. Sayang, targetan kami tak tercapai seluruhnya.

Satu pelajaran penting bagi kami, bagiku khususnya. Kecerdasan lain yang harus dimiliki para pendidik di dunia ini adalah kecerdasan mengatur waktu. Kecerdasan ini yang tak kami kuasai sehingga target kami berantakan.

Teringat pada salah satu dosen favoritku, serumit apapun materi yang beliau sampaikan pada kami, entah bagaimana caranya selalu berakhir sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Hebatnya lagi, hampir seluruh mahasiswa yang ada di dalam kelas itu mengerti apa yang beliau sampaikan.

Suatu saat beliau pernah bertanya pada kami, “Apa yang kalian rasakan saat belajar mata kuliah saya?”
Beberapa orang dari kami menjawab senang, merasa tertantang dan lain sebagainya. Beliau kemudian berkata, “Alhamdulillah, berarti doa saya dikabulkan oleh Allah.”

Kami terperangah. Doa?

Ah ya, rasanya doa pantas menjadi pamungkas dari usaha-usaha yang dilakukan oleh para pendidik.  Usaha tanpa doa itu sombong. Sedangkan doa tanpa usaha itu bohong. Doa beliau membuat kami lebih mudah memahami materi.

Intinya, mencerdaskan bangsa itu tidak mudah. Perlu usaha, kemauan untuk mendengar, cerdas mengatur waktu dan juga doa dari para pendidik untuk pemahaman yang terbaik.

Satu lagi tambahan penting dari seorang teman, “bila apa yang kita berikan itu berasal dari hati, maka hal itu akan sampai ke hati yang dituju.” Mari berkontribusi menggunakan hati. Bukan karena impian untuk naik jabatan, naiknya gaji atau naiknya nilai anak-anak. Itu semua hanya dampak dari seluruh usaha yang kita jalani. 

Mari mencerdaskan anak bangsa karena mencerdaskan anak bangsa itu tidak mudah!

You Might Also Like

1 komentar: