Aalst, Belgium #1

December 11, 2014 Qeeya Aulia 0 Comments

Yap. Saya kesal dengan makhluk berjakun alay berwajah arab selama perjalanan. Saya masuk ke pesawat, mencari tempat duduk dan taraaa ternyata tempat duduk saya sudah diisi oleh manusia lain. Katanya dia minta gantian tempat duduk dengan bahasa tubuh yaaa kalau gak mau dibilang bahasa monyet itu juga. Singkat cerita, akhirnya saya dengan ‘ikhlas’ duduk di deretan kursi bagian tengah. Sebelah seorang ibu berwajah Asia yang ternyata orang Indonesia.

Manusia berwajah arab itu ternyata bepergian serombongan. Terdiri kurang lebih dari empat sampai lima orang. Kursi di jajaran tengah itu terdiri dari empat kursi. Saya duduk di kursi yang tengah, dipinggir salah satu rombongan makhluk alay yang saya ceritakan sebelumnya. Ternyata oh ternyata, orang itu hanya duduk di samping saya sementara. Saat pesawat sudah mulai take off, ia pindah ke kursinya. Bahagialah saya.

Ternyata kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Manusia itu kembali ke kursi sebelah saya saat makan malam dibagikan. Ia berbincang dengan suara yang cukup keras dan banyak bergerak. Aaaaaahhhh, kesal.  Selain itu, ia memakai selimut saya yang saya simpan di kursi itu karena mau makan. Dan perjalanan dari Jakarta ke Dubai itu menjadi menyebalkan.

Beruntung, Emirates adalah maskapai penerbangan yang cukup menyenangkan. Jadi saya bisa menghibur diri dengan berbagai film terkini ataupun film lama yang tersedia. Saya tonton maze runner dan film apa tau deh lupa. Makanan dari pesawat pun cukup enak, walaupun rasanya lebih sering hambar atau aneh di mulut. Tapi lumayan lah ya. Baru kali itu ngerasain makan lengkap dari makanan pembuka, makanan utama sampai makanan penutup. Biasanya kan ke warteg atau warung sunda yang langsung disuguhin makanan utama saja. Hoho.

Saya cobain tuh semua fasilitas yang ada di Emirat. Mulai dari colokan buat nge-charge handphone atau apapun yang bisa di-charge, nonton film terbaru, dengerin lagu-lagu, nge-games, sampai ke toilet yang ada di pesawat. Hahaha.

Saya gak yakin ada septix-tank di pesawat, tapi ya masa iya kotoran yang dibuang langsung jatuh aja ke daratan di bawahnya? Atuh jijay lah. Terlepas dari itu, air di kamar mandi pesawat memang agak terbatas. Buat yang mau melakukan aktivitas toilet di pesawat baiknya bawa botol cebok atau tisu basah buat bersih-bersih pasca melakukan aktivitasnya.

Langit-langit pesawatnya juga unik, ada kerlap-kerlipnya. Berasa melihat hamparan bintang. Walaupun demikian, karena tiket saya adalah tiket ekonomi, ya jadi agak sempit buat gerak-gerak. Kursinya pun sedikit keras dan kurang empuk. Yasudahlah, memang jatahnya ekonomi mungkin seperti itu. Saya harus rela nerima keadaan yang begitu selama 7 jam sebelum sampai di Dubai untuk transit.

Uniknya, saya baru kali itu ada di suasana dimana wine, champaign dan minuman-minuman lainnya bertebaran di sekitar saya. Saya hanya minta teh, air putih atau soft drink. Pengen sih minum wine juga, tapi ngeri ah kalau hukumannya 40 hari ditolak amal ibadahnya. Hehe.

Lagian tanpa wine atau minuman sejenisnya, saya sudah menghabiskan setengah perjalanan saya dengan tidur di pesawat. Yah begitulah, pelor, alias nempel molor.

Tak terasa lebih dari 4000 km sudah terlewati. Sekitar setengah jam kemudian saya akan sampai di Bandara internasional Dubai. Bandara yang katanya terkeren se-timur tengah bahkan mungkin sedunia. Sesampainya disana, sekitar jam 5 pagi. Saya kebetulan belum sholat subuh dan berniat sholat shubuh disana.

Pesawat sudah landing dengan cantiknya. Saya bergegas mengambil tas dan berbaris di lobi pesawat untuk turun. Saya teringat ucapan senior saya di kantor.

“Pokoknya, sesampainya di tempat transit, hal yang pertama dilakukan adalah cari gate selanjutnya. Jangan kemana-mana dulu. Kalau sudah nemu, baru deh bebas mau kemana saja dan kembali kesana di waktu gate dibuka.”

Semua penumpang turun dari pesawat. Ah ya, saya pakai pesawat Boeing 300-an saya lupa nomor seri pesawatnya. Haha. Saat turun dari pesawat, kami disambut kendaraan semacan busway. Saya duduk manis disana, tapi tak lama kemudian ada bapak yang gendong anak kecil. Saya jadi tak tega, berdirilah saya karena sadar saya masih muda. Ternyata setelah saya observasi manusia yang ada di kendaraan itu, banyak sekali orang Indonesia disana. Jadi lucu ya, kemanapun pergi pasti nemu orang Indonesia.

Sekitar 10 menit perjalanan, akhirnya kami semua sampai di bandara. Semua penumpang berhamburan ke luar. Saya berjalan cepat karena waktu transit hanya 2 jam. Segera saya cari gate keberangkatan selanjutnya. Muter-muter sana sini sambil bawa troli kecil karena tas saya berat. Setelah mencari selama sekitar 15-20 menit, akhirnya saya temukan gate keberangkatan saya ke Brussels. Lalu saya mencari musholla. Enaknya, di bandara tersebut ada banyak musholla. Jadi saya tak harus muter-muter nyari musholla. Ah ya, di bandara Dubai, toilet wanita sangat tertutup. Jadi nyaman untuk buka kerudung. Begitupun musholla dan tempat wudhunya. Yang melegakan adalah di bandara ini ada shower untuk cebok. Jadi gak perlu bawa botol cebok. Penting banget ya? Hahaha.

Setelah sholat dan rapi-rapi, saya keliling bandara sebentar. Awalnya ingin mampir ke McD untuk beli makanan, tapi karena jadwal boarding sudah dekat, saya urungkan niat jajan di bandara. Setelah menunggu beberapa menit, gate boarding dibuka sebelum waktunya. Saya ikut antri untuk boarding pass. Setelah sampai di ruang tunggu, saya baru sadar ternyata hanya saya manusia berkerudung yang akan ada di pesawat menuju Brussels. Kayak artis ya rasanya saat orang-orang lewat dan melihat saya agak lama.


Waktunya masuk pesawat. Seperti biasa, para penumpang kelas bisnis dan eksekutif didahulukan. Disusul oleh para orang tua yang membawa anak atau wanita hamil atau orang-orang yang sudah tua. Lalu penumpang kelas ekonomi sesuai dengan urutan zone yang tertera di tiketnya. Saat saya mengantri, ada seorang wanita yang melambaikan tangannya ke saya. Saya celingukan dan mencoba menebak-nebak manusia itu. Ternyata...

You Might Also Like

0 komentar: