Posts

Semalam Sebelumnya : U-turn

Saat gabut dan buka instagram, ada satu reels yang muncul. Video ceramah singkat dari seorang ustadzah muda yang tinggal di Kanada. Ia bilang kalau kita menggunakan GPS dan kita salah arah, apa yang akan dilakukan Google Maps? Program itu pasti meminta kita untuk putar balik, melakukan u-turn. Dan itu terjadi berkali-kali sampai kita putar balik atau GMaps menemukan jalan lain untuk mencapai tujuan.  Peringatan u-turn ini juga terjadi pada kita. Saat kita melakukan maksiat dan menjauh dari Allah, hati kita akan bilang "STOP" atau mengajak kita kembali. Maka, kembalinya kita sebenarnya tergantung pada diri kita sendiri, apakah kita mendengarkan suara hati untuk kembali ke jalan-Nya, atau kita tetap berjalan menuju kemaksiatan dan menjauh dari-Nya.  Allah memang Maha Baik. Ia menutup semua aib dan membuatnya tidak terlihat. Isi hati kita, hanya kita dan Allah yang tahu. Saya merasa, akhir-akhir ini saya menjauh dari-Nya. Apakah video itu adalah peringatan u-turn? Saya tidak tah...

Semalam Sebelumnya : Tenang

Sebagai orang yang cenderung rusuh dan ingin serba cepat, saya tidak pernah mengira bahwa saya senang dengan ketenangan. Bukan ketenangan dengan bermeditasi, tapi ketenangan ketika saya berenang.  Saya baru bisa berenang beberapa bulan yang lalu. Walaupun belum dengan posisi gaya katak yang sempurna tapi lumayan lah untuk saya yang baru bisa.  Yang saya suka dari berenang adalah dimana dunia terasa sangat sunyi ketika kepala saya masuk ke air. Saya hanya bisa dengar suara gelembung udara yang saya keluarkan dari hidung. Ketika kepala saya terangkat, dunia kembali ramai. Suara orang bicara, bunyi kecipak kecipuk air, suara tawa, banyak.. tapi itu terdengar hanya beberapa detik saja.  Kemarin pertama kalinya saya merasa mengapung tanpa usaha berlebihan di dalam air. Itu membuat saya bisa melamun selama berenang. Tidak pusing memikirkan posisi kaki yang sepertinya tidak terkekuk sempurna. Tidak khawatir apakah nafas saya akan habis untuk kayuhan berikutnya. Tenang, santai, d...

Semalam Sebelumnya : Kemajuan

Setelah lebih dari tiga bulan belajar bermain tennis, akhirnya malam tadi saya dapat pujian dari coach karena serve yang bagus. Bagus disini tidak 100% sempurna ya. Tapi saya mulai dapat feel 'menampar' bola yang pas. Yang awalnya berbunyi, "klepluk". Sekarang berbunyi, "pak".  Kemajuan sekecil itu butuh berbulan-bulan munculnya. Selain itu, volley dan backhand saya juga sudah lumayan tidak terlalu memalukan untuk dilihat. Haha. Masih harus terus belajar. Kemarin juga saya coba mengatur langkah agar tidak rusuh dan buru-buru. Ternyata, itu menurunkan Heart Rate ya? Baru tau. Tapi memang sulit sekali untuk fokus tenang dan menikmati permainan.  Kemajuan yang saya harapkan tapi belum muncul itu kebiasaan saya mengutuk. Grunting. Setiap melakukan kesalahan, saya mengutuk diri saya sendiri. Sampai saya sadar peserta coaching yang lain tidak melakukan itu. Apakah kutukan-kutukan tadi emosi yang saya pendam? Ataukah memang saya punya banyak makian dan terlalu kera...

Semalam Sebelumnya : Merasa Direndahkan

Kenapa ya akhir-akhir ini saya seringkali merasa 'diserang'? Entah itu oleh rekan kerja maupun keluarga. Atau memang sebenarnya ada yang berniat menyerang? Pagi itu saya menyiapkan progran penyambutan atau onboarding untuk karyawan baru. Orangnya bukan di Indonesia, jadi saya perlu orang di negara tersebut untuk bantu saya. Tiba-tiba salah satu karyawan di negara tersebut kontak saya. Menanyakan akses email, laptop dll. Sebuah persiapan wajar untuk karyawan baru, bukan? Ndilalah, tiba-tiba bosnya chat dan telepon saya, "Stop ngobrol dan minta si X melakukan sesuatu. Dia harus ngerjain kerjaan yang saya minta. Itu penting." Wow. Saya shock. Bukannya dia harusnya bantu juga untuk proses onboarding orang ini ya? Lalu saya tanya, "Siapa yang bisa bantu selain dia?" Dia jawab, "Kasih aja nama orang yang kamu perlukan untuk anak baru ini. Nanti dia cari sendiri." Lah? Ini saya yang bodoh atau bosnya yang bodo amat sih? Heran.  Saya MARAH. Benar-benar mar...

Sehari Sebelumnya : Mengunyah Seperti Sapi

Kamu tahu kan kalau sapi makan rumput bisa berjam-jam lamanya? Aktivitas sesimpel mengunyah bagi sapi tidak sesimpel itu. Ia mengunyah, menelan, lalu mengunyahnya lagi. Sedikit demi sedikit. Hingga semua makanan yang masuk menjadi lembut.  Caraku memproses rasa malu, rasa kesal dan rasa marah sepertinya mirip dengan cara mengunyahnya sapi. Rasa itu muncul, saya coba hadapi, menghilang sejenak lalu muncul lagi. Sepertinya saya kesulitan untuk menerima dan memaafkan. Terutama menerima dan memaafkan diri sendiri.  Suatu hari ketika kuliah, saya menjawab asal pertanyaan dosen yang ternyata didengar beliau langsung. Dosen saya mengulang dan membantah celetukan saya dengan serius. Membuat banyak orang menertawakan saya. Rasa malu itu bertahan beberapa semester.  Suatu hari lainnya ketika SMP, saya ikut pramuka. Para pembina sedang mengobrol lalu saya ikut menimpali, sok asik sendiri. Orang-orang di sekitar melihat saya risih. Lalu saya terdiam, memendam malu yang mendalam....

Sehari Sebelumnya

​Malam menunjukkan jam 01.04 pagi. Saya tidak bisa tidur walaupun sudah menguap sejak jam tujuh malam. Entah karena alasan apa saya tidak bisa tidur. Yang jelas, tiba-tiba saya terpikir satu proyek yang ingin saya coba yaitu rutin menulis kembali.  Blog ini sudah ada sejak lama, tapi isinya makin renggang karena saya tidak pernah menyempatkan waktu lagi untuk mengisinya. Jadi, dengan tiba-tiba saya memutuskan akan menulis setiap harinya. Tujuannya sederhana, ingin mendokumentasikan hal-hal yang saya alami dari perspektif saya pribadi. Jika rutin, mungkin blog ini bisa jadi kumpulan cerita kehidupan yang pernah terjadi. Selain itu, ini juga bisa jadi kenang-kenangan yang bisa dibaca kembali jika saya sudah menua dan pergi.  Saya sudah punya judul untuk proyek ini. Namanya Sehari Sebelumnya. Sebelum apa? Ya sebelum tulisannya jadi. Hehe. Apakah ini akan seru? Saya juga tidak tahu. Apakah ini akan berlangsung lama? Saya usahakan. 

Kalau Bisa Memilih

Kalau bisa memilih, gue akan memutuskan bekerja di Jakarta sejak lulus kuliah. Kerja di Bandung itu sangat menyenangkan, apalagi gue kerja di perusahaan Eropa. Tapi kenaikan penghasilan cukup bikin mengelus dada. Apalagi jika angka gaji pertama terlalu murah dan terlalu lama di perusahaan, ah.. susah sekali nembus dua digit. Perlu lebih dari 7 tahun akhirnya bisa sampai ke angka sepuluh juta rupiah pertama setiap bulannya. Gue bersyukur dengan apapun yang sudah gue lewati dan dapatkan. Namun sepertinya masa tunggu dapat gaji dua digit mungkin akan lebih pendek jika gue kerja langsung di ibukota. Kalau bisa memilih, gue akan bekerja di perusahaan besar. Gue baru tahu ternyata untuk BUMN dan perusahaan besar, bank bisa kasih marjin yang lebih rendah daripada perusahaan kecil. Biasanya, beberapa bank besar punya cabang di kantor-kantor BUMN dan anak-anak perusahaannya. Jika grup BUMNnya besar, mereka secara rutin punya program promo marjin. Bank-bank juga punya minimum karyawan dalam sebu...

I'm back! (Again)

Image
In the midst of digitalization and visual contents, I am back to my old but lovely blog again. I miss on how I can define and tell something in a structured manner. Someday, I blamed my brain fog because of Covid-19 that was attacked me twice during the pandemic period. However, deep in my heart, I realized that I never write down anything for years and it made my brain rusty.  For the sake of training and increasing my ability to articulate and define something better, especially at work, I promise to my self to be committed in making my writing habits alive. Let's see on how I can make it as a habit again.  Just an update about my life. Now, I am moving to suburb area close to the capital. Living here peacefully with my husband (if we don't fight). I continue my study and now I am in my last semester. Busy with my final project (wish me luck!). I am ready to work again after 1.5 months of 'sabbatical period' in new industry with new people and bigger responsibility. S...

Ketabahan

Image
Hari ini saya membaca bab ke-12 dari buku Angela Duckworth yang berjudul Grit, Kekuatan Passion + Kegigihan. Menurutnya, ketabahan seseorang bisa ditumbuhkan dari luar. Salah satunya adalah dengan mengikuti ekstrakurikuler secara konsisten selama lebih dari satu tahun. Mengapa? karena dengan mengikuti ekstrakurikuler, mereka dihadapkan dan dilatih untuk tetap bertahan walaupun kondisi sulit. Misalnya mereka ikut ekstrakurikuler balet. Balet akan memberikan hal-hal mudah yang menyenangkan seperti bertemu teman baru, guru yang baik hati dan belajar gerakan indah, tapi juga memberikan tekanan dan tuntutan untuk melakukan yang terbaik seperti melakukan gerakan dengan benar, sesuai irama, kompak dengan gerakan rekan-rekan lainnya. Kondisi seperti itu mendorong dan menumbuhkan Grit atau ketabahan.  Ia juga menyampaikan bahwa banyaknya aktivitas ekstrakurikuler ini sangat penting apalagi jika seseorang melakukannya selama lebih dari satu tahun dan lebih dari satu aktivitas. Karena dengan ...

Porn Poverty

Image
Menjual kemiskinan seringkali dinisbahkan pada mereka yang menggunakan kemiskinan untuk mendapatkan keuntungan. Misalnya, acara bagi-bagi uang yang diupload di story Instagram lalu viral. Bantu orang aja masa harus pamer sih. Begitu pikir mereka.  Padahal, bisa jadi aktivitas kebaikan yang disiarkan itu ditujukan untuk menginspirasi. Untuk membuka jalan bagi para dermawan menyalurkan harta dengan penyaluran dana yang transparan. Untuk memberikan secercah harapan pada mereka yang membutuhkan.  Hari ini saya dengar (sebenarnya nonton Youtube sih) channel Helmy Yahya yang berbicara tentang suka duka ia membuat program membantu orang-orang miskin seperti Bedah Rumah, Uang Kaget, dll. Banyak sekali orang yang mengecam karena merasa ia sedang melakukan porn poverty. Padahal intensi ataupun tujuan awalnya adalah untuk menginspirasi orang lain melakukan hal yang sama. Uangnya pun bukan uang Helmy, tetapi uang sponsor. Suatu hari, ada seorang pejabat yang menyumbangkan hartanya melalui...

Lebih Dari Seperempat Abad

Image
  Manusia selalu berkembang setiap harinya. Dari sisi fisik, kognisi dan juga emosi. Saya bertanya-tanya, apa yang dulu mendorong saya ketika bayi untuk belajar berjalan? Apa yang membuat saya bisa berlari? Dorongan dari orang sekitar? Ambisi ingin menyerupai mereka? Apa?  Ketika usia sudah lebih dari seperempat abad, rasa ingin berkembang manusia seringkali terbatas pada apa nilai ekonomi yang bisa ia dapatkan dari perubahan dan perkembangan. Kalau tidak ada uangnya, lebih baik diam. Kalau tidak well rewarding , lebih baik punya performa biasa-biasa saja. Hingga kini mulai ramai gerakan quite quitting, alias diam-diam berhenti. Tidak ngoyo untuk menyelesaikan sesuatu karena mereka merasa walaupun kesehatan mental mereka terganggu karena banyaknya tuntutan kerja, mereka tidak akan dapat balasan yang setimpal. Kenapa seperti itu ya? Padahal saya merasa menyelesaikan tugas dengan baik dan benar itu adalah cara agar kita bisa belajar dan berkembang. Walaupun pada akhirnya uang ya...

Masa Peralihan Akbar

Image
Semakin bertambah umur, semakin abstrak cara mengukur pencapaian kita. Dulu, apa sih yang menjadi indikator kita mencapai sesuatu? Nilai rapor. Mudah sekali dijawab, bukan? Orang tua dengan bangganya saling pamer rangking berapa anaknya di tahun semester ini. Tapi penilaian akan pentingnya nilai berhenti ketika kita lulus kuliah. Hasil nilai dari pendidikan terakhir kita ini seringkali menjadi gerbang pembuka kesempatan atau batu besar penghalang terhadap kesempatan baru. Jika beruntung, kita dapat pekerjaan yang bagus. Jika tidak, ya kita harus luntang lantung dan lebih jeli lagi mencari serta mengambil kesempatan.  Masa bekerja dan berkeluarga bagi saya adalah masa peralihan akbar. Lebih banyak lagi hal yang dibandingkan satu sama lain. Oleh diri kita atau diri orang lain. Bekerja dimana, berapa gajinya, apa yang bisa dibeli (tak peduli itu hutang atau cash), berapa anaknya bahkan anaknya bisa apa saja juga dibanding-bandingkan. Padahal mengurusi hidup sendiri saja sudah menyusah...

Membuat VISA Bisnis Swiss 2022

Alhamdulillah saya berkesempatan pergi ke luar negeri lagi setelah pandemi. Kali ini, perjalanan bisnis ke Swiss selama 7 hari! Gila! Gak kebayang saya bakalan bisa ke Swiss. Negara yang terkenal mahal dan keju serta cokelatnya itu!!! Saking excitednya, saya sampai siapkan berkas-berkas secepat kilat yang saya bisa dan itu menguntungkan karena di saat masa pandemi ini slot kosong untuk biometrik dan interview di VSF cenderung terbatas.  Dokumen yang diperlukan Paspor yang masih berlaku min 6 bulan sebelum keberangkatan (Selama proses aplikasi visa paspor tidak dapat dipinjam) Paspor lama (Bila ada) Formulir aplikasi (bisa diakses disini ) Foto berwarna terbaru ukuran 3,5 x 4,5 cm sebanyak 2 lembar dengan latar belakang putih (fokus wajah 70%, hasil cetak digital tidak boleh hasil scan atau editan). Di depan kantor VFS ada jasa foto VISA. Surat sponsor asli dari tempat bekerja yang menjelaskan, lama bekerja, gaji, jabatan,  tujuan perjalanan dan menyatakan bahwa kita akan kemb...

My 1st Award

Image
Suatu pagi di hari Minggu pertengahan bulan Juli 2022, saya dapat email yang menginformasikan bahwa saya menang salah satu award paling prestisius di perusahaan. Saya menang award ini bukan karena sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan, tapi karena kontribusi terhadap masyarakat. Terdengar hebat ya? hahaha. Padahal kontribusinya cuma karena saya kirim surat ke embassy untuk dapat buku gratis di perpustakaan yang dulu saya dirikan untuk anak-anak sekitar rumah, karena saya pernah ngelakuin campaign anti bullying bareng teman-teman pas awal kerja dulu, karena saya pernah ngajar probono secara online ketika pandemi. Tapi ternyata hal-hal tersebut bisa membuat saya pergi ke Swiss bareng suami! Mantap bukan, bun?  Ketika orang-orang merasa bangga karena mendapatkan award tersebut, saya malah minder karena saya rasa yang saya lakukan ya biasa saja. Katanya saya diajukan 2 kali untuk menang award ini. Sampai akhirnya komite di Asia Pasifik menyetujui dan disetujui juga oleh komite global...

Belajar Jualan

Image
Wah, udah lama banget ya gak corat coret disini. Kangen juga.  Sebagaimana judulnya, saya mau cerita tentang bagaimana akhirnya saya berjualan kembali. Ihiw.  Sedari kecil, saya memang diajarkan ibu untuk berdagang. Mulai dari jualan cokelat, kerupuk, gambar fotokopian, mukena, kerudung sampai sewa komik Doraemon dan Dragon Ball. Tapi selalu bangkrut karena uangnya saya pakai dan tidak ada lagi yang beli. Sebagai orang yang pemalu #ehem saya agak sulit untuk menawarkan barang dagangan.  Agustus 2021, saya kena Covid. Selama karantina mandiri di rumah, saya bosan. Akhirnya saya buka YouTube eh keluar video tentang import dari China. Entah kenapa daya tertarik karena adik ipar juga jualan alat masak import.  Saya coba buat daftar produk yang mungkin masih laris manis di pasaran. Mulai dari storage dari Korsel sampai masker. Absurd memang. Haha.  Tapi saya baru tahu ternyata kalau kita mau import masker, ya harus ada izin dari BPNB dan dari Kemenkes. Yah, males lah...

Hanya Teori

Image
Dulu, orang hebat itu adalah orang-orang yang mengeluarkan teori. Teori psikoanalisa oleh Sigmund Freud, teori relativitas dari Einstein dan teori-teori lainnya. Makin kesini, mengutarakan teori dianggap sampah. Padahal membuat teori itu tidak mudah. Bayangkan saja proses berpikir dimana kita bisa sampai kepada kesimpulan lalu berasumsi dan membuat teori. Teori ini nantinya akan divalidasi melalui penelitian dan juga berbagai pembuktian. Belum lagi ketika teori baru itu bertolak belakang dengan teori lama yang banyak pendukungnya. Ah, membayangkannya saja sudah rumit, apalagi membuatnya.  Sekarang, yang penting orang membuat karya nyata. Karya nyata yang biasanya berbentuk benda. Padahal teori dan membuat benda maupun karya sama-sama sulitnya. Sama-sama membutuhkan waktu yang lama. Sama-sama membutuhkan kita untuk berpikir secara mendalam dan menyusun bukti-bukti secara perlahan.  Semakin lama orang akan semakin mudah mengungkapkan pendapatnya. Dimana salah dan benar selalu ad...

Cita-cita

Image
Dulu saat masih kecil sangat mudah menyebutkan cita-cita. Tidak pernah ada beban apa yang diucapkan harus sesuai dengan kenyataan. Menyebutkan cita-cita seperti menyebutkan makanan kesukaan. Mudah, lugas dan seringkali lebih dari satu. Saat kecil rasanya mungkin menjadi apapun. Orang tua cenderung selalu mendukung dan mengamini apa yang diucapkan. Bisa menyebutkan "ingin menjadi dokter" saja sudah membuat orang tua bangga.  Tak pernah ada waktu untuk memikirkan dengan matang apa yang bisa kita sebut sebagai cita-cita. Hidup berjalan begitu saja. Ada yang dipaksa untuk menjadi profesi tertentu, ada yang berjalan mengikuti alur yang membawanya, ada juga yang kebingungan dan hilang arah, entah mau jadi apa kedepannya.  Cita-cita kita seringkali merupakan manifestasi dari cita-cita orang tua, begitupun orang tua kita, banyak dari  mereka yang hidup untuk menghidupkan cita-cita dari kakek nenek kita. Ada yang sukarela mengikuti, ada juga yang memberontak dan melawan demi mengi...

Drama VISA Schengen : Telat Masuk = Telat Datang = Pengajuan VISA BATAL

Image
Tahun 2019, saya kembali dapat kesempatan untuk ikut training di Aalst, Belgia. Disana ada kantor pusat untuk salah satu unit bisnis perusahaan tempat saya bekerja. Agar bisa ikut dalam pelatihan tersebut, saya harus mengurus VISA Schengen di kedutaan Belanda, karena tidak ada kedutaan Belgia di Indonesia. Ada banyak perbedaan dibandingkan dengan pengurusan VISA di tahun 2014. Di tahun 2014, saya harus datang ke kedutaan besar Belanda, sedangkan di tahun 2020, saya cukup datang ke kantor VFS di mal Kuningan City. Beberapa berkas juga berbeda. Kini, saya diminta untuk mempersiapkan terjemahan kartu keluarga dan KTP dalam Bahasa Inggris. Dulu gak ada syarat itu seingat saya. Saya juga diminta untuk menyediakan fotokopi paspor full, seingat saya dulu tidak perlu. Tapi entahlah, sudah 5 tahun berlalu saya jadi kurang ingat juga bagaimana pastinya.  Tahapan pertama,  baiknya kamu mengunjungi lama VFS di link ini . Disana kamu harus mengisi formulir pengajuan visa. Jika sudah, akan ...

Berkembang

Image
Di awal pertama kali bekerja, saya selalu berpikir bahwa berkembang itu hanya tentang skill. Bertambahnya kemampuan, koneksi dan keterampilan dalam melakukan sesuatu. Suatu hari saya dikirim ke luar negeri untuk training. Ketika saya pulang, rasanya cukup terkejut kalau banyak orang beranggapan gaji saya akan naik drastis. Padahal, bertambahnya skill, belum tentu bisa menambah pemasukan (walaupun idealnya demikian). Hidup semakin lama semakin sulit, adik saya bertambah lagi yang kuliah. Jadi penghasilan yang disisihkan untuk keluarga lebih banyak lagi, sedangkan pemasukan masih segitu-gitu saja. Lalu saya bertemu dengan beberapa rekan kerja yang setiap harinya selalu mengeluhkan tentang gaji. Sialnya, saya terkontaminasi. Setiap hari jadi merutuk. Setiap hari serasa semakin membusuk. Hingga suatu saat, saya merasa tidak nyaman dengan diri saya sendiri. What's wrong with me? Rasanya ada yang salah dari apa yang saya pikirkan tentang berkembang dan gaji. Saya rasa saya bukan p...

Siklus Rekrutmen & Seleksi

Image
Sebagai seorang Rekruter, seringkali keluarga saya bingung dengan pekerjaan yang saya lakukan. "Teh, ai kerjaan teteh teh apa?" tanya adik saya. "Ya, banyak," jawab saya singkat. "Iya ngapain aja itu teh?" tanyanya lagi. "Nyeleksi orang yang mau masuk kerja salah satunya," jawab saya berharap tak ada pertanyaan lagi. "Wah, enak dong. Kan yang mau kerja banyak. Tinggal pilih. Udah deh selesai kerjaannya," komentarnya. Matamu enak. Buat kamu-kamu yang tidak pernah terbayang kerjaan Rekruter, mari sini saya ceritakan sedikit. Siklus rekrutmen dimulai jika ada permintaan atau kebutuhan penambahan orang di perusahaan. Bisa saja penambahan orang, bisa juga penggantian. Tidak semua orang yang meminta penambahan pekerja itu benar-benar tahu apa yang mereka inginkan. "Ki, cari yang pinter ya," pinta seorang atasan. "Pinter itu definisinya gimana, bu?" tanya saya. "Yang cerdas gitu. Ada inisiatifnya. Gak di...