PERTANYAAN

May 25, 2013 Qeeya Aulia 0 Comments



Aku pernah bercerita tentang senyum anak kecil yang membuatku merasa sore hari penuh warna. Aku juga pernah merasa tenang saat mendengar hapalan surat pendek seorang anak kecil di angkutan umum. Kini, lagi-lagi aku mendapatkan pelajaran berharga dari tingkah polah makhluk terjujur sedunia.

Siang itu, lagi-lagi aku salah jalan. Entah mengapa kesalahan selalu menghiasi hidupku. Mulai dari salah naik angkutan umum, salah kirim SMS, hingga salah alamat. Ah, terdengar seperti lagu dangdut saja.

Kembali ke ceritaku, siang itu aku hendak pergi ke suatu tempat. Namun naas, aku yang sangat sulit menghapal jalan ini lagi-lagi tersesat di kotaku sendiri. Aku memutuskan untuk berjalan. Beruntung, suhu udara di siang itu tak membuatku bercucuran keringat. Daerah tempatku tersesat pun penuh pohon rindang, sehingga aku dengan senang hati menikmati terbuangnya waktu karena tersesat.

Lelah berjalan, akhirnya kuputuskan untuk naik angkutan umum kembali. Angkutan umum yang kutumpangi hanya berisi seorang ibu dengan anak laki-lakinya.  Mereka sukses mencuri perhatianku. Anak itu berceloteh tanpa henti dan ibunya mendengarkan lalu merespon setiap celotehannya. Tanpa diminta, otakku bekerja merekam percakapan mereka dengan cukup baik.

“Ma, kenapa orang-orang meludah sembarangan di jalan?” tanya si anak.
“Iya, mereka gak  tahu itu bikin penyakit mereka menyebar ke orang lain,” jawab si ibu.
“Oh, kasihan ya Ma orang-orang yang nanti ketularan. Eh kok orang-orang juga suka merokok di tempat umum? Kata kakak itu gak boleh loh, Ma.”
“Iya, harusnya gak boleh gitu.”
“Em, berarti mereka jahat ya, Ma.”

Si ibu mengangguk dan aku tersenyum karena sopir angkot yang kami tumpangi sedang merokok sambil menyetir.

“Ma, semua speaker di mobil kayak gini gede semua ya, Ma?”
“Iya, kenapa?”
Kan kasihan orang-orang di dalam angkot, bisa-bisa nanti budeg. Hehe.”
“Ya enggak, orang-orang juga suka dengar musik.”

Si ibu terlihat melirik ke arah sopir angkot yang beberapa melirik anak laki-laki beserta ibunya itu melalui cermin. Aku? Apa yang aku lakukan? Aku sibuk menebak pertanyaan apalagi yang akan keluar dari anak laki-laki cerdas ini.

“Ma, itu isinya apa sih, kok bisa nyala kalau malam?” tanya anak itu sambil menunjuk ke arah billboard rokok yang terpampang di pinggir jalan.
“Lampu.”
“Sama gak dengan lampu yang ada di rumah kita?”
“Sama.”
“Kalau ayah bikin lampu yang kayak gitu di rumah, dipasangnya di kamar adik ya.”
“Oke.”
“Ma, itu kok yang naik motor jalan di tempat jalan kaki?” anak laki-laki itu menunjuk ke arah pengendaara motor yang sedang melaju di trotoar.
“Iya, seharusnya gak boleh seperti itu.”
“Kalau ada polisi, harus dihukum ya, Ma?”
“Iya.”
“Kasihan ya, Ma. Orang-orang jalan kaki jadi susah.”
“Iya.”
“Ma, temanku katanya pernah ke mall. Mall itu apa, Ma?”
“Kata teman adik apa?”
Gak tahu, nanti adik tanya dulu ya.”
“Nanti certain ke Mama ya.”
“Iya, Ma. Tapi mall itu apa dulu?”
“Tempat beli-beli barang. Waktu adik beli baju bola itu kan di mall.”
“Oh, tempat orang-orang jualan ya.”
“Iya.”
“Itu mall juga, Ma?” jari telunjuknya mengarah ke pedagang kaki lima yang berjejer di pinggir jalan.
“Bukan, kalau mall ada gedungnya.”
“Oh, yang kayak gitu?” si anak menunjuk gedung bertuliskan Riau Junction.
“Iya. Betul.”
….

Ibunya hanya tersenyum dan mengangguk. Tak lama kemudian anak beranak itu turun dari angkot hijau yang kami tumpangi. Sungguh, aku tak bisa membayangkan bagaimana bila aku menjadi ibu dari anak itu. Rasanya aku akan risih ditanya banyak hal yang menurutku remeh di tempat umum. Tapi ibu itu dengan sabar menjawab dan merespon semua pertanyaan dan ungkapan anaknya. Tanpa marah-marah dan terlihat kesal. Tanpa menyuruh anaknya diam karena terlalu banyak bertanya. Tanpa melarang anaknya bertanya kembali.
Tuhan, jika suatu saat nanti aku berkesempatan menjadi seorang ibu, mampukan aku mendengar dan merespon dengan baik apa yang disampaikan anakku. Tolong bantu aku meredam fluktuasi emosi yang membuatku mudah kesal dan merespon secara negatif apa yang menurutku tak penting. 

Bu, meskipun kita hanya bertemu saat itu dan aku tak ingat wajahmu dengan baik, izinkan aku mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya untukmu yang telah mengajarkanku secara langsung bagaimana bersikap. Pelajaran yang mudah didengar dan sulit dipraktekan.

Dik, semoga kau tetap bertanya dan terus bertanya tentang banyak hal. Kau pasti jadi anak yang hebat, semoga!

Siang itu lagi-lagi menjadi siang yang indah.

You Might Also Like

0 komentar: