Posts

MENCERDASKAN ANAK BANGSA ITU TIDAK MUDAH

Sore itu, disalah satu hari Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM) yang kuikuti, belasan anak duduk disekitarku. Beberapa diantara mereka mengeja satu persatu huruf hijaiyah yang ada di buku tipis bernama Iqra'. Beberapa yang lain sibuk menulis materi. Mata mereka berbinar ingin tahu. Senyum mereka merekah setiap ada bacaan huruf yang salah. Entah karena malu, entah karena apa. Aku termasuk orang yang kaku. Sulit mencairkan suasana dan cair dalam suasana. Tapi tatapan mereka, senyuman mereka, semangat mereka untuk belajar memaksaku cair dalam suasana yang bisa mendukung mereka belajar.  Kukira menjadi guru itu mudah. Nyatanya, sangat diluar dugaan. Banyak yang harus kukuasai sampai anak didikku benar-benar paham apa yang kuajarkan. Banyak yang harus kupelajari hingga mereka menggangguk karena mengerti. Banyak yang harus kudalami, salah satunya adalah cara mendengarkan. Kenapa harus mendengarkan? Karena anggukan belum tentu berarti memahami. Karena senyuman belum ten...

[IM-HAN] SEPUCUK SEMANGAT YANG MENGGEBU

Image
Salam. Hai anak Indonesia. Bagaimana kabar kalian disana? Kakak harap selalu sehat dan semangat untuk menimba ilmu. Adikku.. Andai kalian tahu betapa bertemu kalian adalah anugerah dari Tuhan yang tiada dua. Andai kalian tahu betapa setiap senyum dan langkah kalian adalah berkah yang membuat semangat kami berkobar. Andai kalian tahu, membayangkan bisa mengajak kalian belajar adalah godaan terindah sepanjang masa. Betapa banyak keuntungan dan karunia Tuhan yang kalian terima hari ini. Kalian masih bisa melihat hamparan sawah, laut, gunung dan danau diberbagai penjuru Indonesia. Kalian masih bisa merasakan hebatnya pengalaman belajar dengan guru-guru terpilih. Kalian masih bisa merasakan betapa indahnya menuntut ilmu. Kakak punya sedikit cerita tentang teman kalian yang pernah kakak temui di Bandung. Sebut saja namanya Rina. Rina adalah anak jalanan yang bertempat tinggal dibawah kolong jembatan dekat mall besar di Bandung. Sore itu, kakak bertemu dengannya di atas jemba...

ES KRIM

Image
Malam itu, malam ramadhan ke-4, shalat jamaah tarawih ketiga di tahun ini. Semuanya terasa biasa saja sebelum ceramah sang imam dikemukakan. Tak pernah terpikirkan analogi sesederhana ini tentang diijabah dan tidaknya doa manusia.  "Doa tidak diijabah itu bisa dianalogikan seperti ini : suatu malam ibu-ibu mendapati anak anda sakit batuk dan flu. Nah, malam itu anak anda merengek meminta es krim. Apakah ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian akan memberi mereka es krim?" Es krim. Ah, siapa yang tak tahu es krim. Makanan dingin yang meleleh di mulut itu tak ada bandingannya. Apalagi bila dinikmati di siang hari. Astagfirullah...puasa, Ki...puasaaaa!!!! :D Mari beralih dari pembahasan tentang nikmatnya es krim.  Benar saja yang dikatakan sang pembicara. Tak mungkin bila aku sebagai orang tua memberi es krim kepada anak yang sedang sakit flu dan batuk dimalam hari. Hanya orang aneh yang memberikannya (Peace v^_^)   Mungkinkah begitu juga dengan Tuh...

APA KABAR SKRIPSI?

Judul tulisan ini rasanya sudah terlalu jelas menggambarkan sebuah karya ilmiah sebagai syarat kelulusan itu belum pernah kusentuh sama sekali. Skripsi oh skripsi. Sejak kapan orang-orang menggunakanmu sebagai syarat kelulusan dan mendapatkan toga ? Skripsi memang hanya sebuah karya ilmiah dari sebuah penelitian yang dilakukan mahasiswa. Sayang, walaupun "hanya" tapi sangat sulit sekali kuurus. Sebenarnya, satu semester yang lalu aku seharusnya sudah bisa mengajukan proposal penelitian. Tapi apa yang terjadi? aku berleha-leha tiada dua. Aih, andai penyesalan tak pernah ada. Hasilnya, aku tak lulus matakuliah itu dan artinya aku harus mengulang tahun depan. Harapan menjadi lulusan tercepat seangkatanpun harus kandas karena kemalasan yang kusadari.  Hingga kini, topik yang kuinginkan masih berubah-ubah. Hari ini A, besok B besoknya lagi C. Ah, labil sekali. Sore ini, kumelihat beberapa orang teman yang dulu bersama di SMA sudah lulus dari universitas mereka....

ONLINE

Image
Aku suka dunia maya. Tepatnya lebih menyukainya daripada dunia nyata. Alasannya, aku bisa menahan diri untuk memberikan respon-respon negatif yang cenderung spontan terekspresikan bila aku bertatap muka dengan orang lain. Aku juga merasa lebih nyaman bila berhubungan dengan orang lain secara tidak langsung daripada bertatap muka dengan mereka. Walau menurut beberapa orang temanku, aku termasuk orang yang mudah bergaul. Ah, tau apalah kita tentang diri kita sendiri. Dari dunia maya kudapat beberapa orang yang cukup nyaman untuk diajak berkomunikasi. Tidak terlalu sering dan tidak terlalu jarang. Cukup sesuai dengan porsi keinginanku. Dari dunia maya kudapat banyak informasi yang tak bisa kutahui. Dari dunia maya, kudapat membaca beberapa lembar artikel yang tak jarang malas kulakukan bila kutemui versi cetaknya.  Dari dunia maya kutemukan banyak kabar tentang orang-orang yang jarang bahkan tak pernah kutemui di dunia nyata. Di dunia maya tak banyak kewajiban ataupun tuntut...

PRINTERKU SAYANG PRINTERKU MALANG

Image
Ini printer yang keempat selama aku kuliah di Bandung. Kota yang katanya penuh dengan berbagai pesona. Rasanya, usia printerku itu tak lebih dari 5 bulan. Eh, atau lebih ya? entahlah. Yang kutahu hanya memakai dan memakainya. Tak urus lah semua perawatan utilitasnya. Printer itu satu tingkat di atas printerku yang kedua dan 3 tingkat dibawah printerku yang ketiga. Tapi pasti jauh lebih oke daripada printerku yang pertama. Tak pentinglah membahas tingkatan printer. Hanya terbesit lalu ingin menulisnya saja. Entah apa pasal, ia tak bisa bekerja seperti biasanya. Bilapun bisa, bak penari tua yang kelelahan menggerakkan pinggulnya. Lama. Mencetak satu lembar dokumen saja seperti mencetak 5 dokumen saat kondisinya masih fit dulu. Bayangkan berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk mencetak 121 halaman rencana pembelajaran pelajaran yang ditugaskan oleh ibuku saat itu. Kesal. Kubuku tutup badan printerku itu. Tak ada yang salah rasanya bila dilihat dengan mata orang awam ini. Tap...

BERAS DAN BABI

Image
Beras kini sudah "menusantara". Orang-orang dimanapun ia berada di negeri ini hampir tak ada yang tak mengkonsumsi beras kecuali beberapa orang dengan beberapa alasan seperti keterbatasan keuangan dan ikatan hukum adat. Ternyata hal ini bukan suatu kebetulan dan keseragaman pangan yang dianut oleh masyarakat nusantara. Ada suatu pembiasan yang sukses menyingkirkan kebiasaan mengkonsumsi makanan lokal. Berikut beberapa fakta tentang beras :  Sebelum 1960-an, pengonsumsi beras di Indonesia hanya 40%. Masyarakat Papua dan Maluku saat itu masih memanfaatkan komoditas lokal, sagu. Masyarakat Jawa juga masih banyak yang mengonsumsi singkong dan komoditas lokal lainnya. Ketergantungan terhadap beras berawal saat kebijakan pemerintah dahulu untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan dengan memperbaiki kualitas hidup. Caranya dengan mengganti pola makan. Pemerintah melalui program Bimas, meminta masyarakat mengonsumsi beras. Hal tersebut membuat seolah-olah kalau tidak maka...